
Setelah selesai berbelanja, aku kembali pergi ke mobil. Hana kebingungan dengan ekspresi wajah ku yang aneh.
"Nico . . ." Hana memanggilku.
"Hah? kenapa?" aku merespon sembari sedang memundurkan mobil.
"Kenapa wajahmu terlihat cemas begitu?"
"Eh?" aku menoleh ke wajah Hana. Kemudian melihat wajahku sendiri di cermin mobil. "Apakah aku terlihat seperti itu?"
"Hmm" gumam Hana sembari mengangguk.
"Aneh ya? padahal tidak ada sesuatu yang harus dicemaskan, haha!"
Hana kebingungan dengan sikap ku saat ini. Seolah-olah sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Kemudian Hana mengucapkan sesuatu yang membuatku sedikit terkejut. "Kau . . . . tidak sedang menyelidiki Elsa kan?"
"Hah?" reflek aku menoleh ke wajah Hana.
Wajah Hana menjadi serius. Aku bingung apakah harus jujur atau tidak. Momen ini memang sangat bingung. Aku tidak boleh memberitahu ke Hana kalau aku memang sedang menyelidiki kasus Elsa belakangan ini.
"Haha, mana mungkin. Aku kan tidak se jenius itu dalam mengurusi hal begituan."
"Oh benarkah?" wajah Hana mendekat.
"Hana, kau tahu kalau aku sedang mengemudi kan?" aku mencubit pipi Hana.
"Ya ya terserah. Lagipula memang mustahil sih. Kan inspektur Steve dan Miya yang akan mengurusinya. Kenapa orang sepertimu harus repot-repot ikut campur dengan kasus ini?" Hana berubah pikiran.
"Huhhh" aku menghela nafas.
"Oiya, apa Minggu besok ada ren--"
...[BRRRTTTT BRRRTTTT]...
Ponsel di saku celana ku berdering. "Ehh? telepon? perasaan aku tidak pernah--"
"Nico, itu telepon mu bukan?" Hana menunjuk hp di saku ku.
"Jangan bermain ponsel ketika berkendara" alasan ku.
"Kalau begitu, biarkan aku yang menjawabnya" Hana mencoba mengambil ponsel ku.
Dengan cepat, aku langsung mengambil ponsel ku dan mengangkat telponnya. "Halo? siapa ini?"
"Yo Nico! ini aku Zico. Ada yang ingin aku baha--"
"Oh iya iya kalau begitu sampai nanti ya! lagipula aku sedang mengemudi!" lalu kumatikan teleponnya dan kembali mengemudi.
"Siapa itu?" tanya Hana.
"T . . . teman lama ku!"
"Bukannya kamu bilang kalau kamu tidak memiliki teman sebelum SMA?" Hana masih mengingat.
"Sial, dia dapat mengingat semuanya!" aku terpukau. "Oh benarkah?"
"Nico. Jujur saja, disaat seperti ini kau terlihat seperti orang--"
"Hei, kita sudah sampai!" aku menunjuk gerbang depan apartemen.
Setelah itu aku memarkirkan mobil ku di garasi pribadi apartemen. Lalu keluar dari mobil sembari membawa belanjaan yang sudah ku beli sebelumnya.
Hana yang melihatku dengan ekspresi kebingungan, ia mencoba berbicara denganku. "Nico, kau belum menjaw--"
"Ahh aku sakit perut!" aku pura-pura memegang perutku. Kemudian aku memberikan belanjaan ku ke Hana. "Ini, aku nitip. Perutku sudah tidak tertahankan lagi. Temui aku di apartemen atas!"
"Tapi Nic--"
Dengan cepat, aku meninggalkan Hana untuk pergi ke apartemen duluan melalui tangga darurat.
Sesaat berlari itu, sebenarnya aku masih bingung dengan benda yang kutemukan tadi. Aku mengeluarkannya di saku celanaku. Sengaja aku tidak membiarkan Hana mengambil ponselku di saku celana ku, agar benda itu tidak jatuh dari saku celana ku.
Benda yang kutemukan itu adalah, sebuah kancing yang lepas. Benda itu sama persis seperti yang kutemukan di supermarket pada malam itu sebelumnya. Jika ku cocokkan menggunakan analisa ku, ternyata memang ini adalah kancing yang lepas dari seragam sekolah wanita.
Beberapa saat kemudian. Aku masuk ke dalam apartemen. Aku membiarkan pintu tidak dikunci, agar Hana dapat masuk ke apartemen ku.
