
Keesokan harinya. Seperti biasa, aku sedang mendengarkan musik sembari melihat jendela luar di dalam kelas. Aku masih tidak menyangka jika Leo benar-benar membuat seseorang mulai kehilangan kepercayaannya pada orang lain.
Dari yang kulihat, bangku yang biasa Leo duduki sudah kosong. Sepertinya beberapa guru sudah mengetahui kasus ini. Entahlah apa kesan pertama mereka mengenai Leo sialan ini. Entah apakah murid lain juga sudah mengetahui soal ini atau tidak, intinya yang kuharap adalah agar tidak terlalu dibesar-besarkan kasus ini.
...[KRINGGGGGG]...
Bel masuk berdering. Aku melepas headset ku untuk mengecek kembali buku yang ku siapkan semalam. Karena semalam aku bergadang juga untuk menonton pertandingan Manchester united, beruntung saja tim yang ku support memenangkan pertandingan semalam. Tidak terlalu penting sih, tetapi lumayan menenangkan pikiranku setelah kejadian sore tadi.
Hana dan Sagi sudah duduk di bangku mereka masing-masing. Sebelum Sagi duduk, ia menghampiriku. "Hei Nico, apa kau tahu Le--"
"Diam lah Sagi. Aku sudah mengetahui itu sebelum kau" emosiku dengan nada rendah.
"Hmm? ada apa denganmu? ya, aku tahu kok kalau ia sudah berlebihan dan diluar dugaan kita. Tapi ingat Nico, itu hanyalah hari yang berlalu. Semakin lama kau ingat akan semakin lama kau bosan untuk mengingatnya kembali" Sagi ceramah sembari memegang pundak ku.
Aku mengangguk saja dengan tersenyum. Lalu aku menundukkan kepala untuk sedikit merenung. Sagi memahami perasaan yang ku alami sekarang, maka itu ia langsung kembali duduk di kursinya.
Kupikir Hana akan menghampiri ku juga dan berbicara hal yang sama. Tetapi aku sendiri juga tidak mengharapkan ada kesan darinya. Biarkanlah aku merenung sebentar untuk hari ini saja meski sedang sekolah.
"Halo semuanya selamat pagi!" Bu Ellie datang dengan diikuti oleh seorang murid.
Aku masih fokus untuk merapikan buku di dalam tas.
"Dikarenakan Leo sedang ada masalah sehingga tidak akan mengikuti kelas ini,"
"Huh, sudah kuduga pasti akan membahas itu" pikirku sebelumnya.
"Maka itu kelas ini kedatangan murid pindahan dari kelas B,"
"Eh?" reflek aku langsung mengangkat kepalaku dan melihat siapa orang itu.
Seketika aku terkejut dan menganga setelah melihat siapa murid pindahan dari kelas B itu.
"Boleh kamu memperkenalkan diri?" Bu Ellie mempersilahkan murid pindahan itu untuk maju.
Semua orang melihat murid pindahan itu dengan ekspresi tertarik.
"Perkenalkan! Namaku adalah Sasha Mel, orang-orang biasa memanggilku Elsa. Dan aku pindahan dari kelas B. Mohon bantuannya!" Elsa memperkenalkan diri.
Semua orang menyambut Elsa dengan respon yang positif. Berbeda denganku yang malah masih tercengang karena kedatangannya.
"Baiklah, Elsa. Kamu boleh duduk di sana" Bu Ellie menunjukkan bangku kosong bekas Leo sebelumnya.
Setelah Elsa duduk, pelajaran kembali dimulai dengan pelajaran seperti biasanya. Aku mencoba menghiraukan keberadaan Elsa di sana, tetapi mataku seperti ingin melihat dia terus.
"Cantik ya?" tiba-tiba Hana menghalangi pandanganku ke Elsa.
"Jangan konyol. Apakah salah untuk melihat tampilan orang baru?" aku memalingkan wajahku.
"Hmm" kurasa Hana kesal.
Lupakan. Aku hanya mencoba untuk fokus ke pelajaran. Mataku melihat ke wajahnya sebelumnya hanyalah sebuah reflek dari mataku yang otomatis menatap ke sana.
...[KRINGGGGGG]...
Bel istirahat berbunyi. Aku tidak sempat membawa dan membuat bekalku sendiri. Maka itu, untuk hari ini saja aku akan jajan di kantin sekolah.
Seperti biasa, aku memasang headset di telinga lalu menyetel musik yang biasa kudengar. "Sudah lama tidak ke kantin. Kira-kira menu apa yang sedang dijual di kantin sekarang ya?" dengan tak sabar aku beranjak dari kursi dan ingin berjalan.
"Nico. Tidak ku sangka kita akan sekelas!" kejut Elsa dari belakang.
"Apa aku harus kaget atau senang?" aku melepas sebentar headset ku untuk mendengar percakapannya.
"Tidak tidak, lupakan. Apa kau mau makan siang bersamaku Nico?" ajak Elsa.
