INFAMOUS

INFAMOUS
Asmara



Sagi keluar dari ruangan setelah memberikan surat kepada ku. Dia berjalan keluar kelas sembari bermain hp. Tetapi ketika ia keluar dari pintu,


"Sagi,"


"WAAAAAA!!!"


"Ssshhhtttt, berisik."


"Oh, Hana. Astaga, kau mengejutkanku. Hampir saja ponselku terlempar."


Ternyata Hana memanggil Sagi di luar kelas.


"Aku tidak bermaksud mengejutkan mu.""


"Ya , ya. Setidaknya lain kali jangan seperti itu" Sagi mengusap dadanya. "Lalu, ada apa?"


"Apa yang kau berikan kepada Nico?" Hana penasaran.


"Eum, apakah kau punya hak untuk--"


"Iya aku tahu kalau aku kepo. Cuman, aku ingin bertanya aja"


"Baiklah tapi . . . "


Sagi melihat ke belakang. Aku sedang berjalan ke luar kelas hendak menuju atap. Kemudian Sagi mendorong Hana untuk mengantarkan formulir pendaftaran lomba festival yang diberikan semua murid sebelumnya.


"Ayo, jangan bicara disini. Orangnya datang."


Sagi dan Hana bersembunyi di balik koridor kelas lain untuk melihatku pergi menuju atap.


"Apa sebaiknya kita harus ikuti?" tanya Hana yang hendak mengikutinya.


...[TAPPPPPP]...


"Eh?" Hana terkejut.


Sagi menarik tangan Hana.


"Maaf, tapi aku tidak bisa membiarkanmu melakukan itu . . . . "


"Loh, memangnya ada apa sih?" Hana masih bingung.


"Bagaimana jika kau antarkan formulir itu ke ruang guru terlebih dahulu? baru kita bicara setelahnya."


Hana sempat terdiam melihat ekspresi wajah Sagi yang serius. "Baiklah, ayo."


Akhirnya Hana mengurungkan niatnya untuk mengikuti ku kemana aku pergi. Hana dan Sagi setuju untuk mengantarkan formulir kepada Bu Ellie terlebih dahulu.


...[Sementara itu di kelas 3-A]...


Akira yang berniat untuk pergi ke kantin setelah bel istirahat, ia merapihkan peralatannya terlebih dahulu.


"Hmm hmm hmm" Akira bernyanyi mendengung dengan girang hati.


Tetapi ketika ia hendak mengambil pulpennya kembali, pulpen itu terpeleset dan terjatuh ke lantai setelah Akira tidak dapat menangkapnya.


"Oops" kemudian Akira memungut pulpennya.


...[TEKKKKKK]...


"Eh?"


Terjadi kembali momen saling menatap satu sama lain dengan lelaki yang duduk di sebelah Akira. Pantulan kacamata lelaki itu membuat Akira dapat melihat wajahnya sendiri memerah.


Lalu lelaki itu berbicara. "Ouh, kupikir aku harus mengambilnya. Jadi ya, aku memang ingin memberikannya padamu. Kupikir juga kau tidak akan meng--"


"Ssshhhtttt" Akira menutup mulutnya.


Lelaki itu diam tidak bisa berkata apa-apa dan tidak tahu harus bertindak apa-apa. Setelah mereka berdua berdiri dan Akira mengambil pulpennya, lelaki itu juga merapihkan peralatannya.


Akira yang tertarik dengan lelaki itu mencoba memulai membuka topik. "Baru kali ini aku mendengar suaramu."


"Beruntung lah karena kau mungkin orang pertama yang mendengar suaraku di dalam kelas."


"Benarkah begitu? keren . . . ." Akira semakin tertarik dengannya.


Lelaki itu lalu berbalik menghadap Akira. "Namaku Justin Noa." Noa memperkenalkan diri.


Akira menghadap ke Noa. "Aku Mikhail Akira" Akira juga memperkenalkan diri.


"Ini pertama kalinya kita berinteraksi ya?" Noa membenarkan kacamatanya, "apalagi bersama dengan seleb sepertimu."


"Tidak-tidak. Subscribers ku masih 19 juta. Tetanggaku sendiri bahkan masih tidak mengenali ku haha" canda Noa.


"19 juta lumayan loh. Memang konten apa yang kamu buat?" tanya Akira.


