INFAMOUS

INFAMOUS
Belum berakhir



Hana masih mencari barang yang ia cari. Seolah-olah barang itu sangat penting menurutnya. Aku belum tahu apa yang ia cari. Karena aku juga sedang di kamar mandi.


Aku yang di kamar mandi baru saja mematikan telepon. Sedikit terkejut dengan apa rencana Zico. Kemudian aku ingin segera menemui Hana untuk izin pergi menemui teman-temanku.


Aku baru saja keluar dari kamar mandi. Namun ada suara gaduh dari kamar ku. "Apa Hana sampai segitunya menggeledah kamar ku?"


Aku mendatanginya dan mengintip apa yang sedang ia lakukan. Tapi . . . . tidak seperti yang ku duga. Hana sedang merangkak di lantai sekitar kasurku. Ia sangat menggoda sekali.


"Kira-kira apa yang ia cari?"


Aku perlahan berjalan menghampirinya. Awalnya aku ingin mencoba mengejutkannya. Tapi aku seketika kembali sadar tujuan ku sebelumnya.


"Hana!" aku memanggilnya.


"WAAAAA!" ia sangat terkejut sekali.


"Eum, apa yang kau lakukan?" tanya ku.


"T . . . tidak, aku hanya mengecek kebersihan kamar mu. Hehe."


Aku tahu kalau Hana berbohong. Lagipula aku juga sudah mengganti akun di komputer ku. Dan juga lemari rahasia ku berada di balik ranjang kasur. Itu juga hanya bisa dibuka dengan memasukkan password di padlock di bawah ranjang ku.


Berharap dia tidak akan menemukan topeng ku.


"Yaaa . . . .itu bagus sih. Kamar ku selalu bersih."


"Kenapa wajahmu terlihat cemas begitu?" Hana sedari tadi mengamati reaksi wajahku.


"Ah aku? eum . . . ." aku mencoba cari alasan agar lolos dari sini. "Aku lupa kalau aku memiliki janji dengan Sagi sepulang sekolah!" malah sedikit jujur.


Reaksi Hana seolah tidak percaya. Tapi, "oh. yasudah silahkan. Nanti akan ku bersihkan kembali apartemen mu ini."


Dia memperbolehkan ku untuk meninggalkan nya. "Baiklah, kalau mau keluar. Kunci pintunya nanti ya? dadah!" dengan cepat, aku mengambil kunci mobil dan keluar dari apartemen.


Hana sedikit senang ketika aku pergi. Sebenarnya ia menggeledah kamarku bukan untuk mencari identitas ku sebenarnya. Melainkan ada sesuatu yang ingin dia cari.


...[Kembali ke hari Kamis kemarin]...


Akira dan Hana sedang bercanda di ruang tamu.


"Oiya, aku ingin ke kamarnya Nico deh" Akira beranjak dari sofa.


"Eum tapi senior, kamar Nico dikunci."


"Hah, benarkah?" Akira mencoba masuk ke dalam kamarku.


Ternyata memang benar dikunci. "Huh, anak ini ya . . . ."


"Memang kira-kira ada apa di dalam kamar Nico?" tanya Hana.


"Yah, tidak terlalu menarik sih. Paling hanya komputer miliknya, identitas di sosmed nya, dan juga fotonya ketika masih SD yang selalu disimpan terus" Akira mengingat-ingat.


"Eh?" reaksi Hana tiba-tiba menjadi terkejut.


Akira menoleh dan memandang wajah Hana. "Hmm? kenapa wajahmu seperti terkejut begitu?"


Hana seperti kembali teringat momen masa SD nya. Ia merasa kalau memang pernah melihat wajah Nico sebelumnya.


"Aku harus segera meminta Nico untuk membiarkan ku masuk ke dalam kamarnya!"


"Tidak mungkin sih. Identitas dia di sosmed kan sangat rahasia. Kau tidak boleh sembarang mengetahuinya."


"Bukan itu yang kuinginkan" nada Hana sedikit naik.


"Eh?" Akira terkejut.


"Anu maaf, apa aku mengejutkan senior?"


"Tidak. Hanya saja kamu mengingatkan teman Nico ketika SD dulu."


Hana ditambah terkejut dengan kata-kata itu. Ia sedikit kembali ingat dengan masa-masa SD dulu.


...[Kembali ke momen]...


Hana melihat ke bawah ranjang ku. Ia menemukan padlock yang harus memasukkan password nya agar terbuka.


"Hmm, apa aku harus bertanya dengan senior lagi?" Hana mengambil ponselnya, lalu ia menelpon Akira.


...[Kembali kepadaku]...


