
Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Ini adalah waktu yang menjadi jam pulang bagi seluruh karyawan, termasuk Intan dan Fitri. Sebelum setiap karyawan pulang, mereka harus menyelesaikan terlebih dahulu pekerjaan mereka. Pekerjaan yang harus mereka lakukan di antaranya adalah menyiapkan perlengkapan tempat saus serta piring kecil yang akan di gunakan oleh pelanggan untuk makan.
Intan pun segera mencari tempat saus kecil serta piring tersebut. Sehingga Intan bisa segera pulang. Begitu Intan sudah memenuhi area meja yang menjadi tempatnya berjaga. Intan pun akhirnya di izinkan untuk segera pulang.
Begitu juga dengan Fitri yang bisa pulang dengan bebasnya. Namun Fitri memilih untuk pergi dulu bersama dengan seorang gebetannya yang merupakan anak dari dapur. Mereka pun bersiap pergi ke salah satu tempat untuk di jadikan waktu bersama mereka. Padahal Fitri sendiri sudah memiliki seorang suami. Namun dia justru dekat dengan pria lainnya di kota. Hal yang justru tidak baik di lakukan oleh seorang Fitri.
"Kamu mau langsung pulang Fit?" tanya Intan di loker.
"Tidak, Fitri mau makan dulu di luar bareng aku." jawab Usman.
Intan melirik ke arah Fitri. Dengan wajah meyakinkan, Fitri mengatakan jika apa yang di katakan oleh Usman adalah sebuah kebenaran. Dirinya akan pergi bersama Usman untuk makan di luar. Fitri pun meminta Intan untuk pergi ke kost sendiri.
Intan bingung dengan Fitri yang lebih memilih untuk pergi bersama dengan Usman. Apalagi status Fitri yang merupakan seorang istri. Ini menjadi pertanyaan besar dalam diri seorang Intan. Di mana Fitri akan pergi bersama dengan Usman yang dekat dengannya.
Fitri pun memberikan kunci kost miliknya pada Intan. Di mana Intan akan pulang sendiri menuju kost. Intan pun akhirnya segera pergi menuju kost. Mengingat sudah banyak karyawan lainnya yang sudah mengantri di luar loker untuk mengganti pakaian kerjanya.
Sambil berjalan menuju kost Fitri, Intan dan pria itu mulai berbincang. Pria itu pun akhirnya menyodorkan tangannya untuk berkenalan dengan seorang Intan. Mengingat dia yang sudah hampir sampai di parkiran tempat dia meletakkan motornya.
"Dimas, namaku Dimas. Aku seorang juru masak."
Intan terkejut dengan keberanian dari seorang Dimas dalam memperkenalkan diri pada dirinya. Padahal Intan sebenarnya kurang tertarik juga pada seorang Dimas yang memiliki tubuh yang tinggi tersebut. Namun Deni menghargai usaha dari Dimas untuk berkenalan dengan dirinya. Intan pun langsung menjabat tangan seorang Dimas. Dia pun berkenalan dengan Dimas.
"Namaku Intan. Aku pelayan baru di restoran."
Dimas senang bukan kepayang, saat Intan mulai memberikan respon positif pada dirinya. Apalagi saat Intan mulai menjabat tangan seorang Dimas. Dia pikir itu adalah momen yang cukup sulit untuk di lupakan. Sehingga Intan tak akan melupakan momen itu begitu saja.
Dimas pun tersenyum, sebelum akhirnya bergegas pergi untuk mengambil motornya. Dimas berniat mengantar Intan menuju tempat kost Fitri. Namun jarak yang tidak terlalu jauh dari tempat parkiran motor. Sedikit membuat Fitri merasa kurang nyaman. Fitri akhirnya meminta Dimas untuk tidak mengantar dirinya pulang. Sebab Fitri akan pulang dengan berjalan kaki menuju kost Fitri.
Dimasa pun tidak mempersoalkan penolakan dari seorang Intan. Sebab memang benar, jarak yang tidak terlalu jauh. Sehingga Intan menolak untuk di antar pulang oleh dirinya. Dimas hanya berpesan pada Intan untuk hati-hati di perjalanan menuju kost Fitri tersebut.