
Nana terbangun dari tidurnya, dilihatnya jam dinding di atas komputer menunjukkan pukul 10 malam, Nana menengadah menatap ponselnya yang telah mendapat balasan.
"Maaf Na, baru balas. aku baru aja pulang"
Nana mendelikan mata melihat pesan Tania
"Loh, bukannya mereka tadi pulang duluan ya?" ujar Nana sembari memberanikan diri menanyakan hal yang membuat nya gelisah sedari tadi.
"Kamu bukannya pulang duluan? kok baru swmpai rumah?, oh iya. tadi ada apa? kaya nya wajah kamu sama Aldan tegang banget."
Nana menatap layar ponselnya melihat Tania yang terus mengetik namun berhenti dan kembali mengetik.. terus menerus seperti itu sampai notifikasi dari nya muncul.
"Papa nya Aldan. om Ardan pulang kerumah Aldan.."
Nana sontak kaget, mata nya membelakak melihat balasan dari Tania.
"Terus? gimana?"
Nana merasakan khawatir dengan kabar yang di terimanya dari Tania.
"Besok aja ya aku ceritain.. cerita nya panjang na... besok Aldan gak masuk, tadi dia minta di buatin surat sakit.."
alis Nana bertaut, mungkinkah Aldan dan papa nya bertengkar? dia menghela nafas panjang, meringankan sesak di dadanya.
"*Aldan sakit?
"Enggak.. mungkin karena kejadian tadi.. besok aku ceritain oke, see you Nana*.."
Nana menundukkan kepalanya di tengah kegelapan kamarnya tanpa sadar entah kenapa air mata nya telah menetes.
💖
Kringgg!!! Kringg!!!!
"Nana, bangun Adriyan udah sampe.." teriak Vira yang memegangi 2 gelas susu hangat.
"Adriyan, ini di minum ya susunya.." meletakkan ke meja tamu.
"Ayo Yan" ucap Nana bergegas menurun anak tangga, Adriyan tersenyum menatap kekasihnya kemudian mengangguk.
"Ehhh susu nya diminum dulu.. buru buru banget kaya nya." ujar Vira sambil tersenyum.
Nana terdiam tak mungkin dia memberi tahu yang sebenarnya.
"Euhhh aku... aku... aku hari ini ada jadwal piket Ma.. jadinya harus berangkat lebih awal.." ucap Nana meraih tangan Adriyan kemudian melambaikan tangan nya ke Vira.
"Dadah mama..." ucap Nana keluar rumah
mobil milik Adriyan melaju agak pelan, tangan nya sibuk mengemudi namun matanya lebih sering melirik Nana, Adriyan mendesah kini tak mampu menahan rasa penasaran nya lagi.
"Aku gantiin temen aku, katanya hari ini dia gak bisa masuk ada acara keluarga." terang Nana, Adriyan mengangguk tanda mengerti.
"Ohh begitu.. oh iya, nanti pulangnya aku gak bisa nganterin kamu.. apa aku minta tolong sama Rendy aja buat nganterin kamu?"
"Ehhh gak usah... gak perlu.." tepis Nana "Aku bisa pulang sendiri atau nggak minta kak Aksal jemput kok."
sampai di sekolah Adriyan mengantar Nana sampai kedepan kelas Kemudian beranjak ke kelas nya.
Nana mencari cari sosok yang ingin di temui nya namun tak kunjung datang.
"Nana.. tumben agak pagian.." sosok itu pun muncul di ambang pintu, Nana mendekat dengan wajah bertanya tanya.
"Kita duduk dulu... gak enak kan cerita sambil berdiri begini.." ucap Tania melangkah kan kaki nya ke kursinya.
"Aldan Kenapa?" tanya Nana dengan raut wajahnya yang serius, Tania menundukan kepalanya. kemudian menatap Nana "Om Ardan ingin membawakan mereka ke Jepang, katanya Aldan akan di jadikan penerus perusahaan nya om Ardan" terang Tania
"Tapi Aldan menolak, mereka bertengkar di luar rumah, sementara aku jaga Violet. aku gak tau pasti tapi om Ardan pergi gitu aja."
Nana mendesah hati nya semakin sakit mendengar cerita dari Tania, sampai air mata menyembul di ujung matanya.
"Tania... ada yang ingin aku tanyakan ke kamu.." Nana menatap wajah Tania dengan yakin.
"Nama om Ardan itu Ahmad Ardan Salim bukan? kenapa namanya agak mirip dengan namanya kak Adriyan?" Tania membelakak kan matanya tak menyadari hal sedetail ini..
"Mungkin kahh... kak Adriyan dan Aldan.. tapi.."
"Tania..." ucap Nana melambai kan tangan nya ke wajah Tania mencoba menyadarkan nya dari lamunannya "I-Iya...." Tania Sontak kaget melihat Nana dengan wajah yang tegang.
"Ada apa?" sembari memegangi pundak Tania "Kak Adriyan, apa pernah bicara apa apa ke kamu, soal Aldan gak?" ujar Tania masih dalam raut wajahnya yang sama. Nana menggeleng "Kak Adriyan hanya membahas Aldan kalo dalam masalah-masalah OSIS atau basket.. tapi... apaa" Nana mulai berfikir yang tidak tidak.
"Hahahaha...." tawa Tania mencoba mencairkan suasana "Om Ardan kan pengusaha yang terkenal, mungkin keluarga nya kak Adriyan ngefans sama om Ardan dan menggunakan namanya ke anak mereka" tepis Tania yang membuat Nana tak penasaran lagi.
"Tapi Tania... bagaimana dengan keluarga nya Aldan yang sebenarnya?" tanya Nana menatap Tania.
Tania terdiam sejenak "seperti yang ku bilang, keluarga Aldan adalah keluarga yang broken. Aldan dan Violet hanyalah Korban di dalamnya" tegas Tania
"Hari ini... kenapa dia gak masuk?" Nana mulai merasa cemas. "Semalam Aldan bilang dia ingin menenangkan diri dulu," memegangi tangan Nana dengan lembut.
"Kamu gak perlu cemas Nana, Aldan adalah laki laki yang kuat" menatap wajah Nana dengan hangat.
"Iya... aku tahu Aldan adalah laki laki yang kuat, tapi kenapa? kenapa aku gak bisa di samping nya di saat saat yang seperti ini?" ucap nya dalam hati.
tanpa sadar air mata Nana telah mengalir di pipinya, Tania hanya tersenyum melihat temannya dengan lembut mengusap air mata yang ada di pipi Nana
"Kamu tenang aja Nana. aku akan mengembalikan hubungan kamu dengan Aldan seperti dulu lagi.. karena orang yang di butuhkan Aldan saat ini hanyalah kamu..."