LDR

LDR
sifat yang begitu dingin



Selang setengah jam sampailah di rumah Nana, Nana yang sedari tadi merasa bosan di sepanjang perjalanan dengan Aldan yang tidak berkata sepatah kata pun.


Nana memberikan helm yang tadi dipinjami Aldan "Thanks.. mau mampir dulu?" Tanya Nana namun di balas sebuah gelengan kepala oleh Aldan "Gak usah, Gue buru-buru".


Aldan kembali menyalakan mesin motor nya dan meninggalkan Nana, entah apa yang ada di fikiran Aldan membuat Nana bertanya-tanya "kalo buru-buru kenapa harus anterin aku sampai ke rumah sih?" Ucap Nana sambil menutup gerbang rumahnya kembali.


Nana memasuki rumah menyusuri ruangan dilihatnya mama sedang menonton tv.


Nana Salim seperti biasa nya dengan wajah agak tertekuk "Anak mama kenapa sih?.. bete gitu keliatannya.." tanya mama kini fokus ke putrinya.


Nana mendesah sebenarnya agak malas untuk menceritakan nya "Ma.. tadi ada cowok yang anterin aku pulang.. tapi dia kaya gak ikhlas gitu.." keluh Nana..


Vira tersenyum penasaran "gak ikhlas gimana?" Nana meneguk air di atas meja kemudian bersandar di sofa samping mama nya "masa di sepanjang perjalanan dia diem aja.. kan gak jelas" Nana semakin tidak mood..


Kali ini Vira tertawa cekikikan melihat putrinya yang sudah tumbuh remaja. "Nana... Dulu papa mu juga seperti itu waktu awal bertemu dengan mama.." membayangkan masa lalu yang agak memalukan untuk nya..


Vira mengusap-usap rambut putrinya dengan lembut "biarin aja laahhh,.. nanti kalo udah lama ketemu juga akrab dengan sendirinya..” perkataan Vira membuat Nana semakin bertanya tanya.. jelas dirinya tidak mengerti.. "udah ahh.. Nana mau ke kamar.."


Sampai di kamar Nana langsung merobohkan tubuhnya ke atas kasur melihat Langit-langit kamarnya sembari memikirkan kejadian barusan..


PING!!


Suara ponsel Nana berbunyi dia mengambil ponsel yang ada di kantong nya tertera pesan dari kakak kelas nya Ridwan.


“Na, besok acara pelantikan OSIS sekalian ketemu sama ketua OSIS nya.. gue takutnya agak lama sih, daripada nanti lu balik kesorean lu izin dulu sama bokap atau nyokap lu ya.." pesan dari Ridwan Nana sebenarnya agak malas membalasnya karena sifat Aldan tadi.


Satu pelajaran yang Nana ambil untuk hari ini.


Jangan lihat buku dari sampulnya saja tapi juga isinya.


 



 


Sampai di sekolah Nana tidak melihat Aldan padahal bel hampir saja berbunyi, Nana melihat sahabatnya yang sedang menyontek Pr untuk nanti dibahas, namun fikiran nya selalu tertuju pada Aldan.


Tania menghentikan pekerjaannya menutup buku kemudian merenggangkan otot-otot tangan nya “capek nyaa... banyak banget.."


Nana menautkan alis nya “siapa suruh ngerjain di kelas.. namanya juga PR 'Pekerjaan Rumah' ini malah ngerjain di sekolah" Tania tersenyum, Nana menorehkan wajah nya kebelakang.. tempat duduk itu pun masih belum ada penghuninya.


kembali dia melihat Tania “Tan, Aldan belum datang ya?.. Tania yang mendengar perkataan Nana menorehkan wajah nya ke tempat yang di tanyakan “oh iya ya.. telat kali.." bersamaan dengan jawaban Tania pintu di ujung kelas terbuka.


dilihatnya pria menyandang Ransel hitam di bahu sebelah kiri, pria yang agak tinggi dengan badan yang sangat ideal mematung di depan pintu yang membuat para gadis di kelas semakin tergila-gila oleh nya kecuali Nana..


Tania tersenyum “itu Aldan.." Aldan segera duduk di tempat nya meletakkan ransel miliknya di atas meja dan menorehkan pandangan nya ke jendela..


tapi entah kenapa.. Nana lega melihat Aldan tidak terlambat Seperti biasanya..