
Selasa. Kemarin adalah salah satu hari Senin terbaikku selama aku hidup. Aku sudah berpacaran dengan Hana. Aku sudah tidak peduli lagi dengan akun ku yang mungkin saja akan dibocorkan oleh Elsa. Dan aku sudah siap dengan apa yang akan terjadi kedepannya.
Jam 7, sudah waktunya pergi ke sekolah. Seperti biasa, aku akan pergi ke garasi, pergi dengan Hana ke sekolah, dilirik oleh banyak murid, dan dijadikan bahan ghibah oleh mereka. Atau itu hanya pemikiran luar ku saja sih, lupakan.
Aku berjalan di koridor sekolah bersama dengan Hana menuju ke kelas kami. Aku sempat melirik ke kelas C untuk mengecek apakah Touré sudah pulih atau belum. Mungkin tunggu kabar dari Zico saja sih.
Kebetulan sekali. Di depan kami, Zico sedang berjalan mengarah ke kelasnya.
"Yo, Nico, Hana! selamat pagi!" Zico menyapaku.
"Selamat pagi juga" kami berdua menyapanya kembali.
"Ternyata kalian memang suka datang pagi ya?"
"Sudah menjadi kebiasaan, haha" lalu aku kembali mengingat yang ingin kutanyakan padanya. "Oiya Zico, apakah Touré sudah pulih?"
"Entah. Seharusnya kau tanya saja pada V."
"Hmm, benar juga" seketika aku mengingat V. "Lalu dimana dia?"
"Kalau tidak salah sedang di perpustakaan. Kalau ingin menemuinya, silahkan saja."
"Jika ada waktu, aku akan ke sana. Kami duluan Zico" aku melambaikan tangan dan berjalan menuju kelas.
"Yooo!" dia melambai balik.
Setelah di depan pintu kelas, aku membuka pintu.
"Oalah, Nico dan Hana toh. Kalian sudah seperti pacaran saja" sapa Sagi.
"Ya ya, selamat pagi juga" ejek ku.
Aku baru ingat kalau jadwal piket sekarang itu adalah Sagi. Pantas saja ia datang lebih awal.
Seperti biasa, kebiasaan ku ketika di kelas. Duduk di kursi ku, memasang headset, lalu tidur sembari menyetel musik sampai bel masuk berdering.
Begitu juga dengan Hana. Ia selalu membaca novel ringan yang sedang populer itu, apakah sebegitu menariknya?
Sebelum Sagi membersihkan papan tulis, ia sempatnya untuk menggambar karakter yang ia favoritkan di papan tulis.
Kebiasaan pagi ini sudah sangat nyaman dan tentram sekali. Aku selalu mencintai momen dan suasana ini.
...[Sementara di kelas 3]...
Akira masuk ke kelas sembari bermain ponselnya. Ia melihat murid-murid yang lain sangat berisik sekali. Entah apa yang dibahas, selama itu tidak mengganggu Akira, ia tidak memperdulikannya.
Lalu ia duduk di kursinya. Sembari bermain ponsel, Akira mengecek beranda sosmed nya.
...[BRUGGGG]...
Akira dengan reflek mengambil tas yang jatuh di sebelahnya. "Wew, secepat itu" Akira kaget dengan refleknya.
Kemudian ia kembalikan ke orang yang tidak sengaja menjatuhkannya.
"Terimakasih,"
"Ya, bukan masalah besar."
Akira masih tidak sadar siapa yang menjatuhkan tasnya. Ia tidak sempat melihat orang yang menjatuhkannya. Sampai ia sadar, "eh?"
Lalu reflek kembali menoleh ke sebelahnya.
Ia melirik ke wajah Akira. "Kenapa Akira?"
Akira baru ingat kalau disebelahnya itu adalah Noa.
"Ahhh, tidak-tidak. Aku baru ingat kalau kamu itu duduk di sebelahku." Akira menahan malu.
"Haha, jahat sekali!" Noa tertawa.
