INFAMOUS

INFAMOUS
Kriminal



Wayne keluar dari ruang guru. Kini ia resmi sebagai pengganti perwakilan dari kelas B di organisasi OutFamous. Entah apa yang membuatnya girang, tapi ia merasa senang karena terpilih seperti itu.


"Yo!" seseorang di sebelahnya mengejutkannya.


Wayne tidak terkejut. Ia menoleh ke arah orang yang sedang bersandar di tembok itu. "Hmm?"


"Apa yang kau lakukan di dalam sana Wayne?" tanya orang itu.


"Kau sendiri? apa yang kau lakukan disini Ünder?" Wayne memasang wajah curiga.


"Tenang saja Wayne. Aku tidak menguping. Tapi . . ." Ünder mendekati Wayne untuk membisikkannya sesuatu. "Apa kau percaya jika ada seseorang yang menguping pembicaraan ini sebelum aku memergokinya?"


Wayne terkejut. Ia melihat ke depan lorong koridor dan belakang untuk mengecek jika ada seseorang yang mendengar pembicaraannya. "Apakah benar?"


"Jika kau tidak percaya, ayo ke tempat lain. Di sini tidak aman." Ünder menarik Wayne ke tempat lain.


Sementara itu ada seseorang yang sedang mengintip dan menguping pembicaraan mereka dari balik tembok koridor. "Sial, orang itu!"


Kemudian ia meninggalkan tempat itu dengan arah sebaliknya. Dia berjalan sembari mengingat-ingat apa yang ia dengar sebelumnya. "OutFamous? aku ingin tahu lebih banyak."


...[Sementara di kamar Hana]...


Hana sedang menonton drama yang ia biasanya tonton di televisi. Tapi ia tidak bisa fokus dengan ceritanya, karena sedang khawatir dengan aku yang pergi tanpa memberitahu lokasinya.


"Iihhh. Nico kemana sih? kok malah kangen!" emosi Hana sembari memeluk bonekanya.


Kemudian ia mengambil ponselnya untuk mencoba mengecek beranda sosmed. Hana sedang menelusuri beranda sosmed di platform yang bernama Rain. Lalu ia kepikiran sesuatu, yaitu menelpon atau direct message ke nomorku.


"Atau ku coba chat dia ya?" Hana sudah siap untuk menekan tombol telepon di sebelah nama kontak ku.


...[Sementara di bangunan tersembunyi]...


Aku, Sagi, Zico, dan Touré masih menelusuri tempat ini dari sudut ke sudut, pintu ke pintu, tikungan ke tikungan. Tapi yang sedari tadi kami temukan, hanyalah suatu ruangan bekas yang sepertinya belum terlalu berdebu. Namun kami masih fokus untuk membuka pintu satu-persatu.


"Nico, di sini tidak ada apa-apa" lapor Touré di pintu lain.


"Nico, di sini juga tidak ada apa-apa" lapor Zico di pintu lain juga.


"Yo Nico, di sini tidak ada yang menarik" lapor Sagi di pintu sebelum terakhir.


"Jadi satu-satunya pintu hanyalah," aku memegang kenop pintu yang berada di depanku saat ini, "hanyalah pintu terakhir ini."


Semua sudah berkumpul di belakangku untuk menerangkan jalan di depan. Aku melihat teman-temanku sebelum membuka pintunya. Mereka semua mengangguk pertanda sudah siap dengan apa yang ada dibalik pintu ini.


"Okeh."


...[KREETTTTT]...


Aku membuka pintunya dengan langsung. Kami semua melihat ke dalam ruangan itu yang ternyata . . . .


"Apa-apaan tempat ini?" ucap Touré.


Zico melihat sekitarnya. "Tempat ini seperti . . . ."


"Ya . . ." aku melihat suatu ruangan yang isinya adalah, banyak kasur yang ditutup dengan tirai. "Seperti tempat penjualan manusia?"


"Mustahil" Touré terkejut.


Kami berjalan menelusuri lebih ke dalam lagi. Sudut ke sudut kami terangkan dengan senter ponsel kami masing-masing.


Tetapi kemudian ada suara langkah dari depan kami juga. "Hei hei, kalian dengar itu kan?" Zico memastikan.


Kemudian dari depan ada beberapa senter lampu yang juga sedang disoroti sekitarnya. "Sial, bersembunyi!" perintah ku.


Aku dan yang lain mematikan senter ponsel kami, lalu bersembunyi di balik tirai kasur. Tempat sembunyi kami bertiga berbeda, alasannya untuk mengurangi kecemasan berlebihan secara langsung.


Sorotan senter itu semakin dekat dengan kami. Dan akhirnya mereka melewati kami tanpa mereka sadari. Aku tidak dapat melihat wajahnya, tapi setidaknya mengurangi kecemasan yang lain pada situasi ini.


Aku sedikit mengintip ke mereka yang sudah meninggalkan kami. "Yes, kurasa mereka semua sudah kel--"


...[TENENENENET TENENENENET]...


Tiba-tiba nada dering ponselku berbunyi. "Hei Hei! apa-apaan!?" dengan cepat, aku mematikan nada dering ku.


"Nico, hentikan suara itu!" panik Touré.


"Sedang ku usahakan!" tanganku masih berkeringat, sehingga membuat layar menjadi licin.


Dengan setenang mungkin, aku mematikan nada dering ponselnya. "Huhhh!" lega ku dan yang lain.


Setelah aku lihat siapa yang menelpon ku barusan, ternyata itu adalah Hana yang menelpon ku. "Hana bodoh! setidaknya baca situasi sedikit kek!" kesal ku. Lalu aku memblokir nomornya untuk sementara.


Setelah aku menghela nafas, aku mengecek temanku yang lain. "Baiklah, kalau begitu kit--"


Aku terkejut karena sedari tadi ada orang yang menatapi ku dari samping. Aku menoleh perlahan untuk melihat orang itu.


"DORRR!" ia mengejutkanku.


"WAAAAAAAA!" bukannya aku yang terkejut, malah Zico yang teriak akibat dikejutkan oleh orang lain juga.


Kami berdua menoleh ke arah Zico yang barusan terkejut sangat ketakutan. "Eum . . . apakah itu temanmu?" tanya dia.


"I . . .iya . . . ." aku masih tidak dapat melihat wajah orang ini.


"Ouh, baiklah kalau begitu . . ." ia menyalakan lampu senter di ponselnya. "Apa yang kau lakukan disini?"


Ia adalah seorang wanita yang sangat cantik. Kalau tidak salah, wajah ini aku pernah melihatnya di suatu tempat.


"Hah?" aku malah kebingungan.


...[Kembali ke tempat Hana]...


Hana yang barusan menelponnya, ia terkejut karena panggilannya ditolak. Lalu setelah Hana mengecek kontaknya, ternyata ia baru sadar kalau nomornya diblokir.


"N . . .Nico . . . " Hana menutup mulut dengan tangannya. "Kau tidak sedang selingkuh kan?" cemas Hana.