INFAMOUS

INFAMOUS
Nico & Zico



Ternyata benar. Teman yang di sebelah V adalah Zico, member terpilih dari organisasi OutFamous yang dibuat oleh Bu Ellie.


"Yo!" sapa dia. "Tidak ku sangka akan bertemu denganmu lagi . . . " Ia tersenyum menyeringai kepadaku, "Mikhail Nico."


Dan ini adalah pertama kalinya kami berdua akan berinteraksi satu sama lain sesama anggota dari organisasi OutFamous. Kini aku hanya tinggal mendekatkan diri dengannya agar aku lebih dipercaya dengannya.


"Sulit dipercaya, ternyata itu kau ya?" ucapku.


"Loh, kalian saling kenal?" tanya Sagi.


"Tidak. Aku baru mengenalnya kemarin, meski tidak terlalu akrab" lalu dia mengulurkan tangan, "akankah kita bisa lebih dekat, Nico?"


Aku berpikir sebentar sebelum bersalaman dengannya. Ada beberapa pikiran di otakku jika aku bersalaman dengannya. Pertama, apakah dia sedang memanfaatkan ku dalam sesuatu? kedua, atau dia memang ingin benar-benar akrab bersamaku? ketiga, atau ia hanya ingin terlihat friendly di depan orang-orang?


Lupakan saja. "Bisa jadi, Zico!" pada akhirnya aku pun bersalaman dengannya.


Dia menggerakkan tangannya. "Wah, ternyata sulit dipercaya juga. Seseorang seperti ku dapat bersalaman dengan seleb sosmed terkenal ke--"


Sebelum dia menyelesaikan kalimat itu, aku menekan tangannya agar dia kesakitan. "AKHHH, LEPASKAN!"


Setelah dia melepaskan genggamannya, ia memegangi tangannya karena merasa kesakitan akibat cengkeraman tanganku.


"Orang ini . . . ." aku memasang wajah curiga, "sepertinya dia tahu identitas ku!"


"Hei hei tenanglah kalian berdua" V meleraikan kami.


"Tidak V, kami hanya bercanda kok," lalu dia memandang wajahku, "iya kan Nico?"


Wajah yang mengesalkan nya itu membuat ku ingin meninju wajahnya sampai knock-out dalam 1 babak. Tapi sayang sekali, masih banyak yang ingin ku pertanyakan kepadanya.


"Ya, kami hanya bercanda" kata ku sembari sedikit tertawa.


Lalu kami berempat akhirnya makan bersama dan berbincang-bincang membahas gadis-gadis yang ada di sekolah ini. Aku pura-pura mengerti saja apa yang mereka bicarakan, padahal aku sangat tidak suka jika pembahasan seperti ini.


...[KRINGGGGGG]...


Waktu berlalu. Bel masuk sudah berdering. Disaat aku sedang di kamar mandi, Sagi sudah pergi duluan bersama V dan Zico. Setelah aku keluar dari bilik kloset, aku mencuci tangan di wastafel.


"Wah, tidak ku sangka kita bertemu kembali" ucap seseorang di sebelahku


Setelah aku membasuh wajahku, aku langsung menoleh ke samping untuk melihat siapa yang bicara.


"Yo, Nico" ternyata itu adalah Zico yang sedang mencuci tangannya juga.


"Zico, ku pikir kau ke kelas mu bersama V atau Sagi?"


Zico tertawa. "Tidak tidak, perut ini sudah tak tertahan lagi."


Setelah Zico mengeringkan tangannya, ia hendak untuk pergi.


"Tunggu dulu!" aku memanggilnya.


Zico berhenti, tetapi belum membalikkan badan. "Hmm?"


"Banyak sekali yang ingin kutanyakan!"


Lalu Zico membalikkan badan, "silahkan saja!"


Zico berjalan dan duduk di wastafel, sedangkan aku bersandar di tembok.


"Apa yang kau tahu dariku, Zico?"


Zico mengangkat alisnya, "maksudmu?"


"Tidak usah berpura-pura bodoh. Aku tahu kau mengetahui identitas ku!" aku jalan mendekatinya.


"Jika kau tahu identitas mu sendiri, mengapa bertanya kepada orang lain, huh?" tawa Zico.


Aku menarik kerah bajunya. "Apa yang barusan kukatakan adalah sebuah lelucon?"


"Hei hei, tenanglah. Apa yang membuatmu marah begitu?"


"Ini terkait dengan identitas ku, jangan harap kau bisa membocorkan iden--"


...[BRUGGGG]...


Pintu kamar mandi terbuka.


"HEI!"


Kami berdua menoleh ke arah pintu.


Ternyata itu adalah sekuriti sekolah yang sedang berpatroli.


Awalnya kami berdua diam sebentar. Lalu aku melepas genggamanku dan mendorong Zico. Kemudian aku menarik lehernya dan membisikkan nya, "sepulang sekolah, temui aku di Heat Cafe. Kafe yang berada di dekat sekolah. Jika tidak datang, aku akan membunuhmu di hari itu juga!" lalu ku dorong ia kembali sampai terbentur cermin wastafel.


Setelah itu, aku meninggalkan kamar mandi dan menuju ke kelas.


"Hei, apa kau tidak berani melawannya?" canda sekuriti itu.


"DIAMLAH!" bentak Zico.


...[Di kelas]...


Aku membuka pintu kelas. Ternyata pelajaran sudah dimulai. Semua orang matanya tertuju kepadaku yang baru saja datang dari kamar mandi.


Bu Ellie yang menulis juga melihatku, "darimana saja kau Nico?"


"Maaf telat Bu. Aku barusan dari kamar mandi" aku menundukkan kepala dan meminta maaf.


"Huh ada-ada saja. Cepatlah kembali ke kursi mu. Beruntung saja pelajaran baru dimulai" Bu Ellie memaafkan ku.


"Baik!" aku menutup pintu kelas kembali dan berjalan menuju kursi ku.


Setelah aku duduk, aku langsung membuka tas dan mengambil buku. Sagi menghadap ke belakang dan bertanya, "selama itu kah di kamar mandi?"


"Aku sedang BAB. Kembalilah menghadap ke sana!" sembari mendorong-dorong bahu Sagi.


Setelah ia kembali menghadap ke depan, kini Hana yang melirik lirik ke wajahku. Aku berusaha untuk menghiraukannya, tetapi ketika aku kembali meliriknya, ia malah memalingkan wajahnya.


"Dih, Aneh" heran ku.


Seiring berjalannya waktu. Aku mengikuti pelajaran Bu Ellie seperti biasanya. Tetapi aku juga memiliki perasaan tidak enak dan tidak sabar untuk menginterogasi Zico di kafe nanti. Tapi apakah dia tahu lokasi kafenya? jika tidak, akan ku seret dia dari rumahnya sampai ke rumahku untuk ku mutilasi. Bercanda.


...[KRINGGGGGG]...


Bel pulang berdering. Aku dengan cepat memakai headset ku dan langsung menyetel musik. Setelah itu aku membereskan buku-buku di meja dan kumasukkan ke dalam tas. Kemudian aku langsung beranjak dari kursi ku dan menuju keluar.


Hana yang melihatku berjalan duluan memanggilku, "Nico, apakah kau ma--"


"Maaf tidak sekarang Hana. Aku masih ada urusan setelah ini!" aku menolaknya dengan terburu-buru tanpa melihat ke belakang.


Lalu aku keluar dari kelas dan cepat-cepat keluar dari gerbang sekolah.


"Eum Hana, apa kau merasakan ada yang aneh darinya?" tanya Sagi.


"Baru saja Nico melakukannya . . . ." jawab Hana dengan bersedih hati.


"Aneh, padahal aku sedang membahas Elsa. Kenapa kau jadi membahas Nico?" heran Sagi.


Hana terkejut dan melihat ke Sagi. "Eh Elsa? eh?" Hana malu.


Lalu ia langsung keluar dari kelas dan meninggalkan sekolah secepat mungkin untuk menutupi rasa malunya itu.


"Orang aneh, akhir-akhir ini huh . . . ." Sagi memegang dahinya sembari menundukkan kepala. Lalu ia melihat ke Elsa yang baru beranjak dari kursinya setelah membereskan perlengkapannya. "Entah, aku seperti pernah melihat gadis itu di suatu tempat. Tapi kapan ya?"


...[Sesampainya di Kafe]...


Aku sudah memesan es kopi dan duduk di balkon kafe lantai 2. Aku masih menunggu kehadiran Zico untuk datang kemari. Sembari menunggunya datang, aku minum es kopi ku dan melihat beranda sosmed.


Dari yang kulihat lihat isi beranda ku sekarang adalah, masih tentang kemenangan pertandingan Manchester United kemarin malam. Selain itu yang membuatku tertarik adalah, berita mengenai kasus Leo yang sudah menghantam Touré sebelumnya dengan judul "Murid dari sekolah yang tidak ingin disebut, menyerang murid lain dan mempermainkannya orang-orang terdekatnya sampai mereka terancam dibunuh juga."


"Orang brengs*k ini akhirnya viral juga! sekarang aku ingin melihat akunnya di sosmed miliknya" lalu aku mengunjungi profil sosmed Leo untuk melihat keadaannya.


Yang kulihat di profilnya. Dari followers nya 2,3 juta malah menambah menjadi 3 juta. "Loh loh, ada apa ini?" heran ku.


Meski Leo belum post lagi, tetapi komennya sudah ramai sekali. Bukannya mendapat komentar negatif, tetapi malah kebanyakan komentar positif. Isinya rata-rata yang komen di postingannya adalah, cewek-cewek yang bodoh dan tidak tahu apa-apa mengenai kasus ini.


Rata-rata isi komennya adalah, "Pasti kesalahan besar ini! dia tidak mungkin bersalah!" , "Tenang ya Leo! pasti kamu bisa membuktikan kalau kamu ga bersalah!" , "Orang setampan ini bisa kena kasus? ini hanya akal-akalan saja!"


Dari yang kulihat rata-rata isi komen ini membuatku muak dengan platform sosmed yang sedang ku gunakan saat ini. Bukan ZiuTube ya! melainkan Hit-Hot. Rata-rata pengguna platform itu adalah wanita. Wanita yang bodoh biasanya memamerkan tubuhnya di postingannya untuk menarik perhatian laki-laki agar ia mendapatkan penghasilan yang banyak. Bodohnya aku juga menggunakan platform ini sebagai mencari berita dan info lainnya, tetapi aku menggunakan platform ini sebagai mencari subscribers, followers di akun sosmed ini, dan sebagai informasi berguna untukku lainnya. Bukan untuk melihat kebodohan yang orang lakukan di sosial media saat ini.


Selang beberapa waktu, aku merasa ada seseorang yang berdiri di di depanku. "Zico ya? duduk sebelum ku bunuh kau. Aku sedang dalam mood yang bagus untuk saat ini." Aku berpikir kalau ia adalah Zico.


Tetapi ia sedari tadi tidak menjawab pertanyaan ku dan tidak melakukan apa yang ku minta. Karena aku mulai kesal, aku langsung melihat ke wajahnya dengan wajah emosi, "Sudah kubilang duduk, Zic--"


Terkejutnya aku setelah melihat siapa yang berdiri di hadapanku.


"Hah kenapa? pukul aku sini! wleee" ternyata itu adalah Akira, kakakku yang entah bagaimana bisa menemukan ku di sini. "K . . .kakak?"