INFAMOUS

INFAMOUS
Sibuk



Hana menarik ku entah kemana. Awalnya aku ingin membantu orang yang sepertinya sedang ada masalah. Namun Hana tanpa penjelasan, ia menarik ku sampai ke koridor.


"Hei Hana, ada apa?" aku melepaskan genggamannya.


Hana berhenti. Ia menghadap kepadaku. "Aku ingin tahu sesuatu . . . . ."


"Ya?" gumam ku.


"Kenapa kamu selalu mengunci kamarmu ketika aku selalu ada di rumahmu?" tanya Hana.


"Kau heboh datang tiba-tiba hanya untuk bertanya hal itu?" heran ku.


"Eum . . . . i . . .iya?"


"Kemana saja kamu? kita hampir bertemu setiap saat, bahkan di mobil pun, dan kamu hanya ingin menanyakan hal ini?" emosi ku.


"Nico . . . . kenapa kamu se emosi itu?" Hana merasa tidak nyaman.


"Maaf, aku sedang sibuk saat ini" keluh ku.


"Nico," dia memegang pipiku, "kau tidak apa-apa?"


Kalimat itu, membuatku tiba-tiba teringat dengan sesuatu. Bayangan dari masa lalu. Aku sudah melupakannya jauh-jauh hari. Namun, ingatan itu perlahan kembali dengan sendirinya. Suara itu, aku pernah mendengarnya pada saat itu.


"Hana . . . . ." aku memegang tangannya, "apakah aku terlihat seperti tidak baik-baik saja?"


Hana ikut terkejut dengan apa yang ku ucapkan barusan. "Eh?"


Seketika kami berdua seperti sama-sama terkejut. Seolah-olah kalimat itu seperti ingatan yang sudah memudar.


"Ehem, apa kalian tidak tahu dimana kalian berada?" tiba-tiba ada orang mengejutkan kami berdua.


"Eh?" kami berdua sama-sama menoleh.


"Yo!" Sagi dan Kiera menyapa kami.


"Kalian berdua, hai" aku menyapa balik.


Hana menghampiri Kiera. "Kiera! lama tidak bertemu!"


"Padahal baru beberapa hari loh, haha" Kiera tersenyum.


Lalu aku mendekati Sagi dan berbisik. "Kau memang sengaja mengajaknya kan?"


"Apa salahnya? lagipula ini masa mudaku" bisik Sagi.


"Yah, aku tidak terlalu mempedulikan orang lain sih. Salah satu keahlian ku adalah, tidak mengganggu orang lain" kata ku.


"Ya ya, terserah."


...[KRINGGGGGG]...


Bel masuk berdering. Sudah waktunya kembali ke kelas. Kiera kembali ke kelasnya sendirian. Kami bertiga kembali ke kelas juga untuk kembali mengikuti pelajaran.


Sembari berjalan ke kelas, kami sedikit basa-basi beberapa hal.


"Aku benci jika ada sesuatu yang mengagetkan ku sebenarnya. Namun itu adalah caraku agar terbiasa dikejutkan oleh seseorang" curhat Sagi.


"Rada konyol, tapi bagus" apresiasi Hana.


Kami tertawa. Lalu aku kepikiran suatu pertanyaan yang masih membuatku belum jelas.


"Aku masih bingung. Kenapa sekolah seleb sekarang belum ada pelajaran tentang sosial medianya?" pinta ku.


Sagi berpikir-pikir. "Hmm, kalau tidak salah--"


"Ketika kalian memasuki kelas 11" seseorang berbicara dari belakang.


"Eh?" kami bertiga menoleh ke belakang.


"Sengaja sekolah melakukan ini. Agar kami tahu kepribadian dan karakter dari masing-masing murid. Rencananya, sekolah ingin mengadakan kelas spesial untuk murid yang memiliki subscribers atau followers di atas 10 juta. Ups, ibu membocorkannya" ucap Bu Ellie sembari membawa buku.


"Bu Ellie, bukankah itu akan menghancurkan kelas Z?" tanya Hana.


"Mungkin. Sistem sekolah akan kembali diubah setelah semester ganjil berikutnya."


"Jadi, sekarang cara masuk sekolah ini adalah, dengan memiliki minimal 10 ribu followers atau subscribers?" tebak Sagi.


