
"Oh benarkah begitu?" Ünder sedang asik bercanda dengan teman-teman yang lain.
Begitu dengan Wayne yang cepat akrab dengan lainnya juga. Karena sedang ramainya, aku menyempatkan diri untuk meninggalkan mereka.
Aku kembali ke sisi jalan untuk kembali mensimulasikan diri. Dari sini aku mulai sadar akan sesuatu kalau sebenarnya Elsa sengaja meninggalkan jejak. Kemudian aku membuang barang bukti itu ke jalanan.
Aku yakin sekali kalau salah satu dari mereka sedang mengintip padaku. Aku lebih baik pura-pura tidak menyadarinya saja.
Selanjutnya adalah, memanggil inspektur Steve dan Miya saja. Nanti tinggal ku jelaskan, di depan sang pelaku itu sendiri. Tapi sepertinya menjelaskan disini sangatlah tidak aman. Lebih baik nanti.
Aku perlahan berjalan kembali ke teman-teman ku. Sedikit memberi aba-aba dengan Zico, ia menyadari kode yang ku buat dengannya sebelumnya.
"Yah, kurasa sudah jam segini juga ya? tidak terasa!" ucap Zico.
"Wah benar. Sekarang sudah hampir jam 6. Aku harus segera kembali!" V mengecek jam tangannya.
"Nico, mau pulang? aku ikut denganmu ya?" permintaan Sagi.
"Hmm, baiklah" aku menghela nafas.
"Untung apartemen ku deket. Langsung pulang ah" Dysa senang.
Akhirnya semua orang pun bubar. Mereka pulang ke rumah masing-masing. Aku kembali ke kafe untuk mengambil mobil ku dengan Sagi.
Aku mengantarkan Sagi pulang. Selama perjalanan kami membahas tentang tadi.
"Jadi, kau sudah menemukan jawabannya?" pinta Sagi.
Aku tersenyum. "Sudah pasti orang itu."
"Kau sudah menelepon polisi?"
"Terimakasih sudah mengingatkan."
Kemudian aku mengambil ponselku. Lalu menelpon Inspektur Steve untuk melaporkan hal ini.
...[Berdering . . . .]...
...[00.01]...
"Halo Nico?" Steve mengangkat teleponnya.
"Aku sudah menemukannya!" aku tersenyum menyeringai.
...[Beberapa jam kemudian]...
Malam itu, di depan supermarket dekat apartemen Dysa. Pelanggan terakhir sudah pergi dari tempat itu. Sekarang suasana sangat sepi.
Dari balik tembok, seseorang mengintip untuk mengecek situasi. Karena sepi, ia pun berjalan menuju ke sisi jalan. Orang itu sangat waspada sekali dengan sekitarnya.
Sesampainya di depan. Ia membungkuk untuk melihat benda yang dijatuhkan oleh ku tadi.
"Ini dia! dengan ini aku--"
...[PSSHHHH]...
Lampu senter menyoroti orang itu. Ada banyak orang yang mengelilinginya dari setiap sisinya.
"Jadi, ternyata ini sosok sang pelaku" gumam Steve.
"Sang manipulator? omong kosong" perlahan aku berjalan menghampirinya. "Ternyata . . . . kau sangat mudah terkena perangkap ku, Bast!"
"M . . . mustahil!"
Sang pelaku akhirnya tertangkap juga. Ternyata ia adalah teman sekelas kami sendiri, Octo Bast.
"Wah. Ternyata kau yang menjebak Leo ke penjara dan menculik Mel ya?" geram Ellé.
"Hei! kalian telah menjebak ku! ini bohong! tidak ada bukti!" Bast mencoba mengelak.
Bast mencoba berjalan mundur untuk melarikan diri. Tapi ia malah menabrak Sagi dibelakangnya.
"Biarkan si jenius kita berbicara terlebih dahulu, idiot" Sagi mendorong Bast ke tengah lingkaran.
Kemudian aku memungut kancing baju yang terlepas. "Aku berterimakasih pada benda ini," aku menunjukkan kancing itu ke semua orang, "karena inilah, aku tahu maksud dan tujuan Elsa. Meski sangat sederhana."
"A . . . apa yang kau tahu? jangan seenaknya memfitnah--"
"Dimulai dari Elsa terlebih dahulu."