"Maafffff" Akira menundukkan kepalanya.
"Memang iya!" jawab Akira.
Lalu mereka berdua tertawa dan saling bercanda.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua tidak sengaja mendengar kumpulan cewek yang ada di kelasnya sedang membicarakan sesuatu.
"Hilang? bukankah kita baru saja melihatnya kemarin?"
"Entahlah. Orangtuanya juga tidak tahu ia pergi kemana."
"Tapi apakah sudah dilaporkan polisi?"
"Belum sih, tetapi kalau tidak salah orangtuanya ingin menghubungi inspektur Steve dan Miya."
"Yah, kalau bisa sih segera ditemukan ya?"
Akira dan Noa yang tidak sengaja mendengarnya, seperti memasang wajah penasaran.
"No--" Akira menepuk bahunya.
"Tidak Akira. Bukan waktunya ikut membahas masalah itu dengan mereka" Noa menutup mulut Akira.
"Hmm, hmm" Akira mengangguk saja.
...[KRINGGGGGG]...
Bel masuk akhirnya berdering. Aku yang tertidur pulas dibangunkan oleh Sagi.
"Yo, Nico! sudah masuk!" Sagi menepuk bahuku.
"Hmm, iya aku tahu!" aku sebenarnya masih mengantuk, tetapi pada akhirnya aku paksakan bangun saja.
Semua murid sudah duduk dengan rapih, meski masih sedikit berisik. Bu Ellie masuk ke kelas kami, sudah waktunya memulai pelajaran.
"Tunggu sebentar, seperti ada yang kurang." aku merasakan ada sesuatu yang kurang di kelas ini.
Setelah ku lihat sekitar kelas, ternyata benar. Elsa tidak masuk hari ini. Awalnya aku sedikit lega karena ia tidak masuk, tetapi hal itu malah membuatku kepikiran.
Kemudian salah satu murid mengangkat tangan dan bertanya kepada Bu Ellie. "Bu Ellie, apakah ibu tahu kemana Mel pergi?"
"Mel? oiya, nama asli Elsa kalau tidak salah Mel ya."
Bu Ellie tidak menjawab langsung. Ia menghela nafas dan meletakkan bukunya di meja guru. "Ibu harap, kalian semua jangan cemas kepada Elsa ya?"
Kemudian aku mendengar beberapa murid sedang berbisik seperti, "tuh kan, dia tidak ada."
Aku masih tidak mengerti apa maksud dari mereka itu. Kemudian Bu Ellie kembali berbicara.
"Saat ini Elsa menghilang dari rumahnya . . ."
"Apaaa??? " aku terkejut mendengarnya.
Beberapa murid kembali berisik seperti sedang membahas Elsa yang hilang itu.
Kemudian Sagi menghadap ke belakang dan menatap wajahku. "Nico . . . . kau,"
Aku menatap wajahnya Sagi kembali dengan ekspresi cemas.
"Kau tidak melakukan apa-apa dengannya kan?" tanya Sagi.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Lalu aku melihat Hana yang juga sedang melirik ke wajahku.
"Sial, memang apa yang sudah kulakukan? itu bukan salahku kan?" khawatir ku.
Bu Ellie kembali menenangkan. "Ssshhhtttt, harap semuanya diam," semua murid menoleh ke Bu Ellie. "Tenang saja ya murid-murid! polisi sedang menyelidiki hilangnya teman kita yang satu ini kok! jangan khawatir."
"Aku harap kau tidak melakukan sesuatu kepadanya kawan. Aku percaya padamu kok!" Sagi menenangkan ku.
Aku kepikiran tentangnya. Hana juga bingung harus bereaksi apa kepadaku.
"Ayo, sekarang buka bukunya! kita kembali ke pelajaran!" perintah Bu Ellie.
Kemudian kelas kembali tenang setelah pelajaran kembali dimulai, meski beberapa murid masih sedikit bisik-bisik dan membahas masalah itu.