LDR

LDR
Gelisah



Adriyan dan Aldan keluar dari aula mendekati anggota OSIS yang sedang sibuk dengan kegiatan nya masing-masing.


"Ayo guys kita masuk ke ruang aula. udah di tungguin" ucap Adriyan kemudian menggenggam erat tangan Nana.


Aldan masih menatap keduanya dengan tatapan datar tak bermakna.


"Lo cemburu?" Tanya Lusia menatap Aldan


"Bukan urusan Lo" jawab Aldan dengan tatapan dingin.. "Heh. Aldan... Aldan.. gua tau banget lu lagi cemburu.. tatapan lu kaya gak suka gitu" dengan tatapan menantang.


"Iya atau pun enggak itu semua bukan urusan Lo, lebih baik lu urus diri lu sendiri.." ucap Aldan meraih tangan Tania.


"Percuma aja kak, bukan saat nya kita pake Aldan buat ngancurin cewek sialan itu." Ucap Anna Mendekati Lusiana. "Iya, kaka tau, Aldan gak semudah itu buat di pengaruhin" Ucap Lusiana menatap Aldan dengan senyuman palsu.


semua duduk di tempat yang sudah di siapkan seusai sekolah masing masing Nana duduk di sebelah Tania karena Adriyan dan Aldan harus duduk di kursi khusus ketua dan wakil ketua OSIS.


"Halo semua nya, perkenalkan nama saya Aji, saya sebagai maskot OSIS se Jakarta ini mengungkapkan banyak banyak terimakasih kepada teman teman semua yang mau hadir.." ucap Aji sebagai ketua OSIS se Jakarta.


"Nahhh disini saya seneng banget karena ada teman kita yang sudah dapat hadir setelah lama gak hadir. heheh. Ayo Wakil ketua OSIS se Jakarta Adriyan Silahkan maju" lanjutnya dengan sumringah


Adriyan melangkah kan kaki nya ke depan aula, menerima mikrofon kemudia mulai berbicara. "Halo Semua, maaf sebelumnya saya gak bisa hadir selama beberapa kali pertemuan di OSIS se-Jakarta ini, tapi yang pastinya selama saya tidak bisa hadir saya selalu meminta info kepada Aji mengenai perkembangan yang ada disini. dan thanks banget atas usaha kalian untuk membangun forum OSIS sebagai sarana untuk memajukan kualitas sekolah di masing-masing tempat."


ucap Adriyan yang membuat Nana semakin bangga pada pacar nya itu.


"Adriyan keren banget ya Tan?" ucap Nana memandangi Adriyan yang masih berbicara.


"Iyaaa, karena itu ku panggil dia playboy. bukan hanya anak anak di sekolah doang yang suka sama dia, tapi sekolah lain juga." ucap Tania mencibir.


Nana mengangguk tanda mengerti namun yang terus dia yakini sampai sekarang Adriyan hanyalah milik nya.


"Oh iya, di sekolah kami SMA Pramudya juga sudah memilih beberapa anggota OSIS dan wakil ketua OSIS yang baru.. semoga nanti kami dari SMA Pramudya mampu membantu forum OSIS ini semaksimal mungkin.. sekian dari saya, terimakasih." ucap Adriyan membuat seluruh orang di aula bertepuk tangan.


Hari Hari yang lelah di hadapi Nana telah berakhir. Nana merenggang otot otot tangannya.


"Capek ya??" Tanya Adriyan memijat pundak Nana, Nana mengangguk pelan kemudian mata Mereka saling menatap.


"Mau pulang sekarang?" tanya Adriyan menatap jam tangan nya yang sudah menunjukkan angka 5.


"Iya nihh aku cape banget.." menggunakan wajah manja nya, Adriyan tersenyum kecil mengusap usap kepala Nana.


Tringgg!!!


Ponsel Aldan berbunyi, layar ponsel menunjukan nama yang tertera Aldan tersenyum segera dia menggeser layar ponsel ke warna hijau.


"Halo ma?" ucap Aldan dengan lembut.


"Halo kakak.. kapan kakak pulang?" suara Violet terdengar lebih keras membuat Aldan tertawa kecil.


