
"Baiklah Hana. Aku dan Kiera lewat sini, kami duluan ya" Sagi melambaikan tangan ke Hana.
Kiera juga melambaikan tangan dengan tersenyum sebagai pamitan.
"Hati-hati kalian di jalan!" Hana melambai balik.
"Harusnya kami yang mengatakan itu" Kiera mengarahkan telunjuknya ke Hana.
Lalu Hana menyebrang zebra cross untuk menuju apartemennya. Hana berjalan murung dan menundukkan kepalanya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Apa yang dilakukan Nico saat ini ya?" cemas Hana.
...[Sementara itu]...
Aku masih terdiam berdiri di depan pintu ruangan setelah ditanya oleh Elsa.
"Maaf, kau bilang apa?" aku memastikan.
"Apa kau masih single, Nico?" tanya Elsa.
"Apa yang harus ku jawab? apa jika aku menjawab ya dia akan menjauhiku? atau jika aku menjawab tidak akan sebaliknya dan dia malah menyukaiku?" banyak pikiran dari satu pertanyaan itu sehingga membuatku dibuat bingung oleh jawabannya.
"Kau sepertinya kebingungan" Elsa keheranan.
"Ya, eum tidak. Aku masih jomblo untuk sekarang" jawabku sejujurnya.
"Wah, syukurlah!" Elsa entah kenapa seperti merasa lega.
"Maaf Elsa, jika kau menyukaiku masih ada orang yang kusukai sekarang ini. Hanya saja masih dalam tahap yang di bawah." klarifikasi ku dalam hati.
"Apa kau mau bertukar kontak denganku?" tawar Elsa.
"Sebentar lagi grup OutFamous akan dibuat. Cari saja nomorku di sana" saran ku.
"Ouh, eum baiklah. Terimakasih" Elsa meninggalkan ku dengan wajah murung.
Aku berusaha menghentikannya, tetapi aku introspeksi diri, "Apa aku melakukan kesalahan? bukan berarti aku menolak loh."
Sekarang tersisa diriku di ruangan ini. Dikarenakan semua orang pasti sudah pergi, tanpa pikir panjang aku langsung pulang dan pergi dari tempat ini.
Sampai di depan pintu depan sekolah, aku keluar dan melihat langit sudah mulai gelap. "Huh, apakah akan sempat untuk menonton pertandingan MU?" cemas ku.
Lalu aku mendengar ada suara langkah kaki seseorang di belakang yang melangkah ke belakangku. Ketika aku melihat ke belakang,
"DORRR!" Akira mengejutkan ku.
Aku berpura-pura seolah-olah terkejut dengan wajah datar, "Waaa, kaget."
"Hahahaha lucu sekali kamu Nico" Akira memelukku dari belakang, "huh lelahnya!"
"Memang apa yang kakak lakukan sebelumnya?" tanyaku sembari melepas pelukannya.
"Kegiatan ekskul. Kakak kan ikut ekskul renang."
"Ouh iyakah? aku baru tahu."
"Yasudah lah ayo kita pulang. Kakak sudah lelah di sini" Akira mendadak naik ke punggungku, "ayo bawa aku pulang!"
"HEHHH BERAT TAHU!" terpaksa aku harus menggendongnya.
"Jahat sekali mengejek kakakmu berat huuuu."
"Huh, terserahlah" lalu aku mulai berjalan keluar gerbang, "tunggu sebentar."
Seketika aku mengingat ada yang janggal, "kamu pulang kemana kakak?"
"Dimana aja boleh kok" jawab Akira.
"Dimana saja ya?" lalu aku menurunkannya disitu.
"Rumah siapa saja hey, bukan di jalanan juga!" protes Akira.
"Rumah siapa saja ya?" aku menggendongnya kembali.
"Jika kau membawaku ke rumah orang lain akan ku hajar kamu sampai hutang negara lunas" ancam Akira.
...[Beberapa menit kemudian]...
Aku sudah menggendong Akira sampai ke rumah ibu di perbatasan kota ini.
"Ya, sudah sampai" aku berniat menurunkan Akira.
Tapi setelah ku lirik ke belakang, ternyata kakakku tidur sedari tadi. "Sial, bangunlah kakak."
