INFAMOUS

INFAMOUS
Jikalau



Malam harinya, kami berencana untuk melanjutkan investigasi esoknya sepulang sekolah nanti. Namun karena V bilang kalau dia telah menemukan sesuatu yang penting, sekarang kita semua sedang berkumpul di bangku taman saat ini.


"Jadi apa yang kau temukan V?" tanya ku yang to the point.


"Aku bingung diantara harus memberitahunya disini atau besok."


"Ayolah, kamu sendiri yang meminta!" Xenon kehilangan kesabaran.


"Diamlah! lagipula siapa kamu? asal emosi saja" bentak V.


"Hei hei, apakah orang ini memang suka bertengkar?" Sagi mulai kesal juga dengan Xenon.


"Teman-teman, kumohon ayo kita selesaikan ini dengan damai!" Yoka meleraikan mereka.


"Itu benar. Jika seperti ini terus malah akan tambah masalah" gumam Touré.


"Sudahlah, langsung bicara saja V!" suruh Zico.


Setelah semua orang mulai menatap V, mereka akan mendengarkan apa yang akan dikatakannya.


"Huff, baiklah" V mengeluarkan suatu benda di sakunya.


"Ehh?" semua orang terkejut setelah melihat apa yang V tunjukkan pada mereka.


"Aku menemukan ini di sekitar gang. Apa kalian mengetahuinya?" V menemukan sebuah ponsel yang masih berfungsi dengan casing hp yang familiar.


"Berikan itu" Ellé merebutnya.


"Ya, sama-sama" sindir V.


Ellé, Xenon, dan Yoka mengamati hp itu dengan serius.


"Ya benar. Ini ponsel Elsa" Ellé mengenalnya.


"Baiklah, coba kau inspeksi hp itu di rumahmu nanti. Ini sudah malam hari. Lebih baik kita semua istirahat, lagipula besok juga masih sekolah" saran ku.


"Itu benar. Bagaimana menurutmu Ellé?" Yoka setuju.


"Baiklah, besok kita akan bertemu lagi. Panggil saja aku di kolam renang nanti" permintaan Ellé.


Sagi bingung. "Loh? kolam renang? memangnya . . . ."


"Ya itu benar. Aku wakil ketua ekskul renang. Temui aku besok oke?"


Sagi dan Zico girang, "tentu saja kami akan--"


"Oke Nico?" ternyata dia menyebutku sembari menepuk pundak ku.


"Aku?" bingung ku.


"Sampai jumpa nanti" Ellé pamitan.


Diikuti dengan Xenon dan Yoka.


"Dasar bocah beruntung!" Sagi mendorongku dari belakang ketika aku sedang melihat mereka pergi.


"Hah?" aku ditambah bingung.


"Pasti kau ingin melihat Ellé menggunakan pakaian renang kan? kan?!" Zico tiba-tiba menuduhku.


"Sembarangan! aku tidak berpikir sampai sejauh itu!" elak ku.


Lalu Touré memegang pundak Sagi dan Zico dengan erat "Sudahlah, itu pasti kalian berdua yang mau bukan?" Touré dengan tatapan tajam dan senyuman menyeringai ke mereka.


"Eh . . . anu . . . " Sagi dan Zico ketakutan melihat wajahnya.


"Ayolah, lebih baik kita pulang sekarang" V memisahkan mereka.


"Baiklah, kalau begitu kami pulang duluan, dadah!" Zico pamitan.


Lalu Zico, Touré, dan V pulang dengan arah yang berbeda. Mereka pulang menggunakan transportasi umum.


"Baiklah Sagi, ayo kita kembali ke kafe" ajak Sagi.


"Gas" akhirnya aku meninggalkan tempat ini untuk kembali ke kafe bersama Sagi.


Sesampainya di kafe, aku langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam dengan kunci ku. Sagi juga sudah masuk ke dalam. Lalu aku menyalakan mobil dan memundurkan mobil untuk mengeluarkan mobil dari parkiran. Setelah membayar parkir, aku langsung berangkat dan mengantarkan Sagi pulang ke rumahnya.


