
Sagi dan Hana baru keluar dari kantor setelah mengantarkan formulir pendaftaran lomba festival yang sudah diisikan. Hana berperasaan tidak enak. Sagi yang melihat ekspresinya dari wajah Hana, mengajaknya untuk ke tempat sepi.
Sagi mengajaknya ke koridor sekolah yang tidak ada siapa-siapa. Sagi melakukan ini dengan sengaja agar ia mengulur waktu untukku.
"Jadi kenapa kau membawaku kesini?" tanya Hana.
Sagi diam sebentar. Lalu ia berbalik menghadap ke Hana dengan wajah serius.
"Hana, ada yang ingin kau tanyakan?"
"Ya. Apa yang terjadi dengan Nico? mengapa dia pergi mengarah ke atap?"
Sagi sedikit bingung ingin menjawab apa. Tetapi Sagi memang sudah tahu jikalau aku di atap sedang ditembak oleh Elsa.
"Aku ingin mengatakannya tapi--"
"Apakah sesulit itu sampai kau tidak dapat mengatakannya?" Hana memotong pembicaraan.
Sagi memalingkan wajah dengan ekspresi bingung. Kemudian ia menoleh lagi ke Hana.
"Tapi jangan marah ya?"
Hana mengangguk.
"Baiklah, Huff."
Setelah itu, Sagi menjelaskan semuanya yang ia ketahui. Ekspresi Hana sangatlah shock. Tanpa pikir panjang, Hana langsung lari meninggalkan Sagi yang masih bicara.
"Hei hei! sudah kubilang--" Sagi mencoba menahannya.
"DIAMLAH! ini sudah bukan urusanmu lagi!" emosi Hana setelah mendengar apa yang Sagi jelaskan.
Hana berlari meninggalkan Sagi. Ia secepat mungkin menuju tangga ke atap.
"Ahh sial. Seharusnya aku tidak mengatakan itu!" Sagi menendang tembok.
Lalu ia mengejar Hana yang berusaha mengacaukan rencana Elsa.
...[Sementara itu]...
Akira berada di kelas sedang makan siang bersama Noa berduaan. Untuk kali ini, tidak ada orang yang melihat mereka berdua. Sebelumnya Akira yang mengajak Noa untuk makan bersama, dan Noa menerimanya saja.
"Ini pertama kalinya aku makan siang bersama lelaki selain adikku dan ayahku" gumam Akira.
"Benarkah? sayang sekali harus aku yang memecahkan rekor mu itu" jawab Noa.
"Ahh tidak-tidak. Sebelumnya aku juga sering diajak oleh banyak lelaki, tetapi aku menolaknya" kata Akira.
"Entah mengapa aku merasakan sensasi dibenci oleh seseorang . . . ."
"Kau pikir begitu?"
"Aku melihatnya," Noa memalingkan wajah dengan ekspresi cemas, "mereka melihat kami berdua."
"Siapa?"
Noa memandang wajah Akira kembali, "murid-murid kelas kita maupun kelas lain . . . . "
"Kamu takut?"
"Tidak. Aku hanya cemas," Noa menunduk ke bawah, "cemas jika kau yang akan menjadi bahan rundungan oleh mereka karena ku."
Akira memandangi wajah Noa yang terlihat cemas. Bukan karena ia penakut. Ia malahan takut jika Akira sendiri yang akan menjadi target oleh mereka. Lalu Akira baru sadar jika Noa sangat peduli dengannya.
"Hei Noa," Akira mengangkat dagu Noa.
Noa menatap wajah Akira. Lalu Akira menyuapinya dengan bekal Akira dari tangan Akira sendiri.
"Bagaimana jika kita membuat mereka semua iri?" senyum Akira.
Wajah Noa memerah, "ehh . . . "
...[Kembali ke atap]...
Padahal selama ini kami jarang berinteraksi. Apa yang dia suka dariku? memang wajahku terlihat tampan. Tapi apa dia hanya melihat penampilan ku dari luar saja? sangat omong kosong. Pasti dia menginginkan sesuatu dariku! Tetapi apa?
Lupakan. Kini aku harus menjawab pernyataannya kepadaku. Tentu saja ini sangat mudah. Aku hanya tinggal menolaknya. Lagipula aku lebih suka dengan Hana ketimbang dengannya. Meski memang wajah Elsa sangatlah imut dan cantik, tetapi aku belum ada rasa tertarik dengannya.
"Tinggal menjawabnya saja."
"Huff," aku menghela nafas.
"Sebelum itu," Elsa memotong jawabanku.
Aku tidak jadi menjawabnya sebelum mendengar apa yang ingin ia katakan.
"Aku tahu jika kamu akan menolak pernyataan ku ini,"
"Kurasa dia sudah tidak pede duluan . . . "
"Dan aku yakin kau pasti terkejut karena aku mengatakan hal ini. Ditambah kita juga memang tidak terlalu berinteraksi. Apalagi aku yakin sekali banyak juga yang suka denganmu,"
"Lah, malah insecure."
"Maka itu . . . . ," Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sesuatu kepadaku.
"Hmm?" aku melihatnya lebih dekat lagi.
Setelah aku melihatnya, aku sangat terkejut dan reflek mengambil hp nya dan mengangkatnya ke atas. "B . . . . BAGAIMANA KAU BISA TAHU INI?"
"Rahasia! intinya jawab saja pernyataan ku sebelumnya!"
"Dengan cara paksaan?"
"Iya!"
"Dasar gila!"
Hal yang terjadi sekarang sangatlah membuatku terpojok. Ternyata Elsa juga mengetahui identitas ku di sosmed dan memaksaku untuk menjadi pacarnya.
"Bagaimana jika aku menolak?" tanyaku.
Dia dengan cepat merebut hpnya kembali ke tangannya, "aku akan membeberkan identitas mu!"
"Haaaaaahhh???" panik ku.
Elsa memaksaku untuk menjadi pacarnya. Bila tidak, ia akan membocorkan identitas ku ke sosmed nya. Tentu saja tidak akan berakhir baik bagiku jika aku menolaknya. Aku pasti akan mengalami mimpi buruk yang hidup selama identitas ku sudah bocor.
"T . . .tidak mungkin aku akan mengatakan ya bukan?" panik ku.
"Cepat jawab!" Elsa membuka aplikasi recorder untuk merekam jawabanku. "Nico, apakah kamu mau menjadi pacarku?"
"Sial, dia benar-benar serius!" aku bingung harus menjawab apa.
Situasi ini membuatku tidak bisa bersikap tenang. Ini bukan pertama kalinya untukku. Sekarang lebih buruk dari sebelumnya. Karena sekarang dilakukan dengan cara paksaan dan ancaman.
"Maaf Hana. Mungkin aku menyukaimu, tapi . . . ." aku memandang wajahnya Elsa yang imut itu, "kurasa aku akan mencoba berubah untuk mencintai orang lain."
Kemudian aku berdiri tegap bersikap tenang dan keren dihadapannya.
"Baiklah, jika itu yang kamu mau . . . "
Ekspresi Elsa seperti tidak percaya. Ia mendadak menjadi kegirangan untuk apa yang akan kukatakan selanjutnya.
...[Sementara itu di tangga]...
Hana masih berlari dari lantai bawah menuju ke tangga atap dan mengarah ke atas.
"Tunggu dulu Nico! apa kau yakin akan menjawab iya? lalu apa yang selama ini kita lakukan?"
Hana tidak habis berpikir. Ia banyak sekali pikiran hingga membuatnya tidak lelah berlari sembari berpikir.
"Jika kau memang mencintainya . . . . . setidaknya katakan langsung didepan ku!"