"Oiya, lupa. Sebentar!" Hana dan Sagi bergegas menuju ke kelas.


Sedangkan aku masih kepikiran dengan nasib orang-orang dari kelas Z saat ini.


"Nico, apa ada yang membuatmu kepikiran?" Bu Ellie menungguku.


"Tidak Bu!" aku tersenyum.


"Cepatlah."


Kemudian aku bergegas menuju kelas. Bu Ellie dari jauh melihatku sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sesampainya di kelas. Aku langsung duduk di bangku ku. Pelajaran sudah dimulai. Namun aku dibuat melamun akibat kepikiran sesuatu.


"Sebenarnya, apa tujuanku masuk ke sekolah ini? menginginkan popularitas? aku sudah memiliki itu semua! membalap followers kakakku, kurasa tidak perlu sampai masuk ke sekolah ini untuk melakukan hal itu."


Pikiran itu membuatku tidak fokus dengan pelajaran di depan. Bu Ellie yang menyadari aku sedang melamun, ia kemudian menegurku.


"Nico! apa kamu dapat menyelesaikan ini?"


Semua murid menatap kepadaku. Aku yang terkejut setelah disebut, membuatku kebingungan sedikit. "Eh maaf, kenapa?"


"Ibu tanya, apa kamu dapat menyelesaikan ini?"


Lalu aku menatap ke arah papan tulis untuk mengamati apa yang sedang dibahas. Ternyata sekarang adalah pelajaran matematika. Aku yang sudah terlanjur dipanggil, hanya bisa menuruti apa yang Bu Ellie minta.


"Baiklah" sedikit berbisik.


Aku berdiri dan maju ke papan tulis. Kemudian mengambil spidol yang Bu Ellie berikan padaku. "Hmm, aljabar. Kalau tidak salah . . . . "


Aku mencoret-coret papan tulis untuk menjawab soal itu. Semua orang mengamati ku dengan serius. Jujur saja sebenarnya aku benci bila ada orang yang menatapi ku seperti ini. Tapi karena ini permintaan Bu Ellie, yasudah . . . .


"Ini Bu" aku mengembalikan spidolnya kepada Bu Ellie.


Lalu kembali ke tempat dudukku tanpa mengatakan apapun.


Bu Ellie mengoreksi jawabanku. "Yaps, ini benar. Berikan apresiasi pada Mikhail Nico."


Semua orang bertepuk tangan sembari menatapku. Mereka terpukau denganku oleh karena soal yang menurutku mudah.


"Baiklah kembali ke pelajaran . . . ."


Bu Ellie kembali mengajar. Sekarang aku mengamati apa yang bu Ellie terangkan saat ini.


Sagi berbalik menghadap ku. "Yo, aku baru tahu kalau kau orang yang pintar" puji Sagi.


"Ak---"


"Kau pikir siapa Nico? dia orang yang paling pintar diantara yang lain. Kau saja yang bodoh!" sela Hana yang membelaku.


Aku dan Sagi tidak bisa berkata-kata dengan apa yang Hana barusan ucapkan.


...[Beberapa jam kemudian]...


Aku sedang dalam perjalanan pulang di mobil bersama Hana. Karena bahan makanan ku menipis, sekarang aku menuju supermarket dekat rumah Dysa.


"Kamu mau ikut atau tunggu disini?" tanya ku pada Hana.


"Tunggu disini saja. Tidak ada yang ingin ku beli saat ini."


"Baiklah, akan ku belikan kamu sesuatu nanti" aku berjalan menuju pintu supermarket.


"Kau perhatian sekali!" girang Hana.


Ketika sudah sampai di depan pintu, aku merasa seperti menginjak sesuatu. "Hmm?"


Aku memungut benda kecil yang barusan ku injak. "Ehh? benda ini . . . . ."


Aku melihat sekitar dan dalam supermarket dari luar untuk mengecek seseorang yang kurasa familiar. Kemudian kembali melihat benda kecil itu.


"Bagaimana bisa?"


Aku menemukan kembali benda kecil yang sebelumnya pernah kutemukan di supermarket malam itu. Bagaimana bisa benda itu kutemukan kembali setelah hilang 2 hari?


Aku yakin, pasti ada seseorang yang sengaja menjatuhkan ini.