
Diluar ekspektasi ku. Dia benar-benar menjebak ku. Ancaman dan paksaan secara bersamaan, ia lakukan itu hanya untuk diriku. Apa yang spesial dari diriku ini di matanya?
Situasi ini membuatku tidak bisa bersikap tenang. Ini bukan pertama kalinya untukku. Sekarang lebih buruk dari sebelumnya. Karena sekarang dilakukan dengan cara paksaan dan ancaman.
"Maaf Hana. Mungkin aku menyukaimu, tapi . . . ." aku memandang wajahnya Elsa yang imut itu, "kurasa aku akan mencoba berubah untuk mencintai orang lain."
Kemudian aku berdiri tegap bersikap tenang dan keren dihadapannya.
"Baiklah, jika itu yang kamu mau . . . "
Ekspresi Elsa seperti shock. Ia mendadak menjadi kesenangan untuk apa yang akan kukatakan selanjutnya.
...[KREETTTTT]...
"Ehh?" aku dan Elsa sama-sama melihat ke arah pintu.
2 orang membuka pintu atap.
"Ouh, apa kami mengganggu?" kaget dia. "Sepertinya begitu?"
Ternyata itu adalah Zico dan V yang datang kemari membawa bekal mereka masing-masing.
"Ini . . . . tidak mungkin tidak sengaja kan?" pikirku.
Mereka berdua berjalan menghampiri kami berdua. "Tidak ku sangka itu adalah kau, Nico!" Zico menepuk bahuku dengan senyuman.
"E . . . . eh . . . i . . .iya, tidak ku sangka juga kau akan datang ke sini" kataku dengan nada kaku.
"Apa kau ingin ikut makan dengan kami, Nico?" ajak V.
Aku mengusap perutku. "Terimakasih, tetapi aku sudah kenyang."
"Yahhh, sayang sekali . . . . padahal ada yang ingin kami bicarakan."
"Mengenai pertandingan tadi malam ya? Man United menang telak 5-0 ya? aku sangat senang!" aku menepuk bahu mereka berdua sembari mendorong-dorong.
"Ehh?" mereka berdua kebingungan.
"Ayo kita bahas ini hahahahaha!" aku mendorong mereka sampai kembali masuk ke dalam gedung sekolah.
Meninggalkan Elsa di atas sendirian. Entah apa yang akan ia lakukan selanjutnya, aku hanya berharap agar ia tidak membeberkan identitas ku saja. Lagipula jika ia tetap membocorkannya, mungkin aku akan membunuhnya.
...[Sementara di tangga mengarah ke koridor kelas]...
Aku mendorong mereka sampai di koridor kelas 1. Zico dan V terlihat kebingungan dengan apa yang aku lakukan.
"Maaf sekali jika aku sampai menggiring kalian kesini" aku menundukkan kepala sembari memegang pundak mereka berdua.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Lalu mereka tertawa, "hahahahahahahaha!"
"Ehh?" aku mengangkat kepalaku.
"Seharusnya kami berdua yang menarik mu kemari Nico! bukannya kau yang menggiring kami ke sini!" tawa Zico.
"A . . . aku tidak mengerti." bingungku dengan ekspresi mereka berdua.
"Jadi begini Nico," V memegang bahuku. "Cewek mu yang bernama Hana itu menyuruh kami berdua untuk menyelamatkan mu dari situasi itu."
"H . . . Hana menyuruh mereka?" aku sangat bingung. "B . . . bukan cewekku. Tapi, ia menyuruh kalian berdua?"
"Ya. Sebagai gantinya, ia akan membantu kami berdua agar nanti kelas 2 masuk kelas A."
"Kenapa kalian mau? memang berapa subscribers kalian sekarang?" dan konten apa yang kalian berdua buat?" tanyaku.
"Yahh, kalau secara detail sih . . . kami ser--"
...[KRINGGGGGG]...
Bel masuk berdering. Kami bertiga terkejut setelah mendengar bel yang mendadak berdering. Setelah kami bertiga mengecek waktu, ternyata memang sudah jam masuk.
"Sial, aku belum memakan bekalku!" panik V.
"Begitu juga aku. Kurasa aku akan menghabiskannya diam-diam di kelas" Zico merapihkan kotak bekalnya.
"Tunggu dulu. Dimana dia sekarang?" tanyaku kembali.
"Kami awalnya bertemu di tangga mengarah ke atap. Kebetulan ada Hana di sana . . ."
...[Beberapa menit sebelumnya]...
Hana tidak habis berpikir. Ia banyak sekali pikiran hingga membuatnya tidak lelah berlari sembari berpikir.
"Jika kau memang mencintainya . . . . . setidaknya katakan langsung didepan ku!"
...[BRUGGGG]...
Hana menabrak seseorang. "Aduhhh, maaf."
