
Pagi, sang Surya baru saja menyinari dunia nya. Nama ku Nana ini adalah sekolah ku yang baru setelah aku bersama keluarga ku pindah ke Jakarta.
aku merasa canggung ketika memasuki Ruangan yang berisi sekitar 40 orang ini. sang guru mempersilahkan aku untuk memperkenalkan diri
Bu Intan "Anak-anak disini ada siswi baru yang baru pindah dari Surabaya.. ayo Nana perkenalkan namamu" penuh dengan senyum ramah
Nana terdiam sembari berfikir bahwa hidup nya akan berakhir. namun dia tetap berusaha sebaik mungkin untuk bersikap baik di depan teman baru nya.
Nana "Halo, semuanya. perkenalkan.. nama saya Alice Aurdina Farhana, kalian bisa memanggil ku Nana, aku murid pindahan dari SMA Wira Surabaya semoga saya bisa berteman baik dengan kalian"
Sambil menorehkan wajah ke seluruh penjuru ruangan. Nana sempat mendelikan mata agak heran di barisan belakang dekat jendela terdapat sosok laki-laki dengan tatapan aneh menatap nya tapi mungkin dia salah mengira Nana toh juga tidak mau ambil pusing
Bu Intan "Nana.. kamu bisa duduk di bangku yang tersedia" ucap Bu Intan memberikan instruksi.
Sisa tempat yang kosong adalah tepat di depan pria dingin itu.. pemilik di sebelah bangku yang kosong itu mempersilahkan Nana untuk duduk.. Gadis berambut panjang kehitaman itu pun menerima nya dengan ramah. gadis itu memberi tangannya, tentu saja untuk berkenalan.
Tania "Halo, siapa namamu?" senyum dengan sumringah. Nana membalas sapaan nya dengan lembut.. "Aku Nana" Tania mengangguk tanda mengerti "Baiklah Nana.. mulai dari sekarang kita adalah sahabat, oke."
Pagi di Rumah Nana
Kringggggg Kringgg
Jam weker Nana berbunyi namun gadis ini masih ingin menempel di kasur yang lembut, dia juga tidak tega harus meninggalkan guling ke sayangannya.
Aksal : Na.. bangun Papa udah nungguin tuuhh, mau berangkat jam berapa lo?."
Nana mengerjap melihat sudut ruangan dengan malas, dilihat kakak nya tengah bersandar di depan pintu dengan tatapan malas. "bilang papa dong aku bareng kak Aksal aja.."
Aksal hanya diam kemudian pergi.. Nana bangun untuk mempersiapkan diri ke sekolah.. setelah semuanya sudah rapih dia keluar dari kamarnya.. sempat mengintip kamar kakaknya namun tidak terdapat sosok yang di tuju.. gadis mungil itu menuruni anak tangga.. di temuinya wanita yang tengah membuat sarapan dan pemuda yang sedang memainkan Hp.
Vira "Anak gadis baru rapih?" sambil menuangkan susu untuk Nana dan Aksal. "heheh iya Ma,.. hmmm papa udah berangkat?"..
belum Vira menjawab Aksal langsung menyambar "Papa gak akan mau nganterin anak yang bangun nya siang begini.. nanti malah jadi telat ke kantor".
Aksal menuruni motor ninja merahnya memberikan Nana helm tak beberapa kemudian motor itu pun melesat dengan kecepatan tinggi.
Nana dan Aksal ampai di sekolah....
Terdapat Tania yang melambai kan tangan dia sudah menunggu di depan pintu gerbang... Nana membalas lambaian nya namun yang dia fokuskan adalah pemuda yang kemarin dilihat nya. tepat di belakang tempat duduknya.. pria itu tengan bersandar di batang pohon yang rindang dengan kaki tertekuk sebelah.. menatap Nana dengan aneh..
namun Nana masih tidak mempedulikan nya dan langsung menemui Tania.
Selang beberapa waktu di kelas
Kringggggg!!!
bel istirahat berbunyi Nana dan Tania makan semakuk bakso di kantin.
Nana terkenal diam memikirkan sosok pria tersebut.. "Mikirin apa sih neng?"
Nana sontak kaget mendengar suara Tania "hmmmm gak papa..." hening sejenak Nana mencoba memberanikan diri menanyakan pria yang sedang difikirkan nya.
dengan tenang "hmm Tan, boleh nanya gak?" Tania menorehkan wajah nya "Apa?" antusias nya. "Kamu tau gak tentang cowok yang duduk di belakang aku?" ucap Nana penasaran..
Tania terdiam sejenak "Aldan?" Nana mengangguk. "Yaaa,, aku udah kenal lama sama Aldan, dia temen aku dari kecil.. emang kenapa?" Nana mendelik "Gak apa-apa" sembari minum segelas jus apel.
Tania menatap Nana lama.. tatapan penasaran sampai Tania harus mengeluarkan beberapa kata "Kamu suka sama Aldan?"
Nana menyemburkan minuman yang masuk ke dalam mulutnya.. "Nggak" bantah Nana
Tania tersenyum usil "Yaaa aku akui Aldan memang tampan. tapi sifat nya begitu dingin.." Nana tidak menghiraukan "Tapi Nana... walaupun Aldan dingin seperti itu banyak para gadis yang menyukainya lhoo"
Nana mengambil nafas dalam kemudian menghembuskan nya
dengan tatapan tidak pasti dia menjawab "Aku tidak peduli"