
...[KRINGGGGGG]...
Bel masuk berdering. Sekarang sudah hari Jumat. Aku terbangun dari meja ku setelah tertidur. Sebelum aku mematikan musik di hp ku, aku mencoba mengecek beranda sosmed sebentar untuk melihat berita.
Namun karena Bu Ellie sudah masuk, dengan cepat aku melepas headset ku dan mematikan ponselku.
"Selamat pagi murid ibu tercinta!" sapa Bu Ellie.
"Selamat pagi juga Bu!" sapa balik semua murid.
Aku melirik lirik seisi kelas untuk mengecek murid-murid. Ternyata Okocha sedang tidak masuk hari ini. Hanya Dysa dan Bast saja yang masuk. Sisanya murid yang belum ku kenal.
"Yo Nico, kemana kau kemarin?" tanya Sagi di depanku.
"Hah? menyelundupkan anak bunglon di depan tong sampah rumah sakit" aku ngelantur.
"O . . . . okei . . . . kalau kamu yang bicara seperti itu, kurasa aku percaya" bodohnya Sagi.
"Bodoh, kau percaya?" Hana ikut nimbrung dari bangku sebelah.
"Hehhhh . . . . benarkah?" Sagi ditambah bingung.
"Tidak ku sangka aku memiliki teman mudah percaya seperti ini" aku menepuk jidat.
"Hei yang di sana! bisakah kalian ingin melanjutkan pembicaraan kalian di depan sini?" tegur Bu Ellie dari depan.
"Tidak, maaf Bu!" aku menundukkan kepala.
Setelah itu, kami melanjutkan pembelajaran sampai jam istirahat berdering.
...[Sementara di kelas 12]...
Akira sedang melamun di mejanya dengan menatap ke luar jendela.
"Melamun seperti itu kurasa sudsh bukan dirimu lagi."
"Hmm?" Akira menoleh.
"Mau permen?" tawar Noa.
"Bodoh, kita sedang dalam pelajaran" bisik kecil Akira.
"Kamu sendiri juga tidak mengamati pelajaran saat ini" Noa memakan permennya.
"Tapi setidaknya aku masuk ranking 100 besar, wleee" Akira melet.
Noa menghiraukan Akira.
...[KRINGGGGGG]...
Bel istirahat berdering. Aku menghampiri Dysa untuk menanyakan kabar Okocha.
"Dysa, apa kamu tahu kemana Okocha?" pinta ku.
"Eh, kamu siapa ya?"
Wajah polos dari Dysa, membuat ku emosi sedikit kepadanya.
"Ini aku, Nico! astaga, baru juga beberapa hari kita bekerjasama!" aku berusaha untuk bersabar.
"Nico? ohhh, si tampan itu ya?"
"Hah? siapa yang bilang begitu?" aku sedikit terkejut.
"Eum . . . aku mendengar dari beberapa murid di sekitar ku dan--"
"Lupakan itu Dysa. Sekarang apa kau tahu kemana Okocha?"
"Siapa Okocha?" pinta Dysa.
Kurasa aku mulai kehilangan kesabaran ku. Namun aku berusaha semaksimal mungkin untuk bersabar. Karena tidak ingin kesal lebih lanjut, aku meninggalkannya dari sana dengan senyuman terpaksa. Dysa kebingungan dengan ku yang tiba-tiba meninggalkan ku.
Karena aku bingung harus bertemu dengan siapa, aku tidak sengaja berpapasan dengan Bast.
"Yo, New Ko" sapa Bast.
"New Ko?"
Aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Karena aku punya tujuan lain, aku melewatinya dan meninggalkannya.
"Kau pergi begitu saja?" dia memanggilku.
Aku menoleh ke belakang. "Hmm?"
"Kau mencari Okocha bukan?" dia menghadap padaku.
"Bagaimana kau tahu?" aku juga berbalik dan menghadap kepadanya.
Mata orang ini seperti pembunuh berdarah dingin. Bagaimana bisa dia tahu apa yang ingin ku cari? sekarang aku mulai memasang reaksi curiga terhadap orang ini.
"Oh, aku juga mencarinya kok, hahahaha!" dia tertawa dengan tangan di kepalanya.
"O . . oh benarkah begitu? hehe" aku ikut tertawa saja meski bingung.
Setelah itu dia meninggalkan ku entah kemana. "See ya later!" Bast melambai padaku.
Aku berdiri memandanginya pergi berjalan. "Orang itu . . . "
Aku berbalik dan menuju ke arah kantin. Seketika aku kembali teringat dengan kata-kata Leo di sel saat itu. Entah, kini aku mulai percaya apa yang dikatakan oleh Leo sebelumnya.
...[Beberapa saat kemudian]...
Aku masuk ke dalam kantin untuk mencari Sagi. Sementara itu, dua orang turun dari tangga. Mereka sedang berbicara.
"Jadi Ünder, apa maksudmu dengan hilangnya Elsa?" pinta Wayne pada Ünder.
"Kau kenal Elsa kan, Wayne? dia sebelumnya dari kelas kita loh" Ünder menjelaskan.
"Iya aku tau. Maksudku bagaimana dia bisa menghilang?" Wayne berhenti di tangga.
"Kalau ku tahu, pasti aku sudah memecahkan masalah ini secepatnya" tawa kecil Ünder.
Wayne diam berpikir-pikir. Ia melamun seperti sedang memikirkan sesuatu. Ünder yang melihatnya, ia berhenti juga.
"Kau suka dengan Elsa bukan?" pinta Ünder.
Wayne terkejut dengan apa yang dikatakan Ünder. Wajahnya memerah. Karena merasa malu, ia menundukkan kepala dan berjalan menuruni tangga dengan cepat.
"Hal yang konyol" Wayne melewati Ünder.
Ünder hanya bisa tersenyum melihat partnernya.
...[Kembali kepadaku]...
Karena aku tidak menemukan orang yang kukenal di kantin, akhirnya aku makan sendirian di kantin. Aku bingung apa yang harus kulakukan selanjutnya untuk mencari Elsa.
"Tumben sekali aku tidak melihat murid kelas C. Dari kelas D pun juga tidak ada yang kukenal selain 3 orang itu." pikirku sembari makan.
Setelah selesai makan, aku pergi ke tempat sampah untuk membuang sisa dari makanan. Tetapi ketika aku sedang berjalan, aku sedang melihat kontroversi dua orang yang sepertinya sedang ada masalah.
Karena aku sedang tidak ada kerjaan. Lebih baik aku menghampirinya saja.
"Ups, mau kemana kamu?" tiba-tiba Hana menarik tanganku entah darimana.
"Loh, Hana? kupikir kamu makan di kelas?" bingung ku.
"Lupakan, sekarang ikut aku!" Hana menarik paksa ku.
"Eh EHHH?" dan aku terbawa olehnya entah kemana.
Sementara 2 orang itu. Mereka masih memiliki kontroversi satu sama lain.
"Kau yakin tidak membawa uang sama sekali Ünder?" pinta Wayne.
"Kau pikir aku bank berjalan? lagipula seharusnya kau lebih memiliki uang ketimbang denganku" elak Ünder.
"Uang ku tertinggal di tas, sial" Wayne menginjak lantai.
"Bisa seperti itu ya?" Ünder sendiri merasa konyol.
"Hei, butuh uang?" seseorang tiba-tiba menyapanya.
"Eh?" Ünder dan Wayne sama-sama menoleh.
Orang itu tersenyum menyeringai dengan ekspresi jahat.