
...[KRINGGGGGG]...
Bel istirahat telah berdering. Hari ini adalah keesokan dari investigasi kemarin. Sesuai janji, aku dan Sagi akan kembali menemui murid dari kelas D nanti.
"Kita ke kelas D dulu atau memanggil teman yang lain di kelas C?" tanya Sagi yang menghadap ke mejaku.
"Hah? buru-buru sekali. Janjiannya kan setelah sepulang sekolah bodoh" heran ku pada Sagi.
"Heh? benarkah? aku lupa!" Sagi tertawa dan memukul kepalanya sendiri.
Aku beranjak dari kursi ku. "Baiklah, aku duluan."
Tapi tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Aku menoleh kebelakang. Tidak lain dan tidak bukan, sudah pasti itu Hana yang menahan ku.
"Mau kemana lagi kamu?" tanya Hana.
Aku bingung harus menjawab apa. Aku sudah memiliki janji dengan orang lain. Namun aku harus memercayainya kalau orang itu juga spesial selain dirinya.
"Nico, Hana. Aku duluan ya!" Sagi meninggalkan kami berdua.
Kini kelas hanya sisa kami berdua. Semua orang sudah meninggalkan kelas, kecuali kami berdua.
Aku menjawab dengan akal-akalan ku. "A . . . ada janji deng--"
"Janji lagi, janji lagi" Hana melepaskan genggamannya.
"Maaf, tapi ini penting."
"Lebih penting orang itu atau aku?" desak Hana.
"Eh?" lalu aku baru menyadari sesuatu.
Hana ingin lebih diperhatikan olehku. Ia berpikir kalau hubunganku dengannya hanyalah sekedar status saja.
Hana menundukkan kepalanya. "Kita memang belum seminggu berpacaran, tapi . . . ." ia memandang wajahku. "Apakah setidaknya kit--"
Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, aku menutup mulutnya. Lalu aku menempelkan dahi ku dengan dahinya. Kini kami saling bertatapan mata ke mata. Wajahnya sangat merah sekali.
Dengan sikap keren ku, aku mengatakan, "kalau menurutmu kita belum sejauh yang kamu pikirkan, apakah harapanmu seperti ini?" lalu aku mencium keningnya.
Setelah itu, aku meninggalkannya dengan gaya berjalan ku yang keren. Hana melihat ku berjalan keluar dari kelas dengan wajah kebingungan total.
Setelah aku keluar dari kelas. Hana memukul mejanya, "berani-beraninya pria itu!" wajah Hana sangat merah. Ia menutupinya dengan menundukkan kepalanya.
Sementara aku yang di luar kelas, aku berjalan sembari menendang-nendang tembok koridor. "BODOH!!!!! APA YANG BARUSAN KU LAKUKAN? SOK KEREN DASAR NICO BODOH!!!!!!" Selama berjalan itu aku menyesali perbuatan ku barusan.
...[Sementara itu]...
Akira berjalan keluar kelas sembari bermain ponselnya. Ia bermain hp seperti sudah terpaku dengan apa yang ia lihat sekarang. Namun tiba-tiba seseorang mengambil ponselnya dari belakang.
"HEEEE!!" Akira menoleh dan menghadap ke belakang.
"Tuh kan! jangan lengah makanya!" ternyata Noa yang mengambil ponselnya Akira dari belakang.
Wajah Akira menjadi merah setelah melihat wajahnya. "A . . .aku . . . hanya--"
"Sudahlah, ini" Noa mengembalikan ponsel Akira. "Lain kali jangan seperti itu di jalan ya?" Noa memperingati.
"Maaf, lain kali aku akan berhati-hati" Akira luluh.
"Oiya, kau mau pergi kemana setelah ini?" tanya Noa.
"Aku ingin menemui seseorang."
"Nico?" tebak Noa.
Akira memasang wajah mencurigakan. "Hebat juga kau bisa tahu. Mengerikan . . . ."
"Ada kok. Waktu kelas 11 aku kenal dengan yang namanya Oidori,"
Tiba-tiba Noa terkejut setelah mendengar nama itu.
"Namun setelah aku pergi ke luar negeri, aku sudah tidak mendengar kabarnya lagi."
Noa tidak tahu apa yang harus ia katakan.
"Tapi setelah aku kembali kemari, katanya ia sudah tidak ada di sekolah ini."
Noa semakin ingin menghentikan apa yang Akira katakan.
"Ketika aku tanya orang lain, orang-orang malah seperti tidak mau menjawabnya. Mereka seperti trauma mendengar nama itu."
Noa memotong cerita Akira. "Begini Akira, dia itu sebenernya--"
"Eh maaf Noa, adikku sudah menunggu di sana. Sampai jumpa lagi nanti Noa!" Akira langsung pergi meninggalkan Noa karena terburu-buru.
Noa masih tidak percaya jika Akira tidak tahu apa-apa mengenai murid bernama Oidori itu. "Dia benar-benar tidak tahu kejadiannya?"
Sesampainya di belakang gedung Opera, Akira menemui ku untuk mengatakan sesuatu. "Ahh maaf, tadi kakak ada sedikit halangan."
"To the point saja. Cepat katakan" kata ku sembari mengecek jam tanganku.
"Baiklah," Akira mendatangiku dan mendekat. "Nico . . . "
Aku memiliki firasat buruk mengenai ini. "Hmm?"
Akira berbicara dengan pelan. "Sifat ibu belakangan ini aneh."
"Hah?" aku sedikit terkejut.
"Iya, sifat ibu belakangan ini an--"
"Bukan bukan, bukan itu maksudku" aku meluruskan.
"He?" Akira tidak mengerti.
"Kau memintaku kemari hanya untuk mengatakan itu? memangnya tidak bisa di hp saja?" heran ku.
Akira tersenyum. Lalu,
...[BUGGGG]...
Akira memukul kepalaku. Ia mengunci leher ku, lalu mencubit pipiku dengan keras. "MAKANYA KALAU ORANG BICARA TUH, DENGARKAN SAMPAI AKHIR!" emosi Akira.
"Ssshhhtttt!!! berisik!" aku mengelak dari kuncian kakak.
"Huff, hampir saja aku kehilangan kesabaran ku" Akira mengelus dadanya.
"Baru saja kau kehilangan itu" ucap ku.
"Kau bicara sekali lagi akan ku jotos wajahmu yang tampan itu!" Akira mengepalkan tangannya.
Aku mengangkat tangan. "Iya-iya! yasudah cepat katakan apa yang ingin kau sampaikan."
Akira menenangkan diri. Lalu ia berbicara serius padaku. "Nico . . . ."
Aku menurunkan tanganku dan serius mendengarkannya.
"Apakah kamu kenal dengan siswi bernama Elsa dari kelas A?"
"Huh?" seketika aku bingung mengapa tiba-tiba ia bertanya hal itu.
Kupikir dia akan menanyakan tentang ibu. Tapi ternyata pertanyaannya jauh dari dugaan ku. Bagaimana dia bisa tahu murid perempuan dari kelasku? apakah dia tahu kalau Elsa itu menghilang dari rumahnya? atau . . . . dia sendiri tahu dimana keberadaan Elsa?