
Aku lupa nama jalannya. Yang terakhir Dysa lihat Elsa sebelumnya, terlihat di dekat supermarket apartemennya. Aku, Sagi, Zico, Touré, V, Ellé, Xenon, Bast, Yoka, Okocha dan Dysa sudah sampai di TKP.
Entah kenapa harus perlu banyak orang hanya untuk mencari satu orang ini. Terlihat mudah, namun jika tanpa bantuan dan petunjuk, kurasa itu semua hanyalah hal yang sia-sia.
Sebelumnya aku juga sudah menghubungi inspektur Steve dan Miya. Aku melaporkan tentang Elsa lebih spesifik lagi. Mereka senang mendengar informasi ini. Namun, mereka juga masih mengurus masalah Leo sebelumnya. Jadi untuk sekarang, aku diminta oleh Miya untuk jadi detektif dadakan sementara.
Di telepon itu sebenarnya aku sedikit kesal. Apakah kalian tidak bisa mengirimkan polisi lain untuk mengurusi hal ini?
Tapi aku tidak ungkapkan perasaan ku pada mereka. Yang malah, hanya akan jadi tambah masalah untuk kedepannya nanti.
...[Jam 19:57]...
Malam ini kami berada di depan supermarket. Dysa akan menjelaskan secara detail kejadian semalam. Mungkin masalah ini masih panjang sekali. Atau mungkin akan menjadi sebaliknya. Diantara menemukannya secepat mungkin, atau malah ada yang menghalangi kasus ini.
Setelah semua sudah sedia mendengarkan Elsa, kini tinggal ku minta untuk menjelaskannya saja. "Oke Dysa, kau bisa jelaskan sekarang."
Dysa mengangguk. Ia menoleh menatap jalanan. Lalu menunjukkan jalan di depan, "Jadi . . . ."
...[Semalam]...
Dysa baru keluar dari supermarket semalam. Jalanan terlihat sangat sepi. Begitu juga di dalam supermarket tidak terlalu banyak pelanggan. Mungkin suasana ini terlihat horror. Namun tidak, suasana ini malah berubah menjadi misteri.
Dysa yang berjalan menuju trotoar jalanan, ia berhenti sejenak setelah mendengar langkah kaki seseorang.
...[TAP TAP TAP TAP]...
Suara langkah kaki itu sangat cepat sehingga membuat Dysa sedikit panik. Karena ia sedikit takut, Dysa kembali menuju ke depan supermarket untuk menenangkan diri sejenak.
"Huhhhhh, beginilah jika belanja malam-malam!!" risau Dysa sembari mencoba mencari ponselnya di tas yang ia tenteng.
Tapi setelah itu, Dysa tidak sengaja matanya tertuju ke depan. Ia melihat seseorang yang ia rasa familiar di kelasnya. Seorang gadis sedang berlari menggunakan pakaian sekolah yang sama dengan Dysa ketika sekolah. Tapi Dysa sedikit bingung, mengapa ada gadis sekolah yang berlarian malam-malam dengan wajah . . . . panik?
"Hei!" Dysa mencoba memanggilnya kepadanya. "Ih apa sih! Dysa sok asik banget!" Dysa merasa malu setelah ia mencoba memanggil gadis itu.
Tapi beberapa saat kemudian, seorang pria menggunakan busana serba hitam mengejar gadis itu. Dysa tidak bisa berkata apa-apa melihat wanita itu dikejar oleh pria yang berpenampilan mengerikan seperti itu. Yang ia rasakan malah ikut panik.
Reflek ia ingin menelpon polisi untuk menjelaskan apa yang ia lihat barusan. Tapi,
...[KRINGGGGGG]...
Nada dering ponselnya berbunyi. "WAAAAAAAA!" Dysa reflek terkejut. Ponselnya hampir terlempar. Untung saja Dysa menangkapnya kembali.
Setelah itu ia melihat nama kontak yang menelponnya. "Kakak?"
Karena masih berdering, Dysa pun mengangkat telponnya. "Halo kakak?"
"HEI, KAU PIKIR SUDAH JAM BERAPA INI?"
Dysa mengingat kembali kalau ia habis belanja. "Ahh iya maaf, aku sampai lupa!"
"Kau sedang tidak berbelanja macam-macam kan?"
"T . . . tidak kok! ini aku mau pulang!"
Sembari Dysa berjalan ke depan, ia kembali mengecek gadis yang dikejar itu. Namun ia sudah menghilang dari sana, bersama dengan pria yang kemungkinan mengejarnya.
