
Setelah sepulang sekolah, teman-teman sebelumnya janjian di taman untuk membahas apa yang ingin dikatakan V kemarin sore.
Aku, Sagi, Zico, Touré dan V menunggu murid dari kelas D di taman ini. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka datang juga. Aku sudah senang mereka datang kembali untuk berkumpul. Namun, kurasa mereka menambah 3 orang lagi yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Maaf rada telat. Halo semua!" sapa Ellé.
"Eum . . . hai?" aku menyapa balik.
"Jadi inikah orangnya?" orang itu menunjuk kami.
Aku merasa familiar dengan wajah itu. "Loh, kalau tidak salah kalian kan . . ."
"Halo, Nico" orang yang menyapaku adalah orang yang pernah mengajakku balapan sebelumnya di parkiran.
"Kamu ya?" dan gadis ini kalau tidak salah, ketika aku tidak sengaja bertabrakan dengannya di tangga sedang mengejar orang yang menguping pembicaraan ku dengan Touré.
Dan satu lagi . . . . . "Siapa Nico?" perempuan ini tidak mengenalku.
Untuk pertama kalinya semenjak sekolah disini namaku tidak dikenal oleh wanita.
"Bukankah kalian dari kelas A juga?" Sagi mengamati wajah mereka satu persatu dengan dekat.
"Ternyata kalian saling kenal?" pikir Xenon.
"Tidak, aku tidak mengenalnya" sela Zico.
"Sudahlah, kamu tidak usah ikut-ikutan" Touré menarik Zico.
"Oiya maaf, sepertinya kami harus memperkenalkan diri kembali."
"Ya, kurasa itu suatu informasi yang bagus . . . . . mungkin" gumam Yoka.
Dimulai dari cowok ini yang pernah memuji mobilku di parkiran waktu itu. "Perkenalkan, namaku Octo Bast. Biasa dipanggil Bast."
"Kau yang memuji mobilku waktu itu ya?" aku memastikan.
"Ingatan yang bagus. Dan kemana mobil itu sekarang?" tanya Bast.
"Ku parkir di kafe dekat sini."
"Lalu bagaimana dengan pacarmu? apa dia tidak ikut?" Bast melihat sekitar.
"HAH?" seketika para perempuan terkejut.
"Kau punya pacar?" tanya Ellé.
"Apakah itu sebuah topik sekarang?" risau ku.
"Lupakan. Sekarang kamu boleh memperkenalkan diri?" Sagi memotong topik.
"Oh aku? oke," gadis itu menghela nafas. "Namaku Mio Okocha. Panggil saja Okocha."
"Kalau tidak salah kita pernah tabrakan ya pada saat jam istirahat?" aku memastikan kembali.
"Maaf sekali! saat itu aku sedang terburu-buru. Tolong lupakan!" Okocha dengan sifat lembutnya meminta maaf.
"Eh tidak apa-apa kok! aku juga sudah melupakannya. Lagipula aku juga memang yang tidak fokus melihat jalan."
Sagi mempersilahkan yang satu lagi. "Dan terakhir . . . ."
Gadis itu memperkenalkan diri. "Namaku Rhyme Dysa. Baru kali ini aku diajak keluar oleh seseorang."
"Tunggu, kalau kau dari kelas A. Bagaimana kau bisa memiliki banyak pengikut namun tidak pernah keluar? konten apa yang kau buat?" aku penasaran.
"Rahasia. Lagipula hawa keberadaan ku di kelas sangatlah tipis. Maka itu aku memiliki sedikit teman."
"Itu bagus Dysa! tindakanmu itu tidaklah salah!" aku memegang pundaknya Dysa, "terus rahasiakan pengikut mu dan konten yang kamu buat!"
"O . . . o . . .oke, tapi . . . . bisakah kau lepaskan tanganmu?"
Tanpa kusadari ternyata aku menyentuhnya. "Ouh, maaf. Aku tidak sadar."
"Dan itu pertama kalinya aku disentuh laki-laki. Terimakasih sudah membuat pengalaman buruk untukku" gumam Dysa.
"Sungguh menyesal, aku sungguh minta maaf" aku dibuat malu olehnya.
Dysa tersenyum. "Tapi tidak apa-apa. Ternyata pergaulan dunia luar tidaklah seburuk ini" Dysa senang melihat yang lain. "Terimakasih sudah ingin menjadi temanku."
Semua orang ceria melihat sikapnya. Namun Zico malah kepikiran sesuatu.
"Lalu siapa yang mengajakmu kemari?" tanya Zico.
"Tidak ada" jawab Dysa dengan polos.
