
Hujan mulai menetes membuat Nana dan Aldan berfikiran yang sama. Aldan membelokkan motornya untuk mencari tempat berteduh.
"Kita mau tunggu sampe ujan berhenti?"tanya Nana Ragu. sementara Aldan sibuk mengeluarkan jas hujan di jok nya.
"Pake ini" ucap Aldan "Lalu kamu pake apa?" Aldan melirik Nana "Kita kerumah gua dulu.." Ucap Aldan dengan tatapan malas.
"Eiiiiiii kamu mau apa??" teriak Nana mengeraskan suaranya karena hujan "Lo tenang aja, papa lu tau dimana rumah gua. gua gak bakal apa apain Lo" ucap Aldan dengan alis bertaut kemudian Nana mengikuti perintah Aldan dan melanjutkan perjalanan nya kembali.
sampai di sebuah rumah yang cukup besar Nana turun kemudian Aldan memberikan kunci kepada Nana. Nana membuka gerbang tersebut kemudian Aldan masuk ke garasi sementara Nana langsung berjalan ke depan pintu.
Aldan berjalan kemudian membuka pintu rumahnya, terlihat sangat tertata rapih. Nana mengedipkan mata disana terdapat 3 foto yang pertama diyakininya adalah foto nya Violet kecil, Nana kenal sekali itu di Wina karena Nana pernah kesana waktu liburan.
yang kedua adalah foto sekeluarga disana terdapat foto Aldan, Violet dan Tante Alisa tapi tidak terdapat sosok papa nya Aldan disana. apakah mereka tidak pernah foto keluarga.. namun rasa penasaran itu hilang ketika melihat foto Aldan kecil dengan tawa yang imut.
"Ternyata Aldan yang galak ini dulunya hanyalah anak kecil yang imut" guman Nana sambil tersenyum.. Nana melihat bangunan dibelakang foto Aldan.
"Ada apa?" tanya Aldan menghidangkan secangkir teh hangat ke meja "Apakah ini katredal di Paris?" tanya Nana "Bukan, itu di duomo Milan" ucap Aldan singkat. pantas saja bangunan nya agak mirip namun nuansa nya berbeda.
"Kamu lahir Disana?" tanya Nana ragu "Iya... itulah mengapa nama gua 'Aldantha Milano Putra'" ucap Aldan "berarti Violet terlahir di Wina? namanya kan 'Violetha Vienna Putri' plesetan dari nama Winna" Aldan mengangguk pelan memberi jawaban iya. ketika Nana sibuk di ruang tamu. Aldan beralih ke dapur.
"Lo mau makan apa?" terdengar suara Aldan agak sedikit jauh. kemudian Nana menyusuri tempat tersebut.
Nana sontak terpukau melihat Aldan yang menggunakan celemek kemudian Nana mendekati Aldan "Kamu bisa masak?" tanya Nana "Cuma bisa masak yang simpel aja. kamu mau makan apa?" tanya Aldan "Apa aja deh" ucap Nana
Aldan melihat isi kulkas terdapat ayam, tepung, keju, telur dan beberapa bumbu khas Milan. "Gua buatin Lapicata Milanense ya?" tanya Aldan. "Kamu sedang bicara menggunakan bahasa planet mana Tuh.?" tanya Nana.
"Dasar norak, itu kaya ayam katsu cuma pake parutan keju." ucap Aldan mengambil beberapa ayam fillet "Aku bantu ya?" tanya Nana. Aldan mengangguk "Tolong bantu parut keju nya."
sampai di ruang makan..
"Woaaaaaaaaa ini enak banget" ucap Nana dengan mata berkilauan. Aldan menyeruput teh hangat "Biasa aja.. oh nanti jam 7an papa lu jemput" Nana mengangguk masih menikmati masakan Aldan.. "nanti aku minta resep nya ya?." ucap Nana "Ehhh sisain gua dong.." ucap Aldan Nana menarik sisa makanan di tangannya. "kamu kan bisa buat lagi yang enak seperti ini.. pokoknya ini buat aku."
"Hmmm dasar" ucap Aldan menyerah
"Oh iya.." ucap Nana menghentikan makannya "Kapan Violet pulang?" tanya Nana.. "Gua belum tau.. mama belum ngasih kabar" ucap Aldan menatap Nana. "Aldan.. aku belum melihat papa mu.. dan tidak ada fotonya juga di rumah ini" ucap Nana.
lagi lagi semua menjadi hening.. Aldan terdiam, raut wajah nya menggambarkan kebencian namun di matanya tergerai kesedihan yang begitu mendalam..
"Aldan.. maaf kalo kamu gak suka aku bahas tentang...." ucap Nana lembut "gak papa. gak ada yang perlu di bahas." ucap Aldan memotong pembicaraan.
Ting tong.... Ting tong..
suara bel berbunyi Aldan keluar diikuti dengan Nana.. kemudian membuka pintu dilihatnya pria menggunakan jas dengan senyum yang lembut.
"Papah.." ucap Nana.
Aldan Salim "Mama kamu masih di rumah sakit Aldan?" tanya Rivan "Iya om. masih jagain Violet.." ucap Aldan lembut. "Kamu sudah makan?" tanya Rivan. "Sudah om." ucapan Aldan membuat Nana merasa bersalah karena semua masakannya Nana yang habis kan..
"kalau begitu kami pamit" ucap Rivan kemudian Aldan membungkuk memberi tanda hormat.."Makasih ya Dan..." ucap Nana yang di balas anggukan kecil oleh Aldan.
😴