
Malam itu di depan minimarket malam. Kami melakukan pencarian sampai berjam-jam. Namun pencarian itu sama sekali tidak membuahkan hasil apapun. Aku awalnya ingin mengatakan sesuatu tentang barang petunjuk sebelumnya yang hilang. Tetapi tidak akan kukatakan kepada mereka, kecuali teman dekatku sendiri.
Kepercayaan ku terhadap orang-orang baru, mulai memudar. Akhirnya malam itu, semuanya pulang tanpa menemukan satu petunjuk pun.
Keesokan paginya. Aku mendapatkan notifikasi di email ku. Setelah ku baca di komputer ku, ternyata itu adalah pesan dari inspektur Steve.
Aku terkejut setelah melihat isi pesan itu. Ternyata Leo meminta ku untuk menemuinya di penjara. Belum ada alasan mengapa ia ingin menemui ku. Namun, jika namaku sudah disebut. Pasti itu penting.
Sorenya setelah pulang sekolah. Kini aku sedang berada di kantor polisi dimana Leo ditahan. Aku tidak tahu mengapa Leo meminta ku untuk menjumpainya. Mengenai kasus Elsa, aku belum ada petunjuk lain setelah hilangnya petunjuk pertama.
Lupakan kasus Elsa sebentar. Aku ingin tahu apa yang ingin dikatakan oleh Leo.
...[BIIIIPPPPPPPP]...
Aku masuk ke dalam sel Leo. Aku melihatnya sedang duduk sembari menungguku.
"L . . .Leo?" aku menyapanya.
"Sebelum itu, apa kau diberi waktu Nico?" ucap Leo.
"10 menit saja."
"Kalau begitu aku akan to the point saja."
"O . . . oke" aku duduk berhadapan dengan Leo.
Leo melihat ke kiri dan kanan dan sekitar ruangan. Lalu ia mulai bicara.
"Nico."
"Ya?"
Wajah Leo terlihat serius. "Apa kau percaya jika sebenarnya aku dijebak oleh seseorang?"
"Eh?" aku terkejut.
...[Di sisi lain]...
Akira keluar dari lift. Ia sedang menuju ke apartemen ku. Kemudian dia menekan bel apartemen ku.
...[TINGGGGGG TINGGGGGG]...
Setelah menunggu lama, akhirnya seseorang membukakan pintu.
Akira reflek menyapa. "Halo adikk--"
"Eh, kak Akira?" sapa Hana.
Akira terdiam terkejut sejenak. "Lohhh, kamu pacarnya Nico bukan?"
"B . . . bagaimana dia bisa tahu? padahal aku dan Nico baru-baru banget pacaran loh!?" Hana malah lebih terkejut. "Hehe i . . .iya."
"Astaga, apa aku mengganggu? kalau iya sih akan ku tambah" canda Akira.
"Hahahaha, lebih baik senior masuk terlebih dahulu" Hana mempersilahkan Akira.
Mereka berdua masuk ke dalam. Duduk berdua di ruang tamu apartemen Nico. Namun setelah duduk, mereka berdua malah diam satu sama lain. Tapi ketika ada hal yang ingin mereka bicarakan,
"Aku ingin bertanya."
"Aku ingin bertanya."
Mereka berdua malah sama-sama bicara.
"Eh, yasudah senior duluan."
"Eh, yasudah kamu duluan."
Dan terjadi lagi.
"Heh?"
"Heh?"
Karena dimakin terbuat bingung. Akira memulai duluan. "Baiklah, apa yang kamu lakukan di apartemen Nico? lagipula, dimana Nico?"
"Nico sedang keluar rumah setelah sepulang sekolah, dan aku disini sedang membereskan rumahnya. Itu saja."
"Huuuu . . . . istri idaman memang beda" iri Akira.
"Haha, tidak begitu juga sih. Sekarang ada apa senior kemari?"
"Aku hanya bosan saja sih. Ingin mengganggu Nico kurasa menyenangkan. Tapi kalau ku tahu dia tidak ada disini, malah ditambah bosan" keluh Akira.
"Sebosan itu kah? hihihi" tawa kecil Hana.
Lalu Akira memandang wajah Hana. "Yah, jikalau tidak ada orangnya . . . ." Akira memegang lengan Hana. "Bagaimana kalau ganggu saja pacarnya?"
"Aaaaaa jangan!!!" canda Hana.
