INFAMOUS

INFAMOUS
Persiapan Gran Prix (END)



Setelah aku keluar dari kamar, tentu saja Hana tidak akan pulang secepat itu. Ia sedang melihat berita di TV yang mengungkapkan bahwa pelaku sebenarnya dari penculikan ini adalah, Octo Bast.


Aku sedang mengintipnya melihat berita itu di TV sampai . . . .


" . . . . . sang pelaku telah ditangkap di tempat setelah polisi mengetahui apa yang direncanakan oleh si pelaku. Semua pihak kepolisian berterimakasih kepada teman sekelas dari si pelaku yang sudah memecahkan kasus ini."


Hana menontonnya dengan serius. Kalau bisa, aku ingin mematikan televisinya agar dia tidak tahu apa yang kulakukan selama ini ketika sedang tidak ada.


Aku berjalan perlahan ingin mengambil remote TV yang ada di meja. Sebelum Hana menyadarinya, aku akan sebisa mungkin untuk mengganti channel-nya.


"Loh, Nico? kau lihat berita ini deh" tiba-tiba Hana menoleh ke belakang.


"Hmm?" aku tidak bisa berpura-pura lagi untuk tidak melihat apa yang Hana minta.


"Jadi kamu adalah teman sekelasnya. Apa yang kau rasakan setelah berhasil menjebak sang pelaku?" tanya sang wartawan di televisi.


"Itu hanyalah hal yang biasa menurut ku. Itu saja dariku."


Hana tercengang setelah melihat siapa yang wartawan itu wawancarai. "I . . . itu kan . . . ." Lalu ia menoleh ke belakang, yaitu menghadap kepadaku.


"Sial" aku menepuk dahi ku.


"Mikhail . . . . Nico . . . . apa apaan ini?"


Akhirnya Hana menyadari kemana diriku selama ini bepergian. Beberapa menit setelahnya, Hana menginterogasi ku selama berjam-jam.


Aku menjelaskannya secara detail dari mulai hilangnya Elsa dan bagaimana aku dapat memecahkan kasusnya. Tapi setelah aku diinterogasi, sekarang aku yang bertanya-tanya kepadanya mengapa dia tidur di kamarku.


Jawabannya sangat simpel sekali. Yaitu karena ngantuk. Secara logika, kalau memang sudah mengantuk, seharusnya lebih baik pulang ke rumah masing-masing. Tetapi aku menyudutkannya dengan pertanyaan, apa yang dia lakukan di kamarku selama ini.


"Sebelum aku menjawab pertanyaan itu, bolehkah aku bertanya padamu?" permintaan Hana.


"Hmm?"


"Dulu, ketika SD. Apakah kau sekolah hanya sampai kelas 3?"


"Ya itu benar. Aku pindah ke sekolah lain karena ayah ku pindah kantor. Lagipula bagaimana kau tahu itu?" bingung ku.


Hana terkejut setelah mendengarnya. Ia sedikit tertawa kecil oleh sebab apa yang barusan kukatakan. "Hahahaha."


"Ada apa denganmu?" heran ku.


Setelah Hana berhenti tertawa, ia menunjukkan ku sebuah foto yang pernah kulihat sebelumnya. "I . . . itu . . . " Kemudian aku bergegas ke kamar untuk mengambil sesuatu.


"Kau mau kemana?" pinta Hana.


"Tunggu sebentar."


Aku menutup kamar dan segera membuka lemari rahasia dibalik ranjang ku. Setelah itu aku mengambil foto yang sama dengan milik Hana. "Tidak mungkin itu dia kan?"


Kemudian aku kembali ke Hana untuk menunjukkan foto yang kumiliki. "Kau . . . ."


Hana mengambil foto yang kuberikan padanya. Ia terkejut sampai menutup mulutnya. "T . . . tidak mungkin."


"Apakah kau . . . . " aku memandang wajahnya.


Ia juga memandang wajahku dengan mata berkaca-kaca.


