
Nana sarapan sembari melihat papa nya membaca koran.
"Pa." ucap Nana agak gemas.. Rivan hanya melirik putrinya kemudian menyeruput secangkir kopi, "Pah..." lanjut Nana.
Aksal merasa ada yang tidak beres antara adik dan papa nya tersebut, kemudian mengehentikan jemarinya yang asik mengetik layar ponsel. "Kenapa sih pah?" tanya Aksal ikut penasaran.
"Kak.. Kaka kenal Aldan gak?" tanya Nana. "kenal.. teman satu kelas lu kan?" tanya Aksal balik. "Ihhh sebelum kita tinggal di Jakarta kak.." tanya Nana balik. "bukannya sebelum tinggal di Surabaya kita juga pernah tinggal di Jakarta?" ucap Aksal tersenyum usil. merasa pertanyaan nya hanya di ulang ulang Nana bertanya kepada yang lebih tau.
"Pah.. papa kenal Aldan kan? sebelum aku kenal sama dia?" tanya Nana dengan alis bertaut membuat Rivan menyerah.. "Iya papa kenal. waktu mama dan papa masih kuliah di Jepang. dan di sana kita ketemu sama Alisa. mama nya Aldan.." ucap papa singkat
"Lalu??.." tanya Nana semakin penasaran "Lanjutin pah" ucap Aksal ikut penasaran "Ih, kakak kepo juga kan" ketus Nana sambil memakan roti miliknya. "Setelah kami lulus papa dan mama memutuskan untuk menikah.. lalu pindah ke Wina, dan mama mu melahirkan Aksal. setelah itu papa dan mama sudah tidak kontakan lagi dengan Alisa. tapi setelah usia kakak mu 3 tahun papa dapat projects di perusahaan ternama dan itu adalah salah satu perusahaan milik Ahmad Ardan Salim."
Nana terdiam sejenak "Ahmad Salim? seperti namanya kak Adriyan." ucap Nana dalam hati, papa kembali menyeruput kopi miliknya dan melanjutkan kembali cerita nya. "ternyata pak Ardan itu suami nya Alisa. dan setau papa, pak Ardan itu sudah memiliki istri dan anak tapi papa gak tau pasti sih.. saat itu Alisa tengah mengandung Aldan.." Nana dan Aksal mengangguk.
"Berarti Tante Alisa itu istri kedua dari om Ardan ya pa?" tanya Aksal mengumpulkan "Mungkin..." jawab Vira mendekati suami dan putra putri nya.
"Lalu.. kenapa kalian sudah kenal duluan daripada aku?" tanya Nana skeptis.
"Waktu usia mu 3 tahun kita tinggal di Wina, kamu lupa? kita sempat bertetangga dan pastilah Aksal mengenal Aldan." ucap Vira sembari mengolesi roti dengan selai kacang "Waktu itu... berarti.. saat kita pindah ke Indonesia Violet baru lahir?" ucap Nana.
"sebenernya usia kamu dan Aldan beda satu tahun.. mungkin karena kamu sekolah di usia 5 tahun jadi sekelas. dan dulu. karena mama teman baik nya Alisa, mama sering sekali menemani Alisa saat dia tengah mengandung Violet, kamu juga sering bermain dengan Aldan.." ucap Vira sambil meletakkan roti yang sudah diolesi selai ke piring Aksal.
"Tapi kenapa aku bisa lupa dengan Aldan, kalo dulu aku sering bermain dengan nya? apa Aldan juga lupa denganku?" guman Nana dalam hati.
"Ma, Pa, aku berangkat duluan ya?" ucap Aksal menyandang ransel nya.. "kak aku nebeng dong.." ucap Nana sambil Salim ke kedua orang tua nya.
sampai di sekolah Nana berjalan di koridor sekolah..
Puk!!
"Hai.." ucap Adriyan menepuk pundak Nana. "eh, hai kak." ucap Nana yang muncul rona merah di pipi nya. "Mau langsung masuk?" tanya Adriyan "Enggak sih kak. masih ada waktu beberapa menit lagi.. ada apa ya kak?"
"kamu Mau ikut nonton aku main basket di Haagen?" tanya Adriyan yang membuat mata Nana terbelalak "Haagen?? tiketnya kan mahal banget kak.." ucap Nana menggerutu.
Adriyan mengeluarkan sesuatu di dompet nya. "Nih, tiket nonton nya" ucap Adriyan memberikan Tiket nonton pertandingan basket "lho Kaka gimana?" tanya Nana khawatir Adriyan tidak dapat masuk ke gedung Haagen.
"anak basket masuk tinggal pake tanda pengenal aja kok.." ucap Adriyan menatap Nana lembut yang membuat hati Nana menjadi dag Dig dug di buatnya.
"aduhhhh, kak Adriyan kok bisa sebaik ini sih. udah baik, pinter, ganteng, jago maen basket pula.. lembut lagi gak kaya si Aldan" ucap Nana dalam hati
"hei.." ucap Adriyan melambai kan tangan kedepan wajah Nana, Nana sontak kaget dan lamunan nya menjadi buyar "M-M-maaf ka,. oh iya, aku kira cumaa beberapa orang aja yang boleh ke Haagen?" tanya Nana.
"Enggak lah.. mangkanya kamu jangan sama Aldan terus... Jadi gak tau kan" ucap Adriyan sembari tertawa namun membuat Nana terdiam... memang nya sedekat apakah pandangan orang mengenai hubungan Aldan dengannya.. Rasanya semua biasa biasa saja.
"Jangan lupa ya. besok jam 3 Sore aku jemput.." ucap Adriyan meninggalkan Nana di koridor..