...[Sementara itu di perbatasan kota]...


Akira baru saja pulang ke rumah ibu. Ketika ia membuka pintu, sudah ada ibu yang menunggunya di depan.


"Hehe" Akira tertawa.


"Kamu pikir sudah jam berapa ini?" tanya ibu.


"Ya, 8+1" ibu membenarkan.


"Ups . . ." Akira gemetar.


Ketika suasana sudah semakin canggung. Ibu menghela nafas dan berjalan ke dalam.


"Eh?" heran Akira.


Ia berpikir bahwa biasanya pasti akan dimarahi bila pulang telat.


"Cepatlah masuk, memangnya kamu mau tidur di luar?" ucap ibu sembari berjalan tanpa melihat ke belakang.


Akira menjadi tersenyum setelah melihat sikap ibu yang berbeda dari sebelumnya. "Iya!" dengan senang hati, Akira masuk ke dalam dan menutup pintu.


...[Sementara itu]...


Akhirnya aku sudah mengantar Sagi sampai ke rumahnya. Tetapi ketika sudah di depan rumahnya, aku melihat seseorang yang berada di depan rumah Sagi dari dalam mobil.


Semakin kulihat lebih jelas, Aku semakin memastikan "Sagi, bukankah itu . . . . "


Sagi malah tersenyum melihatnya. Lalu Sagi keluar dari mobil untuk menghampirinya. Karena ia sudah keluar, aku ikut keluar saja untuk melihatnya.


"Yo!" Sagi memanggil orang itu.


Orang itu menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang memanggilnya. "Sagi?"


Ternyata benar dugaan ku. Wanita berambut pirang yang berdiri di depan rumah Sagi adalah,


"Kiera!" Sagi menyapanya dan menghampirinya.


"Kamu darimana?" tanya Kiera. "Dan bersama . . . " ia melihatku.


Aku menghampirinya, "Yo, Kiera" Aku menyapanya.


"Ternyata Nico. Kalian berdua darimana?" tanya Kiera kembali.


"Kami dar--" sebelum Sagi menjawab, aku menutup mulutnya.


"Berkumpul bersama murid-murid dari kelas C."


Alasan ku menutup mulutnya, karena ku yakin dia akan mengatakan kalau sedang mencari informasi dan jejak Elsa.


"Oalah, pantas saja. Zico katanya sedang bersama kalian dan teman teman yang lain sebelumnya."


"Tunggu, kau punya kontak Zico?" Sagi memegang kedua bahu Kiera.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang duluan ya?" sela ku.


Akira bergeser untuk melihatku. "Kau yakin ingin pulang duluan?"


"Begitulah," namun aku berhenti sebentar. "Hei teman-teman."


"Hmm?" mereka berdua menoleh padaku.


Lalu aku menunjuk rumah mewah di depan rumah Sagi. "Apa kalian tahu siapa penghuni rumah itu?" tanya ku pada mereka.


"PFFFTTTT" Sagi seperti menahan tawa.


Karena bingung kenapa Sagi seperti itu, aku menoleh ke belakang untuk melihat mereka berdua. "Loh, kenapa?"


Sagi menghampiriku dan menepuk bahuku sembari tertawa, "Nico. Apa kau percaya jika . . . . . hahahahahahahaha"


"Hah? apa sih? ngomong yang jelas donk!" bingung ku.


...[BUGGGG]...


Dari belakang, Kiera memukul kepala Sagi.


"Aww, sakit tahu!" Sagi memegangi kepalanya.


"Tinggal bilang saja ribet banget sih?" emosi Kiera.


Kemudian aku baru menyadari sesuatu. "Tunggu, jangan bilang rumah itu . . . ."


"Ya, itu benar." Kiera menunjuk dirinya sendiri, "aku adalah salah satu penghuni dari rumah itu hehehe" senyum Kiera.


"Jadi kalian . . . ." aku ditambah menyadari sesuatu.


"Itu benar Nico" Sagi kembali menepuk sebelah pundak ku. "Kiera adalah tetanggaku."


Mendadak suasana menjadi