
...[KRINGGGGGG]...
Bel istirahat berdering. Sebelum keluar dari kelas, aku menghampiri Hana sebentar untuk mengecek keadaannya.
"Hana" aku berdiri di sebelah mejanya.
"Hm?" dia memandang wajahku.
Dia cantik sekali. Bahkan membuatku melamun akibat terlalu lama memandangi wajahnya.
Tiba-tiba dia mencubit pipiku. "Tuh kan! melamun terus, mikirin apa sih setiap liat muka aku?"
"Eeehhh iya iya sakit" aku melepaskan cubitannya, "apakah salah untuk menyapa pacarnya sendiri?"
"Kalau kamu berpikir barusan itu adalah sapaan, maka tidak mungkin orang-orang akan berpikir yang sama denganku."
"Itu benar sih" seketika membuatku malu.
Ketika aku sedang menutup wajahku, ia memegang tanganku. "Eh?" aku terkejut.
"Lalu apa yang ingin kamu katakan, Nico?" senyum Hana.
"Ak---"
Mendadak seseorang menarik baju ku dari belakang. "Ayo Nico! kita pergi ke kantin!"
Sagi menarik ku untuk mengajakku ke kantin.
"Hey hey! apakah tidak ada cara yang lebih sopan lagi?" aku terpaksa mengikutinya
Hana yang melihatku seperti itu, ia tertawa kecil sembari menutup mulutnya.
...[Sementara di koridor kelas 3]...
Noa yang baru selesai merapihkan alat tulisnya, ia melihat sekitar untuk mencari Akira.
"Hmm, dimana Akira?" setelah ia melihat sekitar ruangan, ia pasrah saja, "lupakan . . ."
Dikarenakan orang yang dicari tidak ada, Noa berjalan menuju keluar kelas untuk pergi ke kantin.
Tapi ketika ia berbelok setelah keluar dari kelas,
"DORRRRRR!!!!!"
"Woaa, sedikit kaget" Noa terkejut.
"Hahahahaha, wajahmu terlihat terkejut begitu!" tawa Akira yang barusan mengagetkannya.
"Aku sudah memiliki perasaan buruk soal itu. Makanya aku sudah rada bersiap jikalau akan terjadi hal seperti ini" Noa beralasan.
"Baiklah lupakan. Kamu mau kemana?" tanya Akira.
"Ke kantin. Kamu sendiri?" tanya balik Noa.
"Mengikuti mu!" jawab Akira dengan wajah menyeramkan.
"Ok" Noa langsung berpaling dan berjalan menuju kantin.
"Loh . . . . . ." bingung Akira. "Hei tunggu!" Akira mengejarnya dan berjalan di sampingnya.
...[Di kamar mandi kelas 10]...
Aku dan Sagi sedang mencuci tangan di wastafel setelah buang air kecil. Di saat sedang mencuci tangan, aku sedikit melamun karena kembali mengingat wajah Hana yang cantik tadi.
Tanpa kusadari, hal itu membuatku senyum-senyum sendiri sembari memainkan air keran wastafel.
"Nico . . . . ." Sagi memanggilku, tetapi aku tidak mendengarnya karena masih senyum-senyum sendiri.
...[BUGGGG]...
Sagi baru saja melandaskan tamparan tangannya ke kepalaku sampai aku kembali sadar.
"Hei! apa-apaa-" kesal ku sembari memegang kepalaku.
"Dasar autis. Senyum-senyum sendiri, seperti orang gila," Sagi membasuh wajahnya, "apakah ini efek setelah kamu pacaran?"
"Aku belum pernah bilang ke siapa-siapa tapi . . . . bagaimana kau bisa tahu?" bingungku.
"Jangan bodoh. Mungkin hampir semua orang tahu" Sagi mengambil ponsel di saku celananya.
"Maksudku, bagaimana bisa?" bingungku kembali.
"Mungkin karena ini," Sagi menunjukkan ku suatu foto.
Aku mengambil ponselnya Sagi untuk melihatnya lebih jelas. "Hah?" kaget ku.
"Harusnya kau tahu maksudnya ini Nico" ucap Sagi sembari memandang dirinya sendiri di cermin wastafel.
"Aku tahu, tapi . . . . ternyata tebakanku tidak meleset juga."
