INFAMOUS

INFAMOUS
Pendaftaran Lomba Festival



Aku dan Hana berjalan di koridor sekolah. Beberapa orang melihat kami dengan tatapan sinis. Aku tidak peduli dengan mereka. Bagiku mereka hanyalah NPC semata yang melakukan kegiatannya sebagai orang yang tidak berguna dalam hidupku.


Prinsip ku adalah, orang yang tidak pernah berinteraksi denganku, akan ku anggap mereka NPC. Mereka hanyalah orang-orang yang sudah ku program untuk tidak berinteraksi denganku. Pikiran stres ku nyatanya begitu.


Kembali kepada kami. Setelah aku dan Hana masuk ke kelas, seperti biasanya. Kami fokus pada kebiasaan kami masing-masing. Aku duduk dan memasang headset ku sembari tidur dengan bersandar di meja, sedangkan Hana membaca buku yang tidak ku ketahui judulnya. Yang bisa ku tebak, itu adalah novel berjudul Cryptide Crystal yang sedang populer saat ini.


Selang beberapa waktu, Sagi datang dan menyapa kami berdua. Setelah itu ia duduk dan bermain game di ponselnya. Kemudian aku kembali kepikiran tentang orang yang menyapaku di tempat parkir sebelumnya. Apakah dia ada niatan baik atau hanya ingin memeras ku?


Pikiran macam apa itu.


...[KRINGGGGGG]...


Bel masuk berbunyi. Aku bangun dan melepas headset ku. Lalu aku mengambil buku dan alat tulis untuk persiapan belajar.


Aku juga baru ingat jika Elsa sudah lama pindah kemari semenjak kejadian Leon itu. Semenjak ia pindah kemari, aku ataupun dia belum pernah berinteraksi sama sekali denganku ataupun dengannya. Meski sudah pernah bertemu sebelumnya, di rapat OutFamous pun, ia menjauhkan ku setelah aku berbicara untuk menyuruhnya mencari nomorku di grup OutFamous yang Bu Ellie buat.


"Apakah ia benci denganku?"


...[SRRRTTTTT]...


Pintu kelas terbuka. Bu Ellie masuk ke dalam kelas untuk mengisi jam pelajaran seperti biasanya. Tetapi kali ini Bu Ellie membawa kertas A4 yang tidak ku ketahui apa itu. Setelah Bu Ellie menutup pintu kelas kembali, ia berdiri di depan papan tulis untuk menulis sesuatu.


Setelah Bu Ellie selesai menulis, ia berbalik menghadap ke murid-murid dan menghela nafas. "Baiklah murid-murid, sudah waktunya untuk pendaftaran lomba festival!"


"YESSSSSSSSS" satu kelas berseru selain aku dan Hana dan mungkin yang sifatnya sama dengan kami?


"4 bulan lagi festival diselenggarakan. Sudah waktunya sekolah untuk memberikan informasi ini kepada murid-murid."


Aku menepuk bahu Sagi, "hei Sagi!" dengan nada berbisik.


"Kenapa Nico?" Sagi melirik ke belakang.


"Apakah boleh untuk tidak mengikuti lomba-lomba ini?" tanyaku.


"Sebentar," lalu Sagi menghadap ke depan dan mengangkat tangan. "Bu Ellie!"


"Dasar bodoh!"


"Ya Sagi?" Bu Ellie merespon Sagi.


"Kata Nico," Sagi menghadap ke belakang.


"Jangan menyebut namaku bodoh!"


"Katanya apakah boleh untuk tidak mengikuti lomba-lomba ini?" tanya Sagi kepada Bu Ellie.


Lalu aku melakukan tatap-tatapan kepadanya dengan ekspresi kesal ditambah dengan sedikit kode-kode, "aku akan membunuhmu nanti!"


"Maaf, aku hanya mewakilkan pertanyaan mu ini, haha" ia berbalik telepati kepadaku melalui ekspresi nya.


"Jawabannya adalah tidak boleh," jawab Bu Ellie.


"Ehh?" semua orang terkejut.


"K . . . kenapa begitu?" kini aku mengangkat tangan.


"Semua orang wajib mengikuti lomba yang sudah disediakan oleh sekolah. Dari olahraga, kecerdasan, dan strategi. Semuanya wajib mengikuti! tidak ada kata tidak! jika menolak, maka akan dikurangi followers maupun subscribers nya!"


"Bagaimana caranya sekolah mengurangi subscribers atau followers kami?" tanya salah satu murid.


"Mau dicoba ke akun mu?" tantang Bu Ellie.


"Eh tidak-tidak. Hanya bertanya."


"Pakek nanya" Bu Ellie menepuk jidat.


Satu kelas kembali terdiam, Bu Ellie membagikan kertas yang dibawa oleh beliau sebelumnya. Setelah dibagikan, aku melihat isi kertas itu. Ternyata isinya adalah, pendaftaran lomba yang akan diselenggarakan nanti.


"Apakah ini tidak terlalu cepat Bu?" salah satu murid mengangkat tangan.