Akhirnya mereka berdua malah asik berdua di apartemen ku. Aku sendiri juga tidak tahu kalau Akira akan datang. Tapi jika memang dia memberi tahu, aku juga sedang tidak ada di rumah.
Kembali saja kepadaku.
"B . . . bagaimana bisa?" aku terkejut.
"Setelah sekitar sebulan, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengatakan ini. Meski belum ku jelaskan kepada polisi, aku memintamu untuk membantuku membebaskan ku dari tempat ini."
"Apa aku bisa mempercayai mu?" curiga ku.
"Aku tidak memaksamu untuk percaya. Tetapi aku sedang mengatakan fakta ini. Ini semua juga hampir salahku, karena aku ragu untuk menjelaskan ini."
"Sebaiknya katakan saja" kata ku.
Leo menghela nafas. "Ada seseorang yang menjebak ku selama ini."
"Iya aku tahu, sil--"
"Dan orang itu kurasa dari kelas A."
"Eh?"
"Apa kau masih ingat tentang seseorang yang meneror ku sampai aku dibuat derita setiap malam?"
"I . . .iya . . . "
"Itu bukanlah sebuah lelucon."
Aku sedikit bingung. "T . . . tapi waktu itu ketika--"
"Ya, itu aku memang benar akan memukul mu. Namun seseorang memanipulasi ku untuk mengeliminasi mu."
"Mustahil" aku sedikit tidak percaya.
"Entah apa kau percaya apa yang kukatakan sekarang ini atau tidak. Tapi, aku mempercayakan mu akan hal ini!" Leo mulai serius lagi.
"Keluarkan semuanya Leo" ucap ku.
"Orang yang menghantam Touré dengan benda tumpul waktu itu di sekitar rumahku, bukanlah aku."
Aku masih mendengarkan.
"Touré mungkin telah dipukul oleh sang manipulator yang sudah meneror rumahku. Namun sang pelaku sepertinya mengambil sesuatu di rumahku, kemudian dia jatuhkan di sekitar Touré tergeletak agar ia menyangka kalau aku telah menghantamnya."
"Bagaimana kau bisa tahu Touré?" heran ku.
"Polisi penyelidik yang menjelaskan kronologi dan buktinya."
"Inspektur Steve dan Miya pasti."
"Sampai akhirnya sang manipulator meninggalkan ku di tempat itu disaat aku ditangkap."
"Tunggu dulu . . . dia menyuruh mu?"
Leo terdiam sejenak. Ia memegang kepalanya seperti merasa perih. "Sialan itu berhasil mengancam ku!"
Aku menoleh ke arah cctv untuk memastikan kalau hal yang Leo katakan semua itu direkam. "Lanjutkan."
"Dia mengancam untuk membakar rumahku setelah ia diam-diam menyelinap masuk ke rumahku!"
"Bagaimana bisa?"
"Dia meninggalkan surat di atas meja. Yaitu surat ancaman. Jika aku tidak mau menurutinya, maka rumah itu akan langsung dipicu dengan api."
"Dan bagaimana bisa dia akan langsung membakar rumahmu bukan?" pinta ku.
"Bensin . . . ."
"Eh?"
"Aku mencium bau bensin yang menyengat di dalam rumahku."
"Itu gila!"
"Ya. Secara harfiah, aku awalnya tidak ingin memperdulikannya. Namun, sepertinya masih ada hidup yang masih harus ku tempuh sampai saat ini!"
...[BIIIIPPPPPPPP]...
Waktu telah habis. Petugas memintaku keluar dari sel nya. Aku masih menginginkan banyak informasi darinya. Bisa saja pelaku dibalik semua ini, juga terkait dengan kasus hilangnya Elsa.
Dan kemungkinan orang itu, "Adalah salah satu diantara mereka!"
"Mikhail Nico, waktumu sudah habis. Silahkan keluar dari sel ini" suruh petugas itu.
Aku berjalan menuju keluar ruangan. Namun Leo memanggilku,
"Nico!"
Aku tidak menoleh kebelakang. Namun aku berhenti tanpa melihatnya.
"Aku tidak memaksamu untuk percaya! semua keputusan ada di tanganmu!"
Setelah itu, aku lanjut berjalan keluar dari sel.
Sebelum aku pulang. Selanjutnya. Aku akan pergi menemui inspektur Steve dan Miya yang pasti sedang memantaunya sedari tadi di ruang cctv. Hampir semua informasi sudah kudapatkan.
Tinggal pencarian saja.