Aku melihat foto ku bersama Hana di parkiran sekolah kemarin sore. Sepertinya Elsa memotret kami berdua di jendela gedung sekolah atas. Foto itu didapat dari story medsosnya Elsa, sebelum akhirnya dihapus oleh dia sendiri satu jam kemudian setelah banyak yang melihatnya.
"Itu benar Nico."
"Kemungkinan ya" Sagi menoleh ke wajahku. "Kira-kira berapa persen tebakan kita barusan?"
"Menurutku, masih 30%" jawabku.
"Jadi menurutmu . . . . kau belum merasa kalau kau telah membuatnya menghilang dari kota ini setelah ia melihat dirimu berduaan dengan Hana?"
"Bukan begitu Sagi. Aku hanya tidak yakin kalau itu semua salahku" kesal ku sembari memukul keramik wastafel.
"Lalu apa pemikiran mu?"
Aku menundukkan kepala, kemudian kuangkat kembali untuk melihat wajahku sendiri di cermin. "Apa kau akan percaya jika Elsa itu sebenarnya diculik, bukan hilang?"
Setelah dari kamar mandi, kami berjalan menuju koridor mengarah ke kantin. Ketika aku dan Sagi berjalan sembari berbincang-bincang, seseorang menyapa kami dari belakang.
"Yo, kalian berdua!" suara itu rada tidak asing.
Kemudian aku dan Sagi berbalik badan untuk melihat siapa orang yang memanggil itu.
"Ehh . . . ." kami berdua terkejut.
"Wah, sudah lama tidak berjumpa lagi ya?" Touré telah kembali sekolah.
"Touré!" kami berdua terkejut.
"Apa kau melihat V? perasaan tadi dia masih disini."
"Oh Touré maaf!"
Lalu kami bertiga melihat siapa yang datang.
"Oh, ada kalian berdua" V terkejut. "Maaf Touré, tadi aku dipanggil sama Pak Eden sebentar."
"Pak Eden? wali kelas kalian ya?" tanya ku.
"I . . . iya, beliau adalah wali kelas kami."
"Yo V, kalau begitu, ayo kita ke lapangan" ajak Touré.
"Okey dokey" V mengikuti kemana Touré pergi.
Setelah mereka berdua pergi, aku dan Sagi sempat sedikit melihatnya beberapa saat untuk mengamati sikapnya.
"Sepertinya mereka berdua semakin dekat dari biasanya" heran Sagi.
"Wajar saja, mungkin efek dari hantaman di kepalanya Touré itu ahaha" canda ku.
Sagi memukul bahuku, "Bodoh, ayo pergi."
"Aww, okey okey."
Lalu kami berdua jalan menuju kantin kembali.
...[Di kantin]...
Setelahnya di kantin. Aku dan Sagi melihat sekitar kantin untuk mencari bangku kosong. Karena tumben sekali hari ini kantin sangat ramai. Dan tidak mungkin sedang tidak membahas mengenai kasus Elsa yang menghilang saat ini.
Lalu tiba-tiba seseorang mendorong ku dari belakang, "DORRRR."
Aku tidak terkejut, tetapi aku sedikit terdorong. Dan setelah aku lihat ke belakang, tidak lain dan tidak bukan adalah . . .
"Tumben kamu ke kantin, Nico" ya, itu Akira.
"Loh, kakak sendiri ngapain disini," dan aku melihat orang di sebelahnya, " lalu . . . . . pacar kakak?"
"Hah?" mereka berdua sama-sama terkejut.
"Tidak-tidak, aku teman sekelasnya" elak Noa.
"Huh? tumben juga kakak punya teman . . . ." sindir ku.
"Adik sialan," Akira memukul kepalaku.
"Hei hei sudahlah" Noa menenangkan Akira.
"Senior, kamu siapa sih sebenernya?" tanyaku pada Noa.
"Ouh maaf telat memperkenalkan diri," dia menghadap padaku. "Namaku Justin Noa, panggil saja Noa. Teman sekelasnya Akira."
"Hmm, seleb juga toh."
"Anu, Nico" Sagi memegang pundak ku.
"Hmm?" aku menoleh ke wajah Sagi yang sedang melihat sesuatu.
"Kurasa mereka sedang membicarakan--"
"Ya ya, aku tahu kok" aku melihat sekitar kantin, "sudah dalam pikiranku kalau hal ini memang sangatlah . . . . . tidak biasa."
Ya, kini aku berdiri di kantin bersama Sagi dan kakak kelas, sembari mendengarkan . . . . . berita yang panas hari ini.