Kami saling menatap satu sama lain. Bayangan masa lalu menyelimuti kami dengan ingatan yang sulit untuk dilupakan.


"Kim?"


"Nick?"


Kami berdua saling menyebut nama masa kecil kami Ketika baru pertama kali kenalan.


"Sudah kuduga itu kau" Hana langsung memelukku sembari menangis.


"Astaga, kau terlihat berbeda. Aku bahkan sampai tidak mengenalinya" aku memeluknya lebih erat.


Foto kami berdua terjatuh ke lantai dengan air mata Hana menetes di foto itu.


...[Kembali ke 10 tahun yang lalu]...


Sedikit cerita masa kecil ku. Ketika aku masih duduk di bangku SD, aku tidak memiliki teman sama sekali. Aku adalah orang yang tidak suka dengan pergaulan murid-murid seperti mereka. Lebih baik aku sendiri dan lebih egois.


Tapi setelah aku melihat murid perempuan ini, pandangan ku menjadi berbeda. Ia berambut pirang dan mata yang indah. Kami berdua sering menjuarai dan berperingkat di kelas.


Semakin lama, kami semakin akrab jalur kepintaran kami berdua. Ia mulai mencoba untuk mulai terbuka dengan cara berkenalan denganku.


"Kamu, nama mu siapa?" ia mendatangiku dan menjulurkan tangannya.


Aku berpikir kalau dia akan memanfaatkan ku. Maka itu, aku menggunakan nama plesetan ku agar ia tidak terlalu dekat denganku.


"Nick" aku bersalaman dengannya.


"Aku . . . . eum . . . " dia seperti sangat gugup ketika mulai bersalaman denganku. "Aku Kim."


"Kim?" aku sedikit merasa aneh dengan namanya.


Wajahnya terlihat sangat panik ketika ia sendiri menyebutkan namanya. "Tidak, namaku--"


"Senang berkenalan denganmu Kim" aku percaya saja dengan nama yang ia sebut.


Kim pun tersenyum setelah melihatku tersenyum. Akhirnya kami menjadi teman dekat selama itu. Tapi semakin lama aku bermain dan adu prestasi dengannya, semakin sadar kalau dia memiliki paras yang cantik. Dia adalah, cinta pertamaku ketika masih SD.


Seiring berjalannya waktu. Ayah mendapatkan kabar kalau ia akan pindah kantor ke kota lain. Mau tidak mau, aku juga harus pindah sekolah dengan kakakku disini.


Hari sebelum pindah. Bu guru meminta ku untuk melakukan perpisahan dengan teman sekelasnya sebelum berangkat.


Aku sudah mengucapkan terimakasih kepada semua orang termasuk guru-guru yang sudah mau mengajarkan ku selama ini.


Tapi . . . . itu juga hari terakhir ku untuk melihat wajah Kim.


Wajah yang terakhir kali kulihat adalah, dengan ekspresi syok. Aku yakin sekali kalau dia sangat kecewa denganku.


Hal yang tersisa dari kami adalah, hanya foto kelas yang berisikan kami berdua samping sampingan dengannya.


Bertahun-tahun aku menjalani hidup ini sebagai seorang yang introvert. Meski aku juga memiliki kehidupan cinta lain, itu tidak bertahan lama juga.


Sampai akhirnya di tahun ini, aku menemukan seseorang yang sama cantiknya dengan cinta pertamaku. Mata indah yang sama, tapi warna rambutnya berbeda.


Pertemuan kami di lift itu, adalah momen berharga bagi kami berdua. Aku belum tahu kalau dia itu adalah Kim, cinta pertamaku. Meski tampangnya sedikit berbeda, tetapi sifatnya masih sama dengan dia yang dulu.


Aku . . . . . . sangat menyukai kehidupan ini.


...[Beberapa jam kemudian]...


Aku baru saja keluar dari pengadilan bersama teman-teman yang lain. Okocha dan Touré menghadiri acara itu. Sayang sekali kalau Touré harus jadi korban juga saat itu.