"Kau tidak akan dapat menjelaskan apa-apa!" Bast meremehkan ku.
Elsa pun menerangi jalan menggunakan senter hp nya seperti biasa. Ia tidak sengaja menjatuhkan antingnya ketika sedang ia pasang. Sayangnya anting itu terjatuh di depan pintu rahasia dimana ada dirimu di dalamnya."
"I . . .tu .. . .tid--"
"Kau menculik Elsa karena sepertinya ada sesuatu yang kamu lakukan di dalam sana."
"Apa itu Nico?" pinta Xenon.
"Narkoba."
Wajah Bast mendadak jadi shock.
"HAH?! BENARKAH ITU?!" Yoka terkejut.
"Aku menemukan sampelnya di tempat itu ketika sedang ku telusuri" aku menunjukkan sampel salah satu jenis narkoba yang bisa disebut sabu-sabu kepada semua orang.
"Aku tidak menyadari hal itu ketika berada di sana. Kau hebat Nico" Ellé memujiku.
"Makanya, Elsa diculik dan dibawa olehnya menggunakan mobil. Lalu disembunyikan di dalam basement rumahnya."
"Hei! itu sudah kejauhan halu mu! dasar pengarang!"
...[BRRRTTTT BRRRTTTT]...
Hp inspektur Miya berdering. Lalu ia mengangkatnya. "Halo, inspektur Miya disini" Miya menggunakan loudspeaker di ponselnya.
"Korban yang bernama Sasha Mel, telah ditemukan di basement rumah pelaku. Di basement ini juga banyak jenis narkoba yang disimpan oleh pelaku. Sekian dari saya melaporkan."
"Terimakasih atas laporannya. Dan juga sekalian bawa tahanan nomor 6002 kemari."
"Dimengerti!"
Telepon pun mati. Sekarang Bast dibuat keringat dingin karena semakin terpojok.
"Apa kau ingin mengaku sekarang, Bast?"
"Lalu, bagaimana kau tahu kalau itu aku? masih sulit dijelaskan bukan? itu kan bisa saja jadi orang lain?" Bast masih mengelak.
"Hmm, yah gimana ya. Coba V, kau tunjukkan apa yang kau temukan waktu itu."
"Eh?" Bast menoleh ke arah V.
Kemudian V menunjukkan sebuah pilok cat berwarna merah. "Ini milikmu kan?"
Bast semakin dibuat terpojok. "B . . .bisa saja itu milik orang lain kan?"
"Oh ya?" V menunjukkan foto kecocokan sidik jari di pilok cat dengan sidik jari Bast.
"Darimana kau mendapatkan sidik jari itu?" pinta Bast.
"Loh, siapa suruh pernah menyentuh mobil ku?" jawab ku.
Sekarang Bast benar-benar terpojok. Ia tidak ada kata-kata yang dapat diucapkan olehnya lagi.
"Selanjutnya, Leo. Kau meneror rumahnya selama ini akibat sesuatu yang sulit dijelaskan. Hanya Leo yang dapat menjelaskannya."
"Hah?"
Beberapa saat kemudian, sirine polisi terdengar. Beberapa mobil polisi mendatangi tempat mereka menyudutkan Bast.
Lalu keluarlah seseorang dari pintu mobil belakang polisi. "Ahh . . . leganya."
"L . . .Leo!" geram Bast.
"Kau . . . akan merasakan hal yang sama dengan kurasakan selama ini!" Leo mengecamnya.
Bast pun mengelak dan berniat melarikan diri dari sana. Ia mencoba melewati ku dengan cara hendak memukul wajah ku.
...[BRUGGGG]...
Setelah ayunan dari Bast diayunkan, aku menghindar dan menendang kakinya sampai ia terjatuh.
"Itu sia-sia saja."
Beberapa saat kemudian, Bast pun akhirnya diamankan oleh petugas. Inspektur Steve dan Miya memberikan apresiasi kepadaku. Ia akan tetap mencantumkan namaku sebagai detektif dadakan, padahal aku menolaknya.
Leo pun akhirnya benar-benar bebas. Ini juga semua berkat Zico yang akhirnya sepemikiran denganku. Teman-temanku semua memberikan pujian yang banyak kepadaku setelah memecahkan kasus ini.
Sekarang aku kembali teringat. "Apa yang Hana lakukan saat ini?"