Dia masih belum bangun. Mungkin akibat lelah setelah melakukan ekskul renang sebelumnya.
"Huh, bagaimana ini? aku tidak bisa menekan bel."
...[KKLLLTKKKKK]...
Suara pintu terbuka. Seorang perempuan dari dalam rumah membuka pintu di depan.
"Loh, Nico?" ternyata itu adalah ibu.
"Jika ingin bicara, silahkan bawa kakak terlebih dahulu" permintaan ku.
"O . . . o . . . Okee sebentar" ibu menghampiri ku dan membantu mengangkat Akira yang masih tertidur ke dalam kamarnya.
Setelah Akira dipindahkan. Aku turun dari tangga untuk diam-diam pergi dari rumah itu. Tetapi ketika aku sudah sampai di depan pintu,
"Nico" ibu memanggilku.
Aku sudah menduga akan terjadi hal seperti ini, "Huff, ya ibu?" aku menoleh ke belakang.
Ibu diam saja sambil berdiri dengan wajah yang tidak ramah. Aku yang mau tidak mau harus kembali lagi ke dalam dan duduk di ruang tamu.
Setelah aku duduk, ibu juga duduk berhadapan denganku. Ibu melepas kacamatanya, "Sudah lama ya putra bungsuku, Nico."
"Baru juga beberapa bulan saja."
"Meski memang baru beberapa bulan, apakah menurutmu ibu tidak khawatir denganmu?" tegas ibu.
Aku terdiam dan memalingkan wajah.
"Lihat ke sini Nico," aku meliriknya sedikit, "banyak yang ingin ibu tanyakan kepadamu."
"Jika ingin bertanya maka katakanlah. Aku masih ada pekerjaan untuk dilakukan."
"Pekerjaan? bukankah ayahmu sering memberimu uang tiap minggunya?" heran ibu.
"Konten ibu! konten!" bentak ku.
"Jadi kamu lebih mementingkan konten ketimbang orang tuamu?"
"Hah? kenapa jadi pertanyaan seperti ini?"
"Huh, ibu sudah muak dengan pria itu. Bahkan ib--"
Karena pembahasan sudah mulai aneh, aku langsung beranjak dari sofa dan mengambil barang-barang ku. Lalu aku meninggalkan rumah tanpa pamitan ke ibu.
"Nico, mau kemana kau?" ibu juga berdiri untuk mengejar ku.
Aku berhenti. Lalu aku menoleh ke belakang. "Terakhir kali aku bertemu dengan ayah adalah beberapa bulan yang lalu ketika perselisihan diantara ibu dan ayah pada waktu itu. Aku tidak dekat dengan siapa-siapa. Aku yang dulu bahagia dengan kedekatan ibu dan ayah, sekarang aku berterimakasih karena kalian sudah menghancurkan karakter seseorang."
Ibu terdiam tidak bisa berkata apa-apa. Wajahnya seperti kaget dengan apa yang baru saja kukatakan.
Karena aku merasa sudah tidak enak disini, aku langsung meninggalkan rumah.
"Lagipula aku tidak pernah meminta untuk diberikan uang!" aku pergi tanpa menoleh ke belakang.
Dari yang kulihat, sepertinya Akira diam-diam mengintip dari jendela kamarnya. Tapi setelah ia menyadari bahwa aku melihatnya, ia langsung menutup tirai nya.
Aku merasa tidak menyesal apa yang baru saja kukatakan sebelumnya. Tanpa disadari aku telah mengumbar kesedihanku di depan ibu ku sendiri. Dan aku harap ia juga mengerti apa yang kukatakan sebelumnya.
Hujan telah turun. Aku berjalan menuju apartemen sembari mendengarkan musik di telinga. Headset ku tidak akan rusak karena anti air. Musik di telinga ku menyetel lagu yang sangatlah menenangkan hati. Seketika membuatku kembali mengingat momen di mana orang tuaku bertengkar sehingga membuat mereka menjadi seperti sekarang ini.
Ketika aku berjalan sembari hujan-hujanan. Seseorang mengawasi ku dari jauh seperti sedang mengincar sesuatu dariku. Perlahan dari belakang ia mengikuti langkahku. Dikarenakan aku sedang mendengarkan musik, aku tidak sadar jika ada langkah kaki di belakangku.