Tapi setelah ini, Leo akhirnya dibebaskan dari penjara. Karena ia tidak memiliki bukti kejahatan sama sekali. Dan Elsa sudah kembali terlihat oleh kami semua.


Ellé, Yoka, dan Xenon sangat merindukannya. Begitu juga teman-temannya yang lain.


Sedangkan Bast, ia dipenjara selama 4 tahun oleh sebab percobaan pembunuhan, narkoba dan penculikan. Rumah dan mobilnya disita oleh polisi beserta isinya.


Leo menghampiri ku setelah ia juga baru keluar dari pengadilan. "Hei jenius."


Aku menoleh kepadanya.


"Terimakasih, telah membebaskan ku" ia menjulurkan tangannya.


"Tidak. Aku hanya mengeluarkan sampah dari sekolah saja" aku menjabat tangannya.


Setelah itu, Elsa juga baru keluar dari pengadilan bersama keluarganya. Ia melambaikan tangannya kepadaku. Aku juga melambai balik kepadanya.


"Halo Touré. Bagaimana kabarmu?"


"Hei, tidak ku sangka kalau kau yang akan mengakhiri semua ini. Orang seperti Bast sangat sekali ingin ku hajar. Tapi dengan situasi seperti ini, hanya akan sia-sia saja."


"Haha itu benar."


"Kalau begitu, ketika kita sedang berbincang-bincang di atap pada saat itu--"


"Ya, itu Bast. Dia menguping pembicaraan kita sebelumnya."


"Sudah kuduga."


Akhir dari kasus ini tidak ku sangka kalau aku yang akan mengakhirinya. Wartawan berdatangan kepadaku. Tetapi aku diam-diam menghindari mereka dan ingin kembali ke mobil.


"Kalau begitu, sampai nanti Touré" aku pamitan dengannya.


"Senang bekerjasama denganmu, Nico!"


Aku melambaikan tangan kepadanya. Dengan bergegas, aku langsung pergi ke tempat parkir dan masuk ke mobil.


"Jadi bagaimana di sana?" pinta Hana di sebelah bangku kemudi.


Ia sedari tadi menunggu di parkiran sembari berdandan. Karena sehabis ini, kami berdua akan berkencan ke luar.


"Menyenangkan."


Aku menancap gas dan keluar dari lokasi menuju tempat lain.


...[Di sisi lain]...


Akira dan Noa sedang makan bersama di mall. Ia melihat beranda sosmed nya yang penuh dengan berita ku memecahkan kasus sebelumnya.


"N . . . Nico?" Akira tercengang.


"Aku melihat beritanya tadi pagi. Tidak ku sangka kalau itu adalah adikmu" ucap Noa sembari minum.


"Ternyata adikku bisa sepintar ini. Hebat" Akira mengapresiasi ku dari jauh.


Noa sedari tadi memandangi wajah Akira. Tapi kemudian Akira menyadarinya.


"Kau memandangi wajahku? apa ada sesuatu?" pinta Akira sembari menunjuk wajahnya.


"T . . . tidak" Noa memalingkan wajahnya.


Kemudian Akira tersenyum melihat wajah Noa yang malu-malu kucing. "Hmm????"


"Bisakah kau tidak memandangi wajahku seperti itu?" Noa merasa risih.


"Memangnya kenapa? tidak boleh?"


"Grrrr."


...[Di sisi lain juga]...


Seseorang membuka pintu kantor Mr. Mikhail.


"Tuan, ada yang ingin bertemu denganmu."


"Suruh ia masuk" Levine mempersilahkannya.


Langkah kaki berjalan menuju ruang tamu. Levine langsung berdiri setelah melihat siapa yang datang.


"Guru!"


Ternyata yang datang adalah Madame Lóis. "Levine. Lama tidak jumpa."


"Tidak lama juga kok. Silahkan duduk terlebih dahulu" Levine mempersilahkannya.


"Aku disini tidak ingin lama-lama."


"Kalau begitu langsung bicara saja."