"LAH?" semua orang terkejut, semua tatapan menuju wajah Dysa.
"Jadi begini Dysa" Ellé menepuk bahunya dan menghela nafas. "Bagaimana kau bisa kemari ataupun ikut dengan kami?"
"Tadi kan aku . . . . ."
...[Kembali beberapa menit sebelumnya]...
Dysa keluar dari kelas A. Ia berpapasan dengan Okocha.
"Hei kamu, apa kamu pulang sendiri?" tanya Okocha.
Dysa mau menjawabnya, namun seseorang memanggil Okocha ketika sedang menanyakan Dysa.
"Yo, Okocha! apa kamu ingin ikut denganku?" ajak Yoka dari kelas lain.
"Hah kemana?" tanya Okocha.
"Sudahlah ikut saja dahulu! akan ku jelaskan nanti!" Yoka menarik Okocha untuk mengajaknya ke taman.
Dysa yang tidak tahu apa-apa cara untuk menjawabnya ketika sedang berada di situasi itu, ia mengikuti saja kemana Okocha pergi.
...[Kembali ke momen]...
"Begitulah . . . ." Dysa selesai menjelaskan.
"Tunggu tunggu! jadi kamu tidak tahu apa yang akan kamu lakukan disini?" tanya Touré.
"Sama sekali tidak" jawab Dysa.
Semua orang saling memandang satu sama lain, lalu menepuk dahi mereka masing-masing. "Konyol."
V kembali berfikir. "Kalau Okocha diajak oleh Yoka, lalu Bast?"
"Kalau Bast, aku yang mengajaknya" jawab Xenon.
"Hehe" tawa Xenon.
"Bodoh sekali. Jadi salah siapa kita membawa anak polos yang tidak tahu apa-apa untuk ikut dengan perkumpulan ini?" risau Ellé.
"Itu pasti aku sih," Okocha mengangkat tangan. "Aku lah yang bertanya kepada Dysa. Jadi ini adalah salahku karena belum dijawab olehnya."
"Sudahlah tidak usah saling menyalahkan" aku menenangkan yang lain.
Sesudah semua orang diam dan semua tatapan menuju padaku, kini waktunya aku bicara pada Dysa.
"Baiklah Dysa. Apa kau mau ikut dengan kami? atau kau ingin aku mengantarkan mu pulang sekarang?"
"Kalau boleh tahu. Apa yang sedang kalian bicarakan saat ini?"
"Oiya, aku juga belum tahu apa yang sedang kalian ingin lakukan saat ini" sela Okocha.
"Ya, aku juga belum tahu apa-apa" begitu juga dengan Bast.
Aku menoleh dan memandang wajah Ellé. "Apa perlu kita beritahu?"
Ellé tersenyum saja sembari mengangkat kedua bahunya.
Setelah itu, kami semua menjelaskan apa yang sedang kami diskusikan saat ini kepada mereka bertiga. Kami tidak memaksa bila mereka tidak ingin ikut rencana kami inu.
"Jadi begitu" Bast mengangguk tanda tertarik.
"Kita berarti sedang mencari murid yang hilang itu?" Okocha juga lumayan tertarik.
"Kalau boleh tahu, siapa itu Elsa?" tanggapan Dysa berbeda dari yang lain.
Karena aku sudah tidak bisa menahan kesabaran lagi, aku langsung menunjukkan foto wajahnya. "INI! ORANG INI! KITA SEDANG MENCARI ORANG INI! DIA JUGA BERASAL DARI KELAS KITA!"
Dysa melihatnya lebih dekat. "Loh, kalau tidak salah aku sempat melihat wajah ini sebelumnya."
"Hah, benarkah?" seketika ekspresi ku berubah.
Semua orang menatap wajah Dysa, menunggu untuk menjelaskan apa maksudnya.
"Ketika aku baru keluar dari supermarket semalam. Aku melihat dia berlari seperti sedang dikejar oleh seseorang."
"Tunggu, kau bilang semalam?" Ellé terkejut.
"Iya! aku melihatnya di supermarket dekat apartemenku" Dysa benar-benar yakin.
Aku dan Ellé saling bertatapan dengan wajah serius. "Kurasa memang di sana" ucapku dengan tersenyum.
"Jenius" Ellé berpikiran yang sama denganku.
Dan akhirnya kita telah menemukan tujuan kami berikutnya. Yaitu dimana Elsa terakhir kali terlihat oleh Dysa. Berharap saja akan membawakan hasil di sana nantinya. Dan berharap juga apa yang dikatakan oleh Dysa itu memang benar.