Dengan cepat. Aku masuk ke kamar untuk membersihkan kamar tidur ku. Kemudian menyembunyikan topeng yang biasanya ku pakai untuk membuat konten. Aku memiliki tempat rahasia untuk menyembunyikan sesuatu di dalam kamar ku. Sengaja aku menyembunyikan benda-benda yang tidak boleh dilihat Hana sebelumnya. Agar dia dapat masuk ke kamar ini tanpa ada rasa curiga.
...[TINUNGGG TINUNGGG]...
"Aku masuk!" Hana masuk dengan membawa belanjaan ku.
"Yah akan ku maafkan sih . . . ."
"Syukurlah . . ." aku menghela nafas.
"Kalau kau mau memperlihatkan isi kamar mu!" ancam Hana.
"Eh?" alasan yang tidak logis, "ya silahkan saja sih."
Aku tersenyum saja. Karena aku sudah menata ulang isi di kamar ku dengan cepat.
Tanpa pikir panjang. Hana langsung memberikan belanjaan nya pada ku. Lalu ia berjalan menuju kamar tidur ku.
"Aku hanya ingin bilang kalau tidak ada apa-apa di sana!" kata ku.
Ia tetap berjalan menuju ke depan kamarku. Sesampainya, ia memegang kenop pintu sembari menghela nafas. "Huhhh."
...[KREEEEKKK]...
Hana membuka pintu kamarku. Ia masuk ke dalam untuk melihat isinya. Aku yang sudah menaruh belanjaan ku di dapur, langsung menyusul Hana untuk menemaninya.
"Eum . . . apa kau tidak takut kalau sedang berada di kamar lelaki?" pinta ku.
"Akan ku banting orang itu jika berani macam-macam" ancam Hana.
"O . . . oke."
Ia melihat isi kamar ku dengan serius. Bahkan sampai sedetail mungkin.
"Apakah harus seperti itu?" pinta ku.
"Oh, tentu. Aku hanya ingin tahu saja" jawab Hana.
"B . . . baiklah, kalau begitu aku mau ke kamar mandi" aku perlahan berjalan mundur untuk pergi ke kamar mandi.
Ia tidak menjawab ku. Ini adalah kesempatan ku untuk kembali mengecek telepon itu di kamar mandi.
Sesampainya di dalam kamar mandi, aku kembali mengecek ponsel ku. Entah darimana Zico dapat mengetahui nomor telepon ku. Karena ia menelpon ku sebelumnya, pasti itu sangat penting. Kemudian aku kembali menelponnya untuk menjelaskan tadi.
...[Berdering . . . . ]...
...[00.01]...
Telepon langsung diangkat. Aku yakin sekali kalau Zico sedari tadi sedang menungguku untuk berbicara sesuatu.
"Yo Zico! ada apa kau menelpon ku sebelumnya?"
"Halo Nico, aku yakin kalau kau pasti sebelumnya terkejut. Kau ingin tahu darimana aku mendapatkan nomor mu kan?"
"Aku sudah melupakan itu. Tapi kau mengingatkannya kembali. Sekarang jelaskan" permintaan ku.
"Yah, intinya yang aku tahu, Bu Ellie membuat grup khusus untuk member OutFamous saja.".
"Hah? aku tidak tahu itu. Bagaimana Bu Ellie bisa tahu semua nomor murid member OutFamous?"
"Lupakan itu sebentar. Aku ingin membahas mengenai kasus Elsa."
"Apa yang kau ketahui?"
Zico diam sejenak. Dia seperti sedang mengambil sesuatu. Lalu dia kembali mengangkat telponnya.
"Nico, apa kau percaya kalau pelakunya berasal dari kelas A?"
Aku terkejut mendengar hal itu. Sudah kuduga akan ada yang berpikiran sama denganku. Aku yakin sekali kalau aku dapat menyelesaikan kasus ini secepat mungkin bersama teman ku dari kelas C. Dan tentu saja dengan Sagi juga. Karena aku yakin Sagi tidak mungkin melakukan hal se bodoh itu.
"Kau berpikiran yang sama denganku."
"Betulkan? aku juga yakin kalau ini berhubungan dengan kasus Leo."
"Eh? bagaimana kau bisa tahu Leo?"
...[Di sisi lain]...
Hana sedang melihat-lihat kamar ku. Karena aku tidak ada, dia mulai menggeledah kamar ku secara diam-diam.
"Aku yakin sekali,"
Hana seperti sedang mencari sesuatu yang sangat penting di kamar ku.
"Pasti ada!"