Mereka berdua sama-sama duduk. Levine sengaja tidak menghidangkan makanan atau minuman kepadanya, karena itu juga keinginannya.


"Aku tidak menyangka kalau anakmu menjadi viral."


"Ya . . . . aku tidak percaya itu juga."


Mereka berdua sama-sama sudah melihat berita tadi pagi.


"Untung saja mereka tidak menyebutkan nama sekolahnya. Meski tahu juga, pemerintah akan menutupi berita itu seminimal mungkin."


"Itu benar, Madame. Sekolah yang penuh dengan seleb dan influencer seperti itu, ternyata juga memiliki sisi negatifnya juga."


"Aku harap, itu tidak akan mempengaruhi Gran Prix nanti."


"Gran Prix? oh iya, sebulan lagi. Aku akan lebih sering bertemu dengan Alfredo selama Gran Prix berjalan."


"Iya, itu akan sulit" gerutu Madame Lóis.


"Kalau begitu. Bagaimana kabar cucu Madame? apakah sudah bertemu denganmu?"


"Belum. Dia belum cerita. Suatu saat nanti pasti mereka akan saling berkenalan kok. Aku yakin" Madame memegang keyakinannya.


"Aku juga berpikir begitu."


"Atau bisa saja, mereka akan dipertemukan di Gran Prix nanti."


Levine tersenyum mendengarnya. Ia mempercayakan lomba ini kepadaku nantinya. "Semoga saja."


...[Beberapa hari setelahnya]...


Seperti biasa, aku sekolah dan berangkat bareng bersama Hana. Di sekolah, mendadak aku menjadi terkenal setelah viral kemarin.


Leo dan Elsa sudah kembali bersekolah juga. Kelas A menjadi ramai kembali seperti biasanya, tetapi aku tidak.


Karena aku masih sama seperti biasanya. Mendengarkan musik dan tidur di meja ku sebelum jam belajar masuk, lalu menikmati suasana sekolah ini.


Sepulang sekolah, aku menghadiri rapat OutFamous. Orang yang ku pernah temui sebelumnya, menjadi pengganti perwakilan kelas B.


"Perkenalkan, namaku adalah Lóis Wayne. Subscribers ku, rahasia. Aku dari kelas B. Menggantikan Mel yang sebelumnya pernah disini. Aku berterimakasih kepada Bu Ellie yang sudah mau memilihku sebagai perwakilan dari kelas B."


Semua orang kembali berkenalan lagi, termasuk denganku juga. Bu Ellie bertepuk tangan karena merasa senang melihat organisasi nya menjadi seramai ini.


Sisanya adalah, member lain dari OutFamous melirikku. Aku seperti menjadi pusat perhatian disini. Tetapi Bu Ellie tetap menjelaskan rencana organisasi ini kedepannya nanti.


Aku belum bilang tentang organisasi ini ke Hana. Ia ku suruh pulang duluan bareng Kiera, Yoka, Ellé, Elsa, Okocha, dan Dysa. Entah bagaimana mereka bisa akrab, aku senang ia memiliki teman yang banyak juga, sama seperti ku.


Malamnya, aku menikmati pemandangan kota dari tebing. Sedikit merenungkan diri, aku bersyukur telah melalui banyak jalan yang telah ku tempuh selama ini


Bertemu teman baru, menjadi anggota organisasi yang belum terlalu jelas, menjadi pusat perhatian di sekolah, disukai banyak wanita, dan kembali bertemu dengan cinta pertamaku.


Ini adalah aku, Mikhail Nico. Seseorang yang akan melampaui followers kakakku. Menjadi seleb sosmed termuda dan terkenal di dunia.


Aku belum melakukan face reveal kepada subscribers ku. Tetapi suatu saat, aku yang akan melakukannya sendiri. Setelah festival, aku akan melakukannya.


"また会いましょう"


Aku kembali ke mobil dan mengendarainya. Sembari menikmati pemandangan malam ini, aku akan bersiap-siap nantinya.


Untuk Gran Prix nanti.