
Tidak kusadari ternyata berminggu-minggu sudah berlalu. Seperti biasanya ketika di sekolah, mengikuti pelajaran, bermain dengan Sagi, melirik mata Hana, mendengarkan musik, melihat keadaan kelas lain, menjenguk Touré, mengikuti rapat OutFamous yang belum ada tujuan sampingan selain fokus dengan festival, sampai akhirnya diperbolehkan membawa kendaraan pribadi di hari Senin nanti.
Dan di kamarku sepertinya masih seperti biasa. Bermain game, membuat konten, scroll beranda sosmed, menonton pertandingan Manchester united, dan melihat pemandangan kota bersama dengan Hana.
Sekarang sudah malam senin. Sudah lama juga aku tidak bertemu dengan kakakku. Aku memang tidak ada niatan untuk bertemu dengannya. Sudah lama juga aku tidak bertemu dengan ayah dan ibu. Semenjak aku membentak ibu ku, aku seperti merasakan kepuasan dan penyesalan dalam waktu yang serentak.
Aku tidak menyangka hidupku akan seperti ini, tetapi ada sedikit aku menyukai keadaan ku sekarang. Memiliki teman, gebetan, subscribers, dan kehidupan yang tenang dan tentram.
Aku berdiri di balkon menikmati pemandangan kota malam ditemani dengan secangkir kopi yang masih hangat. Aku juga merenung beberapa momen untuk instrospeksi diri tentang kehidupan ku yang sekarang. Apakah aku bahagia atau aku sengsara?
Lupakan. Untuk sekarang aku berterimakasih karena aku masih bisa makan enak dan tinggal nyaman. Ayah sering mengirimkan uang setiap bulannya untuk kebutuhan ku. Begitu juga ibu yang mengirimkan uang untukku juga meski waktu itu aku belum meminta maaf ketika aku membentak kepadanya. Tetapi apakah ibu memang sadar tentang perasaanku?
Berharap saja begitu.
...[Keesokan harinya]...
Jam menunjukkan pukul 6:30. Masih ada satu jam setengah sampai sekolah dimulai. Tetapi akan ku usahakan untuk datang lebih awal.
Dimulai dari bangun tidur, membersihkan kasur, mandi, dan sarapan pagi dengan sereal favorit ku seperti biasanya. Disaat aku makan, aku juga membuka grup sekolah untuk melihat informasi yang dikirim oleh kepala sekolah semalam.
"Coba ku cek deh."
Dan isi informasi itu adalah mengenai pengalaman satu bulan berada di sekolah infamous ini. Kini siswa diperbolehkan membawa kendaraan pribadi, tempat parkir berada di dalam sekolah. Dengan syarat, jangan sampai membuat keributan atau melakukan suara bising dengan kendaraan yang dibawa. Selain itu ada pengumuman yang akan diumumkan ketika upacara di sekolah nanti. Dari kepala sekolah, Wendy.
"Baiklah sudah waktunya untuk bersiap-siap."
Setelah aku menghabiskan sarapanku, aku beranjak dari kursi dan menuju ke gantungan yang ada di dinding. Lalu aku mengambil kunci mobil milikku dan menuju ke depan pintu untuk memakai sepatu.
Sesudah memakai sepatu, lalu aku keluar dan mengunci pintu.
"DORRRRR" seseorang mengejutkanku
Reflek aku terkejut, "Waaaaa!!!"
"Hahahahahaha, ekspresi mu! tidak pernah aku melihat yang seperti ini!" ternyata itu adalah Hana yang mengejutkanku.
"Ya ya, hebat sekali. Lupakan" aku langsung berjalan sembari mengelus dada akibat kejutan sebelumnya.
Hana masih menahan tawa setelah melihat reaksiku yang tidak pernah dilihat oleh siapapun sebelumnya. Jadi ini adalah pertama kalinya aku terkejut oleh seseorang, itu juga karena aku tidak siap untuk dikejutkan.
...[TINGGGGGG]...
Setelah kami sampai di lobi apartemen, aku berjalan ke belakang.
"Nico, mau kemana kamu?" Hana mengikuti ku.
"Ke garasi. Kau mau ikut?" ajak ku.
"Tunggu kau punya mobil?" kaget Hana.
"Lihat saja" sombong ku.
Kami berdua berjalan menuju garasi apartemen milikku yang di dalamnya adalah mobilku yang jarang ku gunakan. Dikarenakan sekolah sudah memperbolehkan murid untuk membawa kendaraan pribadi, kini saatnya untukku memamerkan mobil ku yang sudah lama tidak ku jalankan.