"Ouh, kau yang dari kelas A dan duduk bersebelahan dengan Nico ya?"
"Mengerikan . . . bagaimana kau bisa tahu?" heran Hana.
V yang disebelahnya Zico menunggu Hana untuk mengingat.
"Baiklah aku Kimi Hana. Tidak ada waktu buat berkenalan, aku juga sudah mengenal V sebelumnya."
"Okei . . . . maaf sepertinya kau sedang terburu-buru. Silahkan saja!" Zico mempersilahkan Hana untuk naik duluan.
Dengan cepat, Hana langsung menapakkan kakinya di setiap anak tangga menuju ke atas untuk menghentikan kami berdua.
"Orang itu . . . . aku rasa aku pernah melihatnya di suatu tempat" Zico mengingat-ingat.
"Yang kutahu hanyalah, ketika dia berkunjung ke rumah sakit di ruangannya Touré" V menjelaskan kepada Zico.
Sesampainya di depan pintu atap. Ia tinggal membukanya saja dan membatalkan semuanya. Tetapi Hana seperti merasakan hal yang ia tidak harusnya rasakan untuk saat itu. Ia mencari cara agar aku dan Elsa segera dihentikan.
"Sial, apa yang harus kulakukan? aku hanya tinggal membuka pintu ini loh!" cemas Hana tidak karuan lagi.
Lalu Hana mendengar suara langkah kaki yang menuju ke atap juga.
"Loh, yang tadi. Hana!" Zico bersama V membawa bekalnya dan menyapa Hana.
Hana yang kepikiran sesuatu, lalu ia mendapatkan ide dengan memanfaatkan mereka berdua.
"Jadi begini Zico, V" Hana memegang pundak mereka berdua.
...[Kembali ke momen]...
"Dan itulah, bagaimana kami berdua bisa bertemu dengannya" Zico selesai menjelaskan.
"Memang apa yang terjadi pada kamu dengan cewek itu?" tanya V.
"Elsa ya? tidak kok, hanya pembicaraan biasa."
Tiba-tiba ada suara langkah kaki dari belakang.
"Hey, murid-murid! apa yang kalian lakukan disini? ini sudah masuk jam pelajaran loh!" sekuriti sekolah menegur kami yang masih diluar kelas.
"Astaga, aku lupa kalau sudah masuk dari tadi" kami bertiga menepuk jidat kami.
"Cepatlah, kembali ke kelas kalian. Sebelum guru masuk ke kelas kalian" ucap sekuriti.
"Baiklah. Maaf sebelumnya," aku melambaikan tangan kepada yang lain dan lari menuju kelas ku, "aku duluan ya!"
"Hati-hati!" ucap Zico.
"Hmm, apa yang kita dapat barusan setelah kita berdua disuruh oleh Hana?" tanya V.
"Benar ya . . . . kita belum dapat imbalan setelah melakukan drama tadi loh" Zico kepikiran.
"Sudahlah, kalian masuk ke kelas kalian sana!" sekuriti masih berdiri menegur.
"Oiya lupa! hehe" lalu Zico dan V berjalan menuju kelas mereka masing-masing.
...[Di kelas]...
...[SRRRTTTTT]...
Aku baru masuk ke kelas setelah percakapan dengan Zico dan V sebelumnya. Ternyata memang belum ada guru yang masuk di kelas. Aku melihat sekitar ruangan yang muridnya masih pada berisik dan punya kesibukan masing-masing.
"Hufff, syukurlah" lega ku.
Kemudian aku kembali menutup pintu kelas dan berjalan menuju kursi ku. Ketika duduk, Sagi menghadap belakang dan memanggilku.
"Nic--"
"Jangan sekarang Sagi. Aku sedang lelah" aku sedang tiduran di meja.
"Bagaimana dengan tadi?" tanya Sagi yang penasaran.
"Yah, aku berterimakasih kepada Hana sebenarnya" aku sedikit melirik ke Hana yang sedang membaca novel.
Hana yang mendengarnya, ia menutup wajahnya dengan novel miliknya dan pura-pura tidak mendengar.
"Sudah kuduga ia akan bertindak." tebak Sagi.
"Eh?" aku melirik ke wajah Sagi.
"Dia memang akan mengacaukan pembicaraan kalian di atap."
"Tunggu dulu," aku bangun, "kau menceritakannya?"
Sagi tertawa kecil sembari memegang kepalanya.
"Selamat, kau akan mati hari ini Sagi!" aku memegang pundaknya Sagi dengan tatapan melotot.
...[SRRRTTTTT]...
Pintu kembali terbuka. Seketika aku dan Sagi reflek menatap ke arah orang yang membuka pintu.
Ternyata itu adalah Elsa yang baru masuk ke dalam kelas.