LDR

LDR
Salah ku.



Nana menatap jalanan menuju ke tempat halte bus diliriknya sekeliling semuanya terasa sunyi, sampai akhirnya dia melihat seseorang sedang melamun di halte.


"Aldan..." Nana melihat Aldan yang tengah menatapnya, yang Nana fokuskan adalah seragam yang Aldan pakai, Nana mendekati Aldan kemudian duduk di sampingnya.


"Kamu kenapa?" Tanya Nana agak ragu, Aldan menatap Nana lama kemudian memeluk nya. "Ughhh.. aku tidak bisa bernafas Aldan.. kamu kenapa? ada masalah apa?" tanya Nana dalam pelukan Aldan yang erat.


"Gua.. gua cuma mau meluk lu doang" dengan tatapan penuh kesedihan, Nana melepas paksa pelukan Aldan, kini menatap nya, dengan air mata yang menyembul.


"Kamu gak perlu bohong lagi sama aku.. jangan bohong lagi sama aku..." Isak tangis Nana menjadi satu, Aldan mengerutkan dahinya mengerti apa yang diucapkan Nana.


"Gua.."


"Kamu dulu dekat sama aku, kenapa kamu gak mau kita Deket kaya dulu lagi" memegang erat tangan Nana. Aldan kembali memeluk Nana dengan erat, kini pelukannya terasa sangat hangat.


"Ini semua salah gua, gua ngerasa ini bukan waktu yang tepat.. jadi.."


"Ini waktu yang tepat Aldan" menatap wajah Aldan dengan lembut "Setidaknya kamu bisa bercerita, setidaknya aku bisa meringankan beban kamu atau kita bisa coba cari jalan keluarnya.." ucapan Nana membuat Aldan tersenyum senang.


"lu masih sama seperti dulu Nana." ucapan Aldan membuat Nana mendelikan mata. "Memangnya aku bagaimana?" tanya Nana


"Ternyata lu masih belum inget masa lalu kita ya?" tanya Aldan menatap ke arah jalanan.


"Belum..," Menatap ke arah yang sama, Aldan menghembus kan nafas kemudian terdiam. "Tapi....." tegas Nana "Kita bisa membangun kembali ingatan aku.. kita ulang masa lalu kita." ucap Nana meyakinkan Aldan.


Aldan membawa Nana kesebuah tempat yang indah, banyak bunga bunga yang bermekaran, rasanya Nana tidak ingin Waktu ini berakhir dengan cepat.


"Aldan... bagus banget... aku suka.." teriak Nana kegirangan, namun Aldan hanya terdiam entah memikirkan apa.



"Papa mu?" tanya Nana membuat Aldan berubah ekspresi, wajahnya menjadi Tampa sedih, Nana mencoba membuat nya tenang. "Tentukan prioritas mu Aldan." Aldan menatap wajah Nana di tengah tengah pohon yang bermekaran "Violet adalah prioritas kamu.."


Nana menggenggam erat tangan Aldan "Dan selama itupun aku akan ada di samping kamu.." entah kenapa ucapan Nana membuat hati Aldan merasa tenang dan sangat nyaman, rasanya beban seberat itu dapat dilupakan sejenak.


"Terima kasih Nana.." Ucap Aldan masih dalam genggaman yang hangat.


🌸


Aldan menatap Nana begitupun juga Nana


"lu juga harus ingat dengan..."


"Kak Adriyan?" potong Nana membuat Aldan terdiam "Aldan.. aku percaya dengan kak Adriyan begitupun juga dengan kak Adriyan.." Aldan mengangguk tanda mengerti.


"Yaudah gua pulang ya.." ucap Aldan menyalakan mesin motor nya. Nana tersenyum "Titip salam untuk Violet dan Tante Alisa ya" sambil melambaikan tangan nya.


Nana menyusuri anak tangga dirumahnya yang agak sepi.


"Udah pulang?" Ucap Aksal membuat Nana menorehkan wajah nya ke bawah anak tangga "Kakak udah pulang? Papa sama Mama mana?" Tanya Nana mendekati Aksal.


"Papa sama Mama pergi ke acara kantor nya papa, mungkin nanti malam baru pulang.." ucapan Aksal membuat Nana membelakak kan mata "Perusahaan bersama milik papa dan om Ardan?" tanya Nana dengan nada meninggi, Aksal mengangguk.


Aksal menatap Nana dengan tatapan malas, kemudian mengusap kepala Nana dengan lembut "Nanti kalo lu makan nya kebanyakan, lu bisa gemuk" cibir Aksal.


"Sebenarnya.. kalo kita ikut, kita bisa tau siapa ahli waris perusahaan om Ardan selain Aldan dan Violet...."


Aldan kembali bermain game di ruang tamu, sementara Nana berjalan ke arah kamar.


setelah ia membersihkan diri, dilihatnya beberapa tugas yang agak menumpuk, dia menatap dengan tatapan malas, tugas bagaikan neraka jahanam ini akan ia kerjakan dengan kepala yang ingin pecah rasanya.


Tring!!!!


Nana melirik ponsel nya, kemudian menggeser layar ke arah kanan.


"Halo Aldan.. ada apa?" tanya Nana melihat lihat buku miliknya.


"gua mau tanya, Ada Pr gak buat besok?"


"Ada, Sejarah buku paket halaman 12, Fisika halaman 15 sampai 17 oh sama Matematika nanti aku kirimin soalnya." ucap Nana sambil mengerjakan soal.


"Oke, oh iya. besok lu berangkat sama Adriyan?"


"Enggak, Adriyan keluar kota hari ini. mungkin lusa baru pulang."


"Oh gitu.. besok mau bareng sama gua gak?".


“Loh, Tania bagaimana?"


"Dia ikut event besok, jadi besok dia izin."


"Ohhh.. besok aku tunggu di rumah ya"


"Iya.. nanti gua kabarin lagi."


"Oke."


suasana Hotel Harmoni sangat mewah dengan tatanan yang rapih disertai makanan yang mahal dan berkelas.


"Hadirin sekalian, mari kita sambut Tuan dan nyonya Salim berserta Ahli waris mereka" ucap sang Master ceremony dengan semangat nya.


Ardan bersama Natasya menaiki panggung bersama seorang pemuda. dengan bangga nya mereka melambai kan tangan ke seluruh tamu dan menyapa nya dengan lembut.


"Terima kasih atas kehadiran anda sekalian dalam acara kantor kami, semoga acara ini dapat berjalan dengan lancar.. dan kami juga Ingin menyampaikan bahwa wakil kami agak telat untuk hadir karena terhambat nya dalam perjalanan" terang Ardan dengan karismanya.


"Dan hari ini, saya akan memperkenalkan anak kami, sekaligus yang akan menjadi penerus perusahaan Takara kelak" sembari tersenyum senang.


pemuda tersebut mendekati Ardan dan memegang microfon yang di berikan oleh Master ceremony tadi.


"Halo semuanya.. perkenalkan nama saya Ahmad Adriyan Salim."