
Adriyan melirik ke arah Nana kemudia diam sebentar.. "Yup.. langsung aja. karena kita adakan rapat disini untuk meresmikan anggota OSIS baru yang akan bergabung dengan kita.. Nana.."
Nana mengerjap ketika namanya di panggil, ia bangkit dari kursinya "perkenalkan.. nama saya Nana, dari kelas 10-4 IPA.. mohon bantuannya..."
sampai di rumah Nana merobohkan tubuhnya ke atas ranjang nya. hari ini adalah hari yang melelahkan.. namun yang paling melega kan dia telah di resmikan..
"Nana..." suara mama terdengar sembari mengetuk pintu.. "iya ma? ada apa?" tanya Nana sambil membuka pintu... "ada temen kamu di bawah.."
Nana menautkan alis.. tidak biasa nya Tania main kerumah tanpa memberi kabar terlebih dahulu.. Nana segera turun meninggalkan mama nya di Depan pintu.. "Nana tunggu..."
Nana menuruni anak tangga dengan alis yang bertaut "Tania kok gak telpon aku dulu sih kalo mau ke....."
Nana mendelikan mata dilihatnya bukanlah Tania.. dia adalah sosok lelaki yang paling dingin di kelasnya..
"Aldan...."
Aldan berdiri di ambang sofa sungguh betapa memalukan nya Nana yang turun begitu saja dengan penampilan seperti ini..
"Nana mama baru mau bilang.. kalo yang ke sini itu Aldan..." ucap mama di samping Nana..
"Ishhh mama kenapa gak bilang Nana dulu sih..." ucap Nana merasa malu. "maaf ya Aldan Nana nya seperti ini.." ucap mama tersenyum.
Aldan terdiam sejenak melihat Nana dari atas ke bawah "gak apa apa Tante.. cuma mau main sebentar kok.." ucap Aldan yang membuat mama kagum akan kesopanan nya.
"hmmm yaudah kalo gitu Tante tinggal buat bikin minuman dulu ya.." ucapan mama membuat Nana bereaksi "mama biar Nana bantu yaa..." ucap Nana begitu semangat.
"gak perlu, kamu temani Aldan ngobrol.." ucapan mama meninggalkan keduanya.. Aldan duduk di sofa diikuti dengan Nana.
ucapan Nana terhenti melihat layar handphone milik Aldan yang rusak.. "handphone gua rusak. jatoh di jalan..." perkataan Aldan membuat Nana yakin.. bahwa itu bukanlah karena terjatuh.. tetapi seperti di banting.. karena hanya layar nya saja yang rusak..
"hummm.. tadi cuma ngelantik aku aja kok sebagai anggota OSIS.." ucap Nana "oh begitu" Aldan bangkit dari sofa sementara mama datang dari dapur membawa dua cangkir teh hangat.. "lho Aldan mau kemana? buru buru banget?" Aldan tersenyum manis. "Aldan cuma mau nanya tugas kok Tan.. maaf kalo ngerepotin." mama tersipu-sipu "enggak kok gak ngerepotin sama sekali..
satu hal lagi yang Nana tahu tentang Aldan.. walaupun pria ini sangat dingin tapi dia begitu hangat dan sopan terhadap mama..
kringggggg Kringgg
Nana menatap langit langit sejenak.. sementara mama sudah berdiri di ambang pintu.
"sayang.. hari ini kamu naik kendaraan umum aja ya.. papa sama Kaka kamu ada urusan jadi mereka harus pergi lebih awal."
Nana mengerti kemudian dia bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.. Nana menyusuri jalan ke arah halte yang tak jauh dari rumahnya.. terlihat seorang pria bermotor yang mendekati nya.
pria itu membuka helm jelas Nana dapat mengenalinya.
"ayo bareng.." Aldan menyodorkan helm yang ada di belakang jok motor nya.. Nana menggeleng yang membuat Aldan menarik nafas panjang..
"yaudah kalo lu gak mau gak apa apa.. udah mau jam 7 jangan nyesel kalo sampe telat"
Aldan menyalakan mesin motor bersiap-siap untuk pergi.
"Tu-Tunggu.." ucapan Nana membuat Aldan menghentikan niat nya untuk meninggalkan Nana.
"A-aku.. Aku ikut" ucapan Nana menyerah.