...[Selesai menjelaskan]...
Aku mencoba rekayasa cerita itu dalam simulasi pikiranku. Dimulai dari jalan di depan, aku menuju ke jalan untuk kembali mensimulasikan kejadian semalam. Meski aku tidak tahu bagaimana cara mereka bergerak, tapi aku sedikit berteori beberapa gerakan yang Dysa beritahu.
"Aku tidak mengenalnya. Tapi wajah itu kurasa cocok dengan foto yang kamu tunjukkan di ponselmu" jawab Dysa.
"Baiklah, simulasi ulang.""
Aku kembali merekayasa kejadian dengan cara mensimulasikan kejadian itu dalam pikiranku kembali. Meski ekspektasi ku tidak mungkin sepenuhnya benar, setidaknya aku perlu mengetahui sesuatu bila hal itu terjadi.
Aku mengamati dan menganalisis jalanan. Bisa saja ada petunjuk yang ditinggalkan oleh Elsa sebelumnya. Atau petunjuk dari pelaku itu sendiri.
Sebenarnya dari awal kasus, semua ini memanglah tidak logis. Bagaimana bisa setelah aku pacaran dengan Hana, dapat membuat Elsa menghilang? Elsa mengungkapkan perasaannya duluan, namun hatiku sudah setia dengan Hana.
Kasus ini membuat ku dijadikan pemicunya secara tidak langsung. Kalau begitu, bagaimana bisa dia tahu aku mengungkapkan perasaan ku pada Hana sebelumnya?
Belum juga festival dimulai, namun sudah banyak kasus uang membuatku muak. Sekolah ini tidak luput dari kasus kehilangan, pencurian, kekerasan, bahkan kematian seseorang. Mungkin saja. Aku belum mendengar tentang kasus kematian sejauh ini. Dan kuharap saja itu tidak akan pernah.
Lupakan pikiranku barusan. Kembali ke pikiranku yang sok detektif ini. Dari yang kulihat disini, seperti ada benda kecil yang membuatku mencolok di penglihatan ku.
"Benda ini . . . ." aku menganalisis benda itu lebih lanjut lagi. Tapi . . . .
"NICO! APA KAU BISA KEMARI SEBENTAR?" Sagi memanggilku.
"Oit!" Aku menghampirinya.
Sagi baru saja membeli soft drinks dari supermarket. "Nico, kamu mau yang mana?"
"Bodoh! kukira sesuatu yang penting" aku menegurnya.
"Memang menurutmu air itu tidak penting?"
"Eum yah . . . . " lalu kami berdua sama-sama terdiam. "Lupakan!" aku mengambil soft drinks yang ia beli.
Kemudian langsung meminumnya sampai habis. Setelah itu aku menendang botol plastiknya sampai masuk ke dalam tong sampah.
"Gol!" teriak ku.
"Hebat. Apa kau haus Nico? kau boleh mengambil minum ku jika mau" tawar Sagi.
"Bodoh. Itu namanya tidak tahu diri untukku."
Setelah minum, aku kembali ke jalanan untuk melihat kembali benda kecil yang kutemukan sebelumnya.
"Baiklah, aku akan merasa lebih segar setelah itu!" semangatku setelah minum.
Tapi setelah aku sudah di jalanan, ada hal yang aneh terjadi. "Tunggu sebentar . . . . ." Aku melihat sekitar jalanan. "Kemana benda itu???"
Seketika aku sedikit panik mengetahui benda itu hilang dari jalanan. Aku bahkan sampai membungkuk untuk melihat jalan itu secara detail. "Tidak tidak, ini bukanlah kebetulan!"
Lalu aku menatap ke semua orang yang sedang berbincang-bincang di depan supermarket. Dari wajah mereka, tidak terlihat seperti ada yang sedang menyembunyikan sesuatu.
Aku melihat ke setiap ujung jalan untuk memastikan tidak ada orang yang mengawasi ku secara diam-diam. "Tidak tidak, mustahil jam segini ada orang yang lewat sini!"
Kemudian tatapanku kembali kepada teman-teman yang berwajah tanpa dosa itu. Rasa kecurigaan ku mulai meningkat kepada mereka.
"Aku yakin sekali . . . . kalau salah satu diantara mereka . . . . . menyembunyikan benda yang kutemukan sebelumnya!"
Dimulai dari sini. Dimana rasa kepercayaan ku mulai memudar.