Aku berpikir sebentar, "eh, aku ingin sih tap-"
Tiba-tiba Hana menarik ku, "sayang sekali mbak. Pria ini sudah memiliki janji denganku. Jadi makan siang saja dengan yang lain dadah."
"Hei Hana apa yang kau lakukan?" aku membisikinya melalui telinganya.
"Oh? sekarang kau ingin bersama orang itu? silahkan sih" Hana sedikit mendorongku.
"Tidak tidak, bukan begitu," sembari menahan dorongan, "aku hanya bingung apa yang harus kulakukan di situasi seperti ini!"
"A . . .anu . . . apakah kau memang punya janji dengannya?" tanya Elsa.
"I . . . iya . . . tidak juga. Tetapi--"
"Eh?" Elsa dan Hana sama-sama memasang wajah emosi.
"Sudah-sudah, ayo kita pergi dari sini Sagi!" aku mendorong Sagi untuk menyuruhnya berjalan lebih cepat.
"Hei hei oke tenanglah!"
...[Di kantin]...
Setelah aku dan Sagi membeli menu paling spesial di kantin yang biasanya Sagi beli, kami berdua mencari tempat duduk untuk makan di tempat itu.
"Sini! Nico! Sagi!" V melambaikan tangan kepada kami.
"Hei, bagaimana ia bisa mengenal kita?" tanya Sagi kepadaku sembari berbisik.
"Entahlah. Kurasa ia mendengar nama kita ketika berkunjung ke kamar Touré" tebak ku.
"Masuk akal. Ayo ke sana" kami berdua berjalan menuju meja yang ada V dan temannya.
Selama kami berdua berjalan menuju ke meja V, sepertinya kasus Leo sudah tersebar dimana-mana. Maupun lelaki atau perempuan, beberapa dari mereka semua sedang membicarakan kasus yang dialami oleh Leo.
"Sampai kapan kabar ini akan mereda? aku muak mendengarnya" emosiku.
Lalu kami berdua duduk di meja yang ada V bersama teman sekelas nya itu. "Kalian masih ingat aku kan? ini aku--"
"Iya-iya V. Kami masih mengingat mu" jelas ku.
"Keren sekali jika kalian mengingat namaku juga. Langka sekali dalam hidupku jika aku menemukan seseorang seperti kalian" girang dia.
"Hei hei jangan pernah terlalu merasa kesepian. Seperti yang kau bisa lihat, kamu berdua saja masih mengingatmu. Orang lain pasti juga masih mengingat namamu juga kok" kata Sagi.
"Huh, itu semua hanyalah omong kosong,"
"Bagaimana kau bisa berpikir jika itu omong kosong?" heran kami berdua.
"Apa perlu ku buktikan?"
Kami berdua mengangguk.
V melihat sekitarnya untuk mencari orang yang akan ia jadikan bahan bukti, "tuh, kalian lihat perkumpulan perempuan di sana kan? mereka semua berasal dari kelas ku, kelas 1-C."
"Ya ya, kami lihat" kami berdua memerhatikan nya.
Lalu V menghela nafas, "hei yang di sana! apa kami boleh bergabung dengan kalian?" sapa V sembari melambai kepada mereka.
"Huh, kalau begini sih ya memang tidak akan ada yang tertarik . . . ." pasrah kami berdua.
Perkumpulan perempuan itu melambai balik kepada V, "kemari lah jika kalian mau! di sini masih ada bangku kosong kok!" respon nya.
Seketika kami berempat sama-sama tercengang setelah mendengar respon mereka.
"Benar-benar diluar ekspektasi!" pikir kami berdua.
V merasa hebat. "Seperti yang kalian bisa lihat, ehem," sombong V, "aku ini memang terkenal sekali ya!"
"Ya ya terserah" tawa Sagi.
"Oiya sedari tadi aku belum memperkenalkan temanku ini ya?" V baru sadar.
"Poin yang benar. Boleh kamu memperkenalkan namamu?" sambut Sagi.
Orang itu menatapku sedari tadi. Entah aku merasa seperti melihat orang ini sebelumnya. Aku lupa darimana wajah ini kutemukan.
"Namanya adalah Kel Zico,"
"OH!" seketika aku baru mengingatnya.
"Orang-orang dan aku memanggilnya Zico. Dan ia teman sekelas ku!" V memperkenalkannya.
"Yo!" sapa dia. "Tidak ku sangka akan bertemu denganmu lagi . . . " Ia tersenyum menyeringai kepadaku, "Mikhail Nico!"
"Sudah kuduga dia adalah partnerku dari organisasi OutFamous!"
Dan ini adalah pertama kalinya kami berdua akan berinteraksi satu sama lain sesama anggota dari organisasi OutFamous yang dibangun oleh Bu Ellie sebelumnya. Kini aku hanya tinggal mendekatkan diri dengannya agar aku lebih dipercaya dengannya.
Sampai aku dapat memanipulasi semua orang di festival nanti.