"Hah? terlalu cepat? malahan ini telat loh. Memang kapan kalian pikir lombanya?" jawab Bu Ellie.


"Eum . . . ketika festival diselenggarakan nanti bukan?"


"Hadeuh," Bu Ellie menepuk jidatnya kembali.


Semua orang kebingungan dengan ekspresi Bu Ellie.


"Lombanya itu adalah beberapa bulan sebelum festival itu dimulai. Festival itu adalah ketika kepala sekolah membagikan piala untuk pemenang nanti. Dan kalian akan mulai lomba itu mulai minggu depan."


"A . . . . APAAAA?" semua orang terkejut.


Lalu suasana berubah menjadi berisik ketika murid-murid yang lain membicarakan soal lomba yang akan mereka ikuti.


Bu Ellie keluar dari kelas. Suasana mendadak berisik setelah mengetahui tentang lomba yang akan dimulai minggu depan.


"Yo Nico, lomba apa yang akan kau ikuti?" Sagi bertanya kepadaku.


"Kau masih berhutang pukulan dariku. Dan kau sudah menganggap kita ini sudah damai?" jawabku dengan nada kesal akibat tadi.


"Ayolah! aku sudah minta maaf!" Sagi tertawa.


"Intinya aku akan mengikuti semua lomba di semi festival ini, kecuali renang."


"Itu hebat!" seketika Sagi menyadari sesuatu. "Eh, kenapa kau tidak mengikuti renang?"


"Simple saja. Tidak bisa berenang" jawabku.


Kemudian aku cek list semua lomba, kecuali renang. Dari isi lomba ini adalah sangat banyak sekali. Dari Catur, lomba cerdas cermat, menggambar, membuat cerpen, balapan, basket, sepak bola, futsal, tennis, badminton, voli, lomba lari, estafet, tarik tambang, eSports dan memasak.


"Tunggu, berarti kau juga ikut lomba memasak?" Hana tiba-tiba ikut nimbrung.


"Y . . . y . . ya begitulah."


"Aku tidak menyangka kau bisa memasak" Hana terkejut.


"Loh, kau pikir aku selama ini aku makan apa di rumah?"


Hana berpikir-pikir. "Rada logis."


...[Sementara itu di kelas 3-A]...


Akira juga mendapatkan kertas pendaftaran lomba festival. Ia bingung untuk mengikuti lomba apa, karena semua murid diwajibkan untuk mengikuti salah satu lomba.


"Hmm, kalau dipikir-pikir lebih baik ini ya?"


Akira yang ingin mengambil pulpennya untuk menulis, tidak sengaja terjatuh ke lantai yang membuat ia harus mengambilnya.


"Huh, konyol"


Ketika Akira hendak mengambilnya, seseorang juga hendak mengambilnya untuk diberikan kepada Akira juga.


"Eh?" mereka berdua sama-sama terkejut.


"Anu, pulpen mu" lelaki itu memberikan pulpen Akira yang terjatuh sebelumnya kepadanya.


"T . . . terimakasih" Akira mengambilnya dan langsung memalingkan wajah.


Lelaki itu kembali menghadap ke mejanya untuk melanjutkan kesibukannya. Akira sedikit melirik lirik ke wajahnya tanpa tujuan.


"Hmm, perasaan apa ini?"


...[KRINGGGGGG]...


Bel istirahat berdering. Sudah waktunya untuk mengumpulkan kertas ini kepada ketua kelas. Oiya aku belum pernah cerita kalau Hana adalah ketua kelas dari kelas A ini, dan aku sebagai wakilnya, Sagi sebagai sekretaris, dan Elsa sebagai bendahara.


Setelah semua orang mengumpulkan kertasnya, aku yang terakhir akan memberikan kepada Hana.


"Wew, ternyata kau mengikuti hampir semua lomba kecua--"


Aku menutup kertas ku. "Hentikan. Kepoin orang itu ilegal loh. Menurutku."


"Iya-iya, aku tidak akan melihatnya. Wleee." Hana meninggalkan kelas untuk diberikan kepada Bu Ellie yang berada di ruang guru.


Setelah itu, aku mengambil headset ku dan berjalan menuju keluar kelas. Tetapi tiba-tiba Sagi menahan ku untuk berbicara sesuatu.


"Nico,"


"Hah, kenapa Sagi?"


"Seseorang menitipkan surat ini untukmu" Sagi memberikanku suatu surat yang ditulis dari kertas. "Aku belum membukanya, tenang saja."


"Dari siapa kau mendapatkan ini?"


"Dari temannya teman orang yang tidak ku kenal" lalu Sagi keluar dari kelas dengan melambaikan tangan kepadaku.


Kini kelas sudah sepi. Tinggal ku seorang yang masih berada di kelas. Aku melihat surat yang diberikan oleh Sagi sebelumnya. Setelah ku buka,


"Hah!?"


Isi dari surat itu adalah, "Nico, ini aku Elsa. Jika kau menerima surat ini, tolong datanglah ke atap. Aku menunggumu!"


"D . . .dari Elsa? apa yang dia inginkan dariku?"