"Ya . . . . aku membuat konten yang ekstrim sih, misalkan melakukan semacam parkour."


"Wah hebat!" Akira terpukau, "bisakah kita bermain bersama nanti?"


"Haha tidak semudah yang kau pikirkan."


Mereka berdua saling tertawa di dalam kelas. Namun beberapa murid di luar kelas sedikit memperhatikan mereka berdua yang sedang berinteraksi itu. Tatapan itu adalah, tatapan iri. Seolah-olah mereka berkata, "Tch, dasar beruntung!" , "Apa yang dia lakukan di sana?" , "Hei, menjauh lah dari dia!"


Interaksi diantara Akira dan Noa ini membuat beberapa murid lain benci dengan Noa. Karena Noa berani berbicara dengan Akira yang menjadi incaran beberapa lelaki di sekolah ini.


...[Sementara itu]...


Aku berjalan menuju atap dengan headset masih tergantung di leher. Aku masih overthinking apa yang akan terjadi di atas sana. Berharap saja bukanlah sesuatu yang tidak kuharap kan.


Kemudian sampailah di pintu atap yang hendak ku buka. "Baiklah"


Setelah menghela nafas, aku memberanikan diri untuk membuka pintu atap.


...[KREEEEKKK]...


Suasana di atap sangatlah sepi sekali. Langit biru dan awan yang indah. Angin yang sejuk dengan matahari yang tidak terlalu panas. Dari yang sepenglihatan ku, aku hanya melihat Elsa yang sedang melihat pemandangan di bawah sana dibalik tempat teduh. Entah apa yang akan ia katakan kepadaku. Dari penampilannya, ia sangatlah rapih. Rambut yang di kuncir itu membuatku sedikit terpesona dengannya.


"Nico?" Elsa menengok ke belakang.


"Elsa, kau--"


"Sebelum itu, bagaimana lihat di sini terlebih dahulu?" Elsa mengajakku untuk melihat pemandangan bawah sana.


Aku mengangguk saja. Lalu mendekatinya sampai berdiri di sampingnya. Dekat, sangat dekat sekali. Aku berusaha untuk tetap bersikap keren dihadapannya agar tidak terlihat konyol baginya.


"Lihat di sana," Elsa menunjuk sesuatu.


"Hmm?" aku melihat apa yang ditunjuk oleh Elsa.


"Orang itu baru saja menyatakan perasaannya kepada gebetannya."


"Oh ya?" aku melihatnya lebih jelas lagi.


Ya, aku melihat 2 orang sedang bersama di ujung tembok sekolah yang tidak terlihat dari kerumunan di sana.


"Tapi bagaimana kau bisa tahu orang itu menyatakan perasaannya?" tanyaku.


"Dia kan teman sekelas kita. Dia sendiri yang bilang kepadaku bahwa ia memang mencintainya sejak dulu."


"Oh iya, aku baru ingat wajah itu."


Keheningan membuat kami sedikit canggung. Aku masih menunggu apa yang akan dikatakan oleh Elsa. Hal yang bisa ku tebak hanyalah, mungkin dia akan bertanya mengenai pelajaran. Tetapi mustahil sekali jika harus dipanggil ke atap sini.


Kemudian Elsa berbalik menghadap ku. Aku yang meliriknya merasa tidak siap apa yang akan selanjutnya ia katakan.


"Nico,"


"Ku rasa dia tidak akan membahas pelajaran!"


"Kamu . . . . jomblo kan?"


"Ku rasa aku tahu pembahasan ini mengarah ke mana . . . . "


Lalu aku juga menghadap kepada-nya untuk menanggapi apa yang akan ia katakan. "I . . . iya,"


Dia memalingkan wajahnya sebentar karena tidak bisa menahan wajah merahnya. Kemudian dia menoleh lagi ke wajahku dan memberanikan diri untuk mengatakannya.


"Maukah,"


"Sudah kuduga"


"Maukah kamu jadi pacarku, Nico?"


"Ehh" aku pura-pura terkejut seolah-olah tidak tahu kalau aku sedang ditembak.


Wajahnya sudah sangat serius sekali menunggu jawabanku. Ia sudah memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya kepada ku. Entah apa yang dia suka dariku, padahal aku tidak terlalu ada interaksi maupun berkonstribusi dengannya.


"Hanya tinggal menjawabnya kan? baiklah."


Aku menghela nafas untuk menjawabnya.