INFAMOUS

INFAMOUS
Terungkap Sudah



Setelah aku meninggalkan rumah. Ibu masih berdiri di depan pintu terdiam dengan menundukkan kepalanya. Akira yang sepertinya mendengar apa yang dikatakan oleh ku sebelumnya, ia turun dari tangga untuk melihat keadaan ibu.


Ibu melihat ke belakang setelah menyadari ada Akira dibelakangnya, "Oh, Akira. Kamu sudah bangun?"


Ibu mendekatinya dan memegang bahunya. Akira berekspresi seolah-olah tidak mendengar apa-apa, "ya, aku baru bangun. Kemana Nico pergi?"


Ibu tidak menjawab. Lalu ia memeluk Akira, "mungkin pulang. Karena sudah larut juga."


Akira bingung harus melakukan apa setelah mendengar perkataan ku sebelumnya kepada ibu. Ia memeluk ibu juga dan ingin melupakan kejadian barusan.


...[Sementara itu di jalan]...


Hujan sudah membasahi seluruh pakaianku. Tetapi tidak akan menghentikan musik yang sedang berputar di telingaku, mana mungkin aku membeli headset murahan hanya untuk melihatnya basah begitu saja dan rusak. Sudah pasti aku mencari yang tidak akan rusak ketika terkena air.


Sembari menikmati hujan turun, aku merenung dan sedikit mengingat masa laluku ketika masa-masa ibu dan ayah berpisah. Musik di telinga membuatku tidak bisa mendengar sekitar.


Ketika aku berjalan sembari hujan-hujanan. Seseorang mengawasi ku dari jauh seperti sedang mengincar sesuatu dariku. Perlahan dari belakang ia mengikuti langkahku. Dikarenakan aku sedang mendengarkan musik, aku tidak sadar jika ada langkah kaki di belakangku.


"Tidak akan kubiarkan kau lolos untuk kali ini, Nico!" orang itu mengeluarkan sebilah pisau dapur dari saku jasnya.


Ia semakin dekat. Aku masih tidak menyadari keberadaan seseorang di sekitar. Sedari tadi aku melihat jalanan sangatlah sepi, karena sekarang juga sudah menunjukkan pukul 6 lewat.


Lalu orang itu hendak menikam ku dari belakang. "Matilah kau!"


...[BRUGGGG]...


"Wah tidak ku sangka sangka. Ternyata itu si pelaku."


Aku mendengar suara seseorang yang jika kudengar seperti orang terjatuh. Lalu aku melepas headset ku dan melihat ke belakang.


"Eh, inspektur Steve dan Miya?" aku terkejut tiba-tiba melihat dia menangkap seseorang.


"Halo, Nico" Inspektur Steve melambai kepadaku.


Miya mendekati ku, "Huufff," ia menghela nafas, "dasar bodoh! apa kau tidak sadar nyawamu sedang terancam?"


"Ahh, maaf. Headset ku sedari tadi masih ditelinga. Memang apa yang terjadi?" bingungku.


"Huhhh, begini Nico." Miya menunjuk seseorang yang ditangkap oleh Steve, "dia hampir saja membunuhmu loh!"


Setelah aku lihat orang yang ditangkap itu lebih dekat. Betapa terkejutnya aku setelah melihat wajahnya, "m . . . m . . . mustahil . . . "


Leo dari kelas ku telah ditangkap oleh inspektur Steve setelah melakukan percobaan pembunuhan kepadaku.


"Leo, ada apa denganmu?" tanyaku lebih dekat.


"LEPASKAN AKU!" Geram Leo.


"Aku sudah menduga akan terjadi hal seperti ini" duga Steve.


Aku bingung. "Maksudmu?"


"Jadi begini . . . ."


...[Beberapa hari sebelumnya]...


Di rumah sakit. Ketika inspektur Steve dan Miya memasuki ruangan Touré, mereka mengusir yang lain sebagai privasi dengan Touré itu untuk sedikit di interogasi.


"Baiklah selamat pagi Touré. Kamu adalah adik kelas ku ya?" Steve menyapanya.


"Begitulah" Touré melambaikan tangannya.


"Boleh minta waktunya untuk beberapa saat?"


"Tentu saja."


Beberapa pembahasan dan pertanyaan sudah dijawab mendetail oleh Touré yang mengingatnya dengan keras. Miya mencatat semua percakapan itu sehingga merasa sudah cukup.


Steve membacakan kertas catatannya. "Jadi pelakunya adalah seseorang berambut tinggi, menggunakan topi, dan juga masker. Senjata yang dipakai oleh si pelaku yang melarikan diri dari TKP sudah ditemukan di lokasi sebelumnya. Jadi sekarang tinggal kembali menebak saja siapa menurutmu orang yang melakukan ini."


"Entahlah inspektur, aku masih rada ragu dengan kecurigaan ku ini" Touré tidak bisa tenang.


"Jika kau tidak bisa tenang, maka mungkin kami akan mencari dan menjadikan beberapa orang untuk dijadikan daftar tersangka yang telah menikam mu ini."


"Hmmh" Touré kembali berpikir-pikir.


"Aku rasa kau sudah menemukan jawabannya di otak sedari tadi. Sebutkan saja, tidak ada yang mengancam juga" Steve memegang bahunya.