"Nanti, sebentar lagi kakak pulang" ucap nya dengan lemah lembut.


"Cepet ya kak.. disini ada papah loh." tawa riang dari Violet namun seketika Aldan terdiam. wajah nya menjadi penuh emosi


bukan karena suara Violet namun pada orang yang di katakannya, Pria yang selama ini Aldan benci.


"Aldan.... Aldan kamu kenapa?" tanya Tania khawatir melihat wajah Aldan.


"Dia pulang?" Potong Aldan yang tak mau memanggil nya dengan kata Papa.


"Om Ardan..." ucap Tania dengan suara yang kecil, mengikuti Aldan yang masih memegangi tangannya.


"Kenapa mereka buru buru banget?" tanya Nana dalam hati.


"Hei. kenapa sayang?" ikut menatap apa yang Nana tatap.


"A-Ahhh itu.. ayo kita pulang" ucap Nana mengalihkan pandangan nya, Adriyan tersenyum kemudian menggenggam tangan Nana.


"Kenapa eksperi wajah Aldan seperti itu?, kenapa wajah Tania juga sama nya" ucap Nana dalam hati yang masih penasaran.


"Sayang.. kamu lagi mikirin apa sih?" tanya Adriyan sembari mengendarai mobil. "Aku..? lagi mikirin kamu heheh" ucap Nana memeluk tangan Adriyan.


"Maaf Adriyan, aku harus berbohong.." Ucap Nana dalam hati.


"Aku laper nih kita makan dulu yuk.. kita cari restoran yang enak." ucap Adriyan melihat lihat jalanan.


"Iya..."ucap Nana dengan lembut dan kini matanya asik memandangi wajah Adriyan.


"Kenapa sih? ngeliatin aku nya begitu banget" masih sibuk mengendarai mobil nya.


"Aku bangga deh sama kamu..." Senyum Nana merasa senang. "Hm? kenapa?" tanya Adriyan sekilas melihat wajah Nana.


"Kamu.. bukan cuma jadi cowok yang hebat di mata orang tapi juga di mata aku.." ucap Nana masih menatap Adriyan.


"Orang lain boleh bangga sama aku, mau kaya apa pun itu.. Tapi.... Hati dan raga aku cuma buat kamu sayang.." Ucap Adriyan sambil mengecup kening Nana.


perasaan Nana Sangat tenang namun hati nya masih gelisah memikirkan Aldan, entah apa yang terjadi Nana sangat khawatir pada nya.


sampai di sebuah restoran yang mewah Adriyan menyiapkan kursi untuk Nana dan mereka duduk berhadapan.


Adriyan memesan beberapa makanan dan minuman ke pramusaji kemudian menatap wajah Nana yang agak sedikit gelisah.


"Makanannya sebentar lagi sampe.." ucap Adriyan namun Nana tak menggubrisnya.


"Nana..." Ucap Adriyan melambai kan tangannya. Nana tersadar kini menatap Adriyan. "Aku... aku.. gak apa apa kok.." ucap Nana dengan lembut entah Adriyan akan merespon apa nanti nya.


Sejak makan sampai perjalanan pulang Adriyan tak berkata apa apa dia hanya terdiam sampai akhirnya mobil sedan hitam itu berhenti di depan rumah Nana.


"Kamu mau masuk dulu?" tanya Nana setengah tersenyum, Adriyan masih terdiam kemudian menorehkan wajah nya ke Nana.


"Enggak aku mau langsung pulang aja. titip salam buat orang di rumah.." Nana mengangguk tanda mengerti, Nana hendak keluar dan membuka pintu mobil


"Nana tunggu.." ucap Adriyan yang membuat Nana refleks menorehkan wajah nya ke orang yang memanggil nama nya.


"Kamu... aku harap, di hati kamu hanya ada aku Nana.." ucap Adriyan dengan wajah sedih..


Nana terdiam sejenak menatap wajah kekasih nya kemudian tersenyum "Pasti..."


ucap Nana dengan jelas namun hati nya masih belum pasti, apa benar benar hanya ada Adriyan dihatinya.