Aku baru saja sampai di taman. Teman-teman sudah berkumpul semua. Dari kelas A, ada Sagi, Bast, dan Dysa. Dari kelas C, ada Zico dan V. Dan dari kelas D, ada Ellé, Xenon, dan Yoka.


"Kemana Touré dan Okocha?" pinta ku.


Zico menjawab. "Touré ada kerjaan dari atasannya. Kalau Okocha,"


"Okocha sedang sakit. Ia beristirahat di rumahnya" Dysa menjawab.


"Loh, katanya kau tidak kenal dengan Okocha?" heran ku.


"Aku hanya mendengar dari murid di sekitar ku."


"Dan kedua. Kenapa kau masih ikut? padahal tidak ada Okocha?" tanya ku kembali.


"Oh. Apakah aku boleh pulang?"


"Aku yakin kalau dia masuk kelas A karena kebodohannya" bisik ku pada yang lain.


Yang lain mengangguk karena sepemikiran.


"Baiklah Dysa," aku menghampirinya. "Kita akan kembali ke supermarket dekat apartemen mu."


"O . . . oke . . ."


Dan kita semua berangkat menuju TKP dimana Dysa melihat kejadian sebelumnya. Sesaat mereka semua sedang berjalan, aku menarik Sagi untuk membisikkan sesuatu.


"Sagi, sini sebentar."


"Hmm?" Sagi berhenti untuk mendengarkan ku.


"Jujur saja. Kemarin aku datang ke sel Leo ditahan."


"Benarkah?" Sagi terkejut.


"Baiklah. Aku memiliki rencana untuk menjebak sang pelaku."


Sagi akan mendengarkan apa yang ku bisikkan padanya. Ia mengangguk dan memahami apa yang ku rencanakan.


"Semoga berhasil" Sagi dan Aku melakukan tos.


Dan kita melanjutkan perjalanan menuju supermarket di dekat apartemen Dysa.


...[Sementara itu]...


Ünder dan Wayne sedang berbelanja di supermarket. Mereka langsung berbelanja setelah sepulang sekolah.


"Wayne, hari Senin kau akan rapat dengan komunitas baru mu kan?" pinta Ünder.


"Kurasa. Aku juga terkejut kalau juga akan masuk ke dalam organisasi itu."


Mereka berdua jalan keluar dari supermarket sembari berbincang-bincang.


"Dan juga aku belum tahu jelas tujuan organisasi itu."


Wayne menatap ke depan. Ünder juga menatap ke depan untuk melihat apa yang dilihatnya.


"Ünder, bukankah itu . . . ."


"Murid-murid kelas 10. Dari sekolah kita."


"Kurasa mereka berbeda-beda kelas."


Wayne dan Ünder melihat kami yang sedang berkumpul di pojokan pagar supermarket.


"Wanita nya hanya 3. Kau yakin itu bukan sedang melakukan pelecehan kan?" pinta Ünder.


"Bagaimana kalau kita cari tahu?" Wayne menghampiri kami.


Ia berjalan mendatangi kami dengan wajah curiga.


"Hei, kalian" Wayne memanggil kami.


Kami semua menoleh kepada Wayne yang memakai seragam yang sama dengan kami.


"Eum, kalian berdua siapa?" tanya Ellé.


"Kami? hanya murid yang lewat."


Sagi kemudian melihat dua orang itu. "Loh, kalian dari kelas B bukan?"


"Kau mengenalnya Sagi?" tanya ku.


"Aku pernah melihat wajahnya ketika melewati kelas B saat itu" Sagi mengingatnya.


"Yah itu benar. Kalau boleh bertanya, apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Wayne.


"Jujur saja sebenarnya ini rahasia. Tapi . . . ." Ellé melirik wajahku.


Aku hanya mengangkat kedua bahuku.


"Sedang ada misi rahasia!" jawab Ellé.


"Huh, konyol" bingung Ünder.


"Ya ini memang konyol menurutku."


Semua orang memandang Sagi.


"Apa kalian tidak sadar? beberapa murid dari kelas A sampai D ada disini semua?"


"Oh, iya. Sebuah kebetulan" aku mengerti apa yang dimaksud Sagi.


Lalu aku memandang semua orang. "Di sebelah sini ada dari kelas A. Lalu kalian berdua dari kelas B. Disini juga ada kelas C. Dan juga ada kelas D. Fascinating!"


"Wew kebetulan yang menakjubkan."


Kami semua tertawa oleh karena kebetulan itu saja. Ternyata kebahagiaan itu bisa didapatkan dari hal kecil juga.


Dan itu membuatku dapat kesempatan untuk kembali ke jalanan dengan perlahan. Untuk kembali mensimulasikan diri ke momen saat itu.