"Inspektur Steve . . . ." Touré melirik ke arah Steve, "apa kau percaya jika orang yang menghantam ku dengan benda keras itu adalah Leo sendiri?"


Steve dan Miya sama-sama terkejut mendengar hal itu. Mereka berdua saling menatap satu sama lain.


"Terimakasih Touré. Informasi mu banyak sekali yang berguna" Steve beranjak dari kursinya.


"Hah, segitu saja?" tanya Miya dengan nada berbisik kepada Steve.


"Kita selesai disini?" Miya memastikan.


"Ya. Kita kembali ke kantor sementara untuk merakit ulang kejadian ini."


Setelah inspektur Steve dan Miya merasa benar-benar sudah selesai. Ia pamitan kepada Touré untuk meninggalkan ruangan. Kemudian mereka berdua pergi ke tempat parkir rumah sakit untuk ke mobilnya.


Di dalam mobil, Steve kembali membaca percakapan yang dicatat oleh Miya sebelumnya.


"Apa kau berpikiran yang sama Miya?" ucap Steve pada Miya dengan ekspresi wajah serius.


"Sayang sekali tidak" jawab Miya, "lalu jangan buat wajah dan ekspresi begitu. Jijik liatnya."


"Haha lucu" Steve frustasi.


"Haha becanda becanda Steve. Iya aku tau kok apa yang kamu pikirkan" Miya kembali menyemangati.


Steve kembali mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Oke sudah pasti dia pelakunya kan?"


"Kemungkinan besar, ya. Tetapi kita belum tahu motif ia melakukan hal ini" pikir Miya.


"Daripada menunggu motifnya, lebih baik kita tangkap langsung dia, sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi."


Miya sepemikiran. "Tapi kita harus kembali ke kantor terlebih dahulu untuk mengurusi kasus ini"


"Gas!"


Steve menancapkan kakinya ke gas mobil setelah dari tadi ia panaskan.


...[Keesokan harinya]...


Steve dan Miya sedang melakukan patroli untuk mengecek sekitar blok kota ini. Mereka juga melakukan ini karena diperintahkan oleh atasannya itu.


"Sebentar lagi jam 7. Aku mau langsung pulang setelah ini" ucap Miya di dalam mobil.


Steve menanggapinya sembari mengendarai mobil. "Ya. Aku juga ingin menonton pertandingan Manchester United nanti malam. Berharap saja ini sudah selesai."


Miya yang merasa seperti melihat seseorang yang sedang membuntuti seseorang, membuat Miya tertarik perhatiannya. "Steve. Apakah kau melihat orang yang di sana?" sembari menunjuk di depan.


"Hah? aku tidak bisa melihat, air hujan membasahi kaca mobil." Steve melihatnya lebih dekat lagi, "oh. Iya aku melihatnya."


"Steve. Ke pinggir sekarang!" tegas Miya.


Dengan respon cepat, Steve langsung berbelok dan meminggirkan mobilnya ke samping trotoar.


"Cepat atau lambat. Persiapkan senjata mu! ia memegang pisau!" Miya langsung keluar dari mobil dan menghampiri orang itu.


...[Kembali ke momen]...


"Yah tidak ku sangka kalau ternyata orang itu adalah Leo yang hampir saja menikam mu dari belakang, Nico" Miya menceritakan segalanya.


"Leo. Itu tidak mungkin kan?" tanyaku dengan wajah kecewa.


Leo terdiam saja sembari memejamkan matanya.


"Kenapa kau lakukan hal seperti ini?" aku menarik kerah Leo.


Steve menarik ku, "sudah-sudah. Nanti akan lebih jelasnya di kantor polisi."


"Tenang Nico. Hal ini memang ini sangat tidak terduga" Miya menenangkan ku.


Steve mengunci tangannya dengan borgol. Setelah itu dia diangkat dan dimasukkan ke dalam mobil.


"LEO, KITA MASIH ADA URUSAN YANG BELUM TERSELESAIKAN!!" teriak ku kepadanya di jendela mobil.


Ekspresi wajahnya sangatlah lesu. Seperti tidak bernyawa. Tetapi setelah aku mengatakan itu, ia melihat ke jendela luar.


Miya menenangkan. "Sudahlah Nico. Kita akan bicara lain hari. Lagipula bagaimana kau bisa disini?"


Karena aku sudah sangatlah kesal. Aku lari dari tempat itu sekencangnya.


"NICO!" Miya memanggilku.


"Sudahlah Miya. Ayo kita kembali ke markas," Steve melihat wajah Leo, "setelah itu kita interogasi si orang gila ini."


Pada akhirnya Leo telah ditangkap setelah melakukan percobaan pembunuhan kepadaku dan Touré. Aku tidak menyangka jika ternyata selama ini dia telah mempermainkan ku dengan akal-akalan.


"Diteror? omong kosong belaka!", "bagaimana setan itu dapat masuk ke kelas A dan sekolah ini? orang aneh!"


Aku sudah tidak bisa memikirkan apa-apa lagi selain dia yang telah memanipulasi ku secara tidak langsung.


"Lihat saja dunia! Ini adalah awal mula aku akan memanipulasi semua orang yang pernah kutemui. Berani-beraninya orang rendahan seperti itu dapat memanipulasi ku setelah aku sudah mulai meninggalkan kehidupan bosanku selama ini!"