...[SSSRRRRTTT]...
Aku membuka gerbang garasi. Terlihatlah mobil merek street yang dulu sering ku bawa keliling ketika aku masih duduk di bangku SMP. Hebat sekali dulu aku bisa membawa mobil. Ini semua terimakasih kepada seseorang yang telah mengajarkanku untuk mengendarai mobil ini. Aku tidak akan melupakan orang itu sampai kapanpun.
"Wahhh, jadi ini mobil mu?" Hana terpukau.
"Bingo!"
"Kalau boleh tahu apa mereknya?" tanya Hana sembari memandang wajahku.
"Toyota 86 edisi Rocket Bunny V3. Aku tidak menyangka akan mendapatkan mobil ini waktu itu."
"Aku tidak tahu soal mobil, tapi ini keren" Hana tepuk tangan kecil.
Aku memasukkan kunci dan masuk ke dalam mobil untuk menyalakannya. Setelah dinyalakan, suara mesin tidaklah berubah. Bensin sepertinya harus ku isi.
"Ayo naik Hana!" ajak ku.
"Eeehh boleh nih?" Hana malu-malu.
"Tentu saja."
Hana berjalan menuju pintu sebelah. Lalu ia membuka pintu untuk melihat keadaan di dalam mobil. Kemudian ia duduk dan melihat-lihat sekitarnya karena terpukau.
"Jam berapa sekarang" tanyaku.
Hana membuka ponselnya, "7:16"
"Aku pergi ke tempat pencucian mobil akankah sempat?"
"Jika cepat, lakukan dari sekarang" saran Hana.
"Baiklah!" aku menancap gas dan langsung maju dan keluar dari gerbang apartemen menuju ke tempat cuci mobil terdekat.
Setelah aku mencuci mobil, aku mengisi bensin sampai full. Hana menunggu dari dalam. Ia memandangi wajahku dengan tersenyum. Aku tahu ia sedang memandangi wajahku. Aku meliriknya sedikit-sedikit untuk memastikan ia nyaman di dalam mobil. Kadang aku berpikir, jika aku berpacaran dengannya, akankah hidupku jauh lebih tenang dibandingkan sekarang?
Karena setiap aku melihat wajahnya, aku merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Ini adalah pertama kalinya aku jatuh cinta semenjak SMP dulu.
...[BRRRRRR]...
Kembali ke perjalanan menuju sekolah. Aku sudah mencuci mobil dan mengisi bensin untuk mobilku sebagai perawatan untuk mobilku.
Ketika sudah sampai di depan gerbang sekolah. Aku melihat banyak sekali murid yang membawa kendaraan mereka seperti motor dan mobil. Awalnya aku berpikir hanya aku saja yang membawa mobil street seperti ini. Ternyata tidak, beberapa murid juga membawa mobil sport dan street yang sudah dimodifikasi untuk dipamerkan ke orang lain mungkin?
"Tch, aku membencinya" ucap ku.
"Mereka? menurutku mobilmu lebih bagus dari mereka" puji Hana.
Aku menoleh ke wajahnya. "Hebat sekali jika kau langsung menebak kalau aku sedang membicarakan mobil seseorang."
"Tetapi itu benar kan?"
Aku kembali menoleh ke depan, "tidak salah dan tidak juga benar."
Lalu aku langsung maju dan masuk ke dalam gerbang sekolah dan memarkirkan mobilku di tempat yang disediakan oleh sekolah.
"Ayo keluar Hana."
Setelah ku matikan mobil dan melepaskan sabuk pengaman, kami berdua keluar dari mobil dan aku mengunci mobil kembali.
Beberapa orang melihat kami berdua dengan tatapan ekspresi iri? atau syirik? lupakan. "Jika tidak suka, bilang langsung sini di depanku."
"Yoooo, mobil yang bagus" seseorang menyapaku.
"Hmm?" aku berhenti dan menoleh ke belakang.
"Aku harap mobilmu sangat senang untuk dibawa ke jalanan sepi" ucap orang itu.
"Maaf, dia bukan digunakan untuk balapan lagi. Aku sudah melupakan tentang itu" gumam ku.
"Sayang sekali jika mobil sebagus itu tidak ada gunanya selain dibuat berjalan-jalan saja."
"Sesuka ku. Iri? pergilah sana berfoto dengan mobilku, cuih" tegas ku.
Lalu aku dan Hana meninggalkan orang itu dengan sirkel nya yang terlihat tidak terlalu menyeramkan.
"Aku akan menunggu, Nico!" kata orang itu dengan nada kecil.