
Sampai di Haagen Adriyan membukakan pintu untuk Nana dan mengulurkan tangannya yang kekar. Nana menerima nya kemudian berjalan memasuki tempat tersebut..
"Kamu duduk di bawah sana aku ganti baju dulu.." menunjukkan sebuah tempat khusus VIP. Nana mengangguk tanda mengerti.
Nana duduk di kursi yang agak dekat dari pintu masuk. terdengar sayup sayup suara wanita memanggil namanya. "Nana......."
Nana mengarahkan wajahnya ke suara tersebut terlihat seorang wanita yang melambai kan tangan nya ke arah Nana..
"Tania..." teriak Nana namun tak disangka-sangka Aldan berada di belakang Tania mereka sempat bertatap mata namun Aldan mengalihkan pandangannya dan pergi ke tempat yang sama dengan Adriyan. Nana tak menghiraukan dia hanya berfokus kepada Tania.
Tania berjalan mendekat kemudian duduk disampingnya.. "Kok kamu bisa ada di sini Na? ishhhh sebel." ucap Tania memukul pelan pundak Nana. Nana tersenyum senang "Aku dapet tiket dari kak Adriyan terus disuruh duduk disini.."
Tania mengangguk "Kamu tau gak harga satu tiket VIP disini berapa?" ucap Tania menatap Nana "Yang pasti mahal. paling 2 jutaan" ucap Nana dengan santai "Dikalikan 5 Nana dari kursi leguler Nana." sontak Nana kaget. kursi yang didudukinya lebih mahal dari harga ponsel miliknya.
"Ka-kamu..." tanya Nana dengan alis bertaut "Aku liat Aldan tanding.." ucap Tania membuat Nana mendelik. "Iya, Aldan berada di tim yang sama dengan Adriyan"
Nana terdiam mengapa dia tidak pernah tahu kalau Aldan adalah anak basket.. iyaaa benar juga. Nana tidak pernah kesana dia lebih suka jajan di kantin dengan Tania. tapi kenapa Tania? kenapa bukan Nana..
suara teriakan memecah suasana stadion banyak penggemar yang tergila gila dengan ketampanan Aldan dan Adriyan.. mereka terlihat keren.
tapi Nana hanya fokus dengan pria yang berada di sebelah kiri dari hadapannya yaitu Aldan.
Nana terdiam dengan tatapan yang berubah. kini wajahnya hanya menatap Aldan dengan tatapan datar, kosong tak bermakna..
"Sepertinya kamu dekat sekali dengan Aldan.." ucap Nana masih menatap Aldan.. Tania tersenyum ikut memalingkan pandangannya kepada Aldan.. "Iya... setiap Aldan punya masalah Aldan pasti selalu cerita ke aku" ucap Tania dengan santai nya.
setelah pertandingan sampai di babak terakhir Aldan terjatuh kemudian kaki nya di perkirakan patah.. entah kenapa perasaan Nana begitu sakit.. sangat sakit ketika melihat Aldan menjerit...
"Heiiii itu pelanggaran.." teriak Tania membuat Nana tersadar dari lamunannya.. dan memalingkan wajahnya kepada Tania. dilihatnya Tania dengan ekspresi marah. terlihat kebencian di matanya. yang tampak sekali Tania sangat perhatian dengan Aldan.
ucap Nana dalam hati dengan wajah tertunduk dan air mata yang sudah membasahi pipinya.. kaki Aldan tengah di periksa oleh tim kesehatan. walaupun tim Aldan menang namun Aldan harus berjalan menggunakan tongkat.
Adriyan memantulkan bola sembari menatap ke arah Nana.. dengan tatapan dingin dan datar. Adriyan sudah menyadari Nana memangis bukan karena nya. tapi karena Aldan.
pertandingan selesai, Ramai orang keluar dari Haagen. Tania dan Nana turun ke tempat dimana pemain basket berkumpul. Tania memberikan ucapan selamat kepada yang lain dan menuntun Aldan berjalan. Nana hanya menatap mereka dengan tatapan datar.
"Ayooo.. kita siap siap buat pulang..” ucap Ardiyan merangkul Nana.. Nana tersenyum lembut mencoba melupakan Aldan.. "Oh iya tadi kulihat kamu nangis.. nangisin aku menang ya.. karena terharu?" tanya Adriyan.
Nana mengangguk dan tersenyum. dia harus berbohong kepada Adriyan bahwa itu semua karena Aldan..
Adriyan berkemas memberikan diri.. kemudian pergi ke tempat parkiran bersama Nana.. diletakkan nya beberapa barangnya ke bagasi mobil. Nana hendak masuk ke mobil namun di tahan oleh Adriyan..
"Tunggu.." ucap Adriyan kemudian tubuhnya tepat berada di depan Nana.. "K-kenapa kak?" tanya Nana jantung nya berdebar tak pernah dia sedekat ini dengan Adriyan.. wajahnya hanya berjarak beberapa centimeter dari wajah nya..
"Nana.. sebenarnya... dari awal ketemu..." ucap Adriyan memandang wajah Nana.. Nana menatap matanya yang agak kebiruan.."Aku suka kamu Nana...." ucapan Adriyan sontak membuat Nana terkejut namun tidak bisa berkata apa-apa..
"Kamu mau gak jadi pacar aku?" ucap Adriyan memberikan sebuket bunga mawar yang sudah dipersiapkan nya dari tadi.
Nana terdiam tak berkata sepatah kata pun.. "Aku jatuh cinta Nana. aku cinta sama kamu sejak pandangan pertama.." ucap Adriyan meyakinkan.. "Aku gak mau memaksa kan kamu. kalo kamu gak mau terima aku juga gak bakal maksa" ucap Adriyan dengan senyuman yang hangat..
yang difikirkan Nana hanyalah Aldan.. Tapi mungkin Aldan sudah ada Tania.. dan mungkin Nana sudah tidak mempunyai kesempatan untuk bersama Aldan seperti dulu lagi.. yang ada dihadapannya hanyalah Adriyan.. mungkin dengan Nana menerima Adriyan. Aldan akan leluasa bersama Tania.
"Nana...." ucap Adriyan memegang dagu Nana.. "Iya.. aku mau jadi pacar Kaka.." ucap Nana kemudia Adriyan memberikan sebuket bunga yang dipeganginya..
"Sekarang kamu panggil aku Adriyan aja ya" ucap Adriyan sambil mengecup kening Nana.