INFAMOUS

INFAMOUS
Nico & Zico (2)



Di saat aku sedang menunggu Zico, secara kebetulan dan tampa disengaja, aku bertemu dengan kakakku, Akira. Entah bagaimana kebetulan ini bisa terjadi, yang pasti aku tidak menyangka sampai sejauh itu.


"Nico, adikku yang ku sayangi. Bagaimana kau bisa ada disini?" goda Akira.


"Apakah pertanyaan ini tidak terbalik?" aku memasang wajah heran.


"Iyakah? aku memang ingin membeli es kopi untuk ibu juga sih. Jadi aku benar, seharusnya aku yang bertanya bagaimana kamu bisa ada disini?" gumam Akira.


"Bukan urusan kakak intinya . . . ." aku menundukkan kepala dan kembali melihat beranda hp.


Akira yang melihat sikap aneh ku, ia langsung duduk di bangku meja ku tanpa pikir panjang.


Aku mengangkat kepala, "Hei hei, apa yang kau pik--"


"Huuuuu, sedang janjian ya? wah parah banget kakak ga diajak . . . . " ledek Akira.


"Kalau sudah tahu begitu, sekarang pergiiii," kesal ku.


"Tidak. Sebelum kamu ceritakan apa yang kamu lakukan disini" ucap Akira sembari meminum es kopinya.


"Sial, kalau kakak tahu siapa orang yang kutemui bisa saja . . . ." seketika aku kepikiran sesuatu.


"Oke-oke, aku akan cerita" jawabku.


"Yayyy, tumben tumben ban--"


Dengan cepat aku berdiri dari kursi dan mencondongkan badanku ke depan. "Tapi ada satu syarat" aku menutup mulutnya sembari mengangkat satu jari di tangan kiri ku.


Akira mengangguk dan mendengung sebagai respon janji. Lalu setelah itu aku lepaskan tanganku dan kembali duduk.


"Baiklah, pertama . . . ."


"Ya memang ada pertama bodoh."


"Maksudku dengarkan terlebih dahulu huhhh, jangan menghancurkan mood seseorang."


"iya-iya, silahkan." Akira menopang dagunya di meja dan akan mendengarkan penjelasan ku sembari meminum es kopinya.


Lalu aku menjelaskan dari kejadian tadi siang di kantin sampai bertemu dengan Zico dari kelas C yang sepertinya mengetahui identitas ku. Untung saja mulutnya belum bocor. Jika saja informasi itu bocor pada hari itu, akan ku bunuh ia dalam hari itu juga. Akira mengangguk dan merespon beberapa penjelasan ku sekarang. Kadang ekspresinya selalu berubah-ubah setiap aku mengganti topik pembicaraan, meski penjelasannya masih satu arah dengan yang ku bicarakan sekarang.


"Zico? namanya rada familiar" Akira mengingat-ingat.


"Iya, namanya sama denganku. Hanya beda Z dan N saj--"


Akira memukul kepalaku. "Bukan bodoh, bukan itu. Ini terkait dengan keluarga."


"Lalu memang dia siapa? bagaimana ia bisa tahu identitas ku?" heran ku sembari memegang kepala dan mengusap bekas pukulan kakak.


Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki terdengar menuju ke meja yang sedang ku tempati. Aku tidak melihatnya karena aku berpikir kalau itu hanyalah orang lain. Akira melihat siapa orang itu, lalu ia akhirnya mengingat wajah yang Akira lihat sekarang.


"Tanya saja pada orangnya langsung." Akira tersenyum sembari menatap seseorang di belakangku.


"Eh?" reflek, aku melihat ke belakang untuk mengecek siapa itu.


"Yo" Zico melambai kepada kami berdua.


Aku terkejut sampai lupa jika tujuanku kemari adalah untuk bertemu dengan Zico. Tanpa pikir panjang, aku langsung menarik tangannya dan memaksanya untuk duduk di bangku sebelah ku. "Duduk atau mati!" tegas ku.


"Tenanglah, aku baru saja datang" Zico sedikit terpeleset.


Setelah semuanya sudah duduk rapih dan saling melirik satu sama lain, sudah waktunya untuk ku membuka pembicaraan.


"Zico jelaskan. Atau kau tidak akan pernah melihat matahari esok." ancam ku dengan lelucon.


Zico sedari tadi memandangi wajah Akira, "Akira?"


"Loh," kaget ku, "bagaimana kau bisa tahu?"


"Haduhh" Akira menepuk jidatnya, lalu dia menunjuk Zico. "Dia ini sepupu kita dasar adik bodoh."


Aku menjatuhkan sendok di meja secara tidak sengaja. Aku terkejut dengan ekspresi tidak percaya. "S . . . s . . . sepupu????"


"Yo," Zico melambaikan tangannya, "paman."


"Haahhhhh????"


Di sini aku sama sekali tidak tahu soal keluargaku dan koneksinya. Maka itu aku selalu menyendiri dan jarang mengikuti acara keluarga pada saat itu. Dan ternyata aku baru sadar jika ternyata aku punya sepupu yang sepantaran denganku?