INFAMOUS

INFAMOUS
Asmara, Sekali lagi!



...[SRRRTTTTT]...


Pintu kembali terbuka. Seketika aku dan Sagi reflek menatap ke arah orang yang membuka pintu. Ternyata itu adalah Elsa yang baru masuk ke dalam kelas.


Sagi membisik kepadaku, "hei, bagaimana kau dengannya tadi?"


"Semua kacau. Tapi sebenarnya aku berterimakasih."


Elsa berjalan menuju mejanya dan duduk di kursinya. Lalu ia mengambil ponselnya dan memainkannya. Entah aku malah merasa cemas. Setelah ia tahu identitas ku, aku merasa hidupku terasa terbebani.


"Apa yang kau lihat Nico?" Sagi menepuk pundak ku.


"Tch, bukan apa-apa" lalu aku kembali tiduran di meja ku.


Beberapa saat kemudian, Bu Ellie datang untuk mengisi jam pelajaran. Semua kembali tentram setelah Bu Ellie masuk.


...[KRINGGGGGG]...


Setelah pelajaran selesai, Bel pulang akhirnya berdering. Hari ini adalah jadwal piket kelas. Aku sudah meminta Hana untuk menunggu di luar jika ingin pulang bareng. Seperti biasa, memutar musik di headset, lalu membersihkan kelas dengan santai.


Untuk semester satu ini belum ada pelajaran yang menyangkut paut dengan sosial media. Mungkin alasannya karena belum waktunya memikirkan dunia maya untuk saat ini.


Bagus juga ternyata. Tidak selamanya harus fokus dengan sosial media terus. Aku bisa tenang jika seperti ini. Tetapi tidak jika seseorang masih mengetahui identitas ku.



"Huff, kurasa semua sudah bersih!" banggaku.


Lalu aku mengambil tasku dan berjalan keluar. Tetapi sebelum itu ada yang ingin ku cek terlebih dahulu.


Ya, benar. Mejanya Elsa.


Sebelum itu, aku mengecek murid-murid yang lain. Apakah mereka sudah pulang atau belum. Jika sudah sepi, tinggal datang ke meja Elsa saja.


Aku menunduk dan melihat di kolong meja Elsa. Di situ aku melihat banyak sekali kertas yang sudah disobek-sobek. "Apakah aku harus melihatnya?"


Karena penasaran, aku melihatnya satu persatu. Tidak ada yang membuatku tertarik. Setiap kertas hanyalah gambar seseorang yang tidak ku kenal. Sayangnya kertas itu sudah disobek olehnya.


"Baiklah, kurasa itu saja yang perlu ku lihat."


Setelah itu aku pergi keluar dan menutup pintu kelas.


...[SRRRTTTTT]...


"DORRRRR!!"


"Waaaaa!!!!" aku terkejut.



"Konyol sekali. Begitu saja kaget" ejek Hana.


"Aku lupa kalau kamu ada disini, hehe."


"Dih, padahal kamu sendiri yang menyuruhku untuk menunggu di sini," Hana kesal. Ia berpaling dan berjalan menuju koridor pintu keluar. "Tau begitu, aku tidak usah menunggu tadi."


"Hei . . . . i . . . iya maaf!" aku mengejarnya.


Lalu kami berjalan bersama menuju pintu keluar gedung sekolah.


Sesudahnya di luar, tentu saja aku akan pergi ke tempat parkir. Aku merasa senang karena sudah diperbolehkan membawa mobil ke sekolah.


Oiya, yang boleh membawa mobil ke sekolah itu, adalah orang-orang yang sudah 17 ke atas. Beruntungnya aku, umurku sekarang 17 sih.


Aku memang sudah belajar mengemudi sebelumnya meski usiaku belum menginjak 17 tahun. Tetapi dari umur segitu, aku sudah mengerti tata cara untuk mengendarai mobil dan mengetahui rambu-rambunya.


Intinya aku sangat senang sekali, karena sudah diperbolehkan membawa mobil ke sekolah. Sekolah terbaik, berharap saja.


"Hmm?" aku menoleh ke wajahnya.


Sembari berjalan ke mobil, kami berbincang-bincang sedikit.


"Apa yang kau bicarakan dengan Elsa tadi?"


"Ee . . . ehh, untuk apa kau tahu itu?" aku memalingkan wajahku.


"Huuu, mencurigakan."


Setelah sampai, aku langsung membuka pintu mobil dengan kunci mobilku. Lalu menyalakan mesin untuk memanaskannya sebentar. Sembari menunggu, aku melihat ke langit yang indah di sore hari.


"Entah, pemandangan di sore hari itu selalu menenangkan" kata ku sembari melihat ke atas.


"Aku malahan lebih suka di pagi hari" kata Hana yang juga melihat ke atas.


"Menurutmu begitu?" aku memandang wajahnya.


Entah, disaat aku melihat wajahnya yang sedang melihat ke atas, aku seperti merasakan sesuatu yang sebelumnya pernah kurasakan. Momen ini sangatlah indah menurutku. Karena aku bisa melihat 2 hal terindah yang pernah kulihat dalam hidupku.


"Apakah, ku tembak saja dia sekarang disini?" pikirku.


Kurasa ini memang momen yang pas untuk menyatakan perasaanku padanya. Tetapi seketika aku juga ingat dengan pernyataan Elsa padaku. "Ahh persetan, aku lebih memilih Hana daripadanya."


"Hana . . . " aku memanggilnya.


"Ya?" lalu ia menoleh ke wajahku.


Parasnya yang cantik. Rambut pendeknya yang terkibas oleh angin sore hari. Membuatku semakin ada rasa dengannya yang cantik.


"Apakah . . . ." aku menarik nafas.


Ekspresi Hana berubah. Ia menghadap kepadaku. Seolah-olah dia tahu apa yang akan kukatakan.


"Apakah, kamu mau jadi pacarku?" akhirnya aku mengungkapkannya.


Hana terkejut dengan wajah memerah. Ia menutup mulutnya dengan tangannya seolah-olah tidak percaya kalau aku akan mengatakannya langsung.


Aku merasa lega setelah mengungkapkan perasaanku ini. Seolah-olah beban yang ada di hidupku terasa hilang semua. Meski hanya kalimat yang mungkin menurut beberapa orang sepele, tetapi untuk lawan jenis, kalimat ini adalah sesuatu yang sangat spesial. Apalagi jika memiliki perasaan cinta.


Hana tersenyum. Ia menundukkan kepalanya dan sedikit tertawa, "iya."


"Hee?" aku kurang mendengarnya.


Ia mengangkat kepalanya dan tersenyum kepadaku. "Ya, aku menerimamu menjadi pacarku!"


Sejak saat itu, entah mengapa hidupku terasa kembali terang. Sudah lama sekali aku tidak merasakan perasaan ini. Terakhir kali aku merasakan hal ini ketika aku masih duduk di bangku SMP. Dan itu adalah harapan palsu yang kupikirkan.


Berharap saja aku tidak terjatuh di lubang yang sama. Aku mencintai Hana. Suatu saat aku akan menikahinya nanti ketika sudah lulus. Aku akan menjaganya sepenuh kasih sayangku.


"Haha" aku menundukkan kepala dan sedikit tertawa.


"Hmm?" Hana heran denganku.


Aku mendekatinya, lalu memberanikan diri untuk memeluknya. "Terimakasih Hana. Kau sudah mengembalikan hidupku!" aku memeluknya dengan memejamkan mata seolah-olah hidupku cerah kembali.


Hana yang terkejut karena ia dipeluk oleh ku, ia kemudian tersenyum. Lalu Hana memelukku kembali. Itu adalah hari dimana aku dan Hana mulai berpacaran.


Aku tidak peduli jika Elsa mengancam ku dengan membocorkan identitas ku. Aku masih punya rencana cadangan yang tidak ingin ku gunakan untuk hal sepele seperti itu.


Akira yang baru selesai ekskulnya, sedang berjalan menuju ke gerbang luar. Secara tidak sengaja ia melihatku yang masih berpelukan dengan Hana. "Tunggu, itu adikku?"


Akira diam-diam mengendap-endap bersembunyi di tembok sembari mengintip ku. "Tidak disangka-sangka!" Akira merasa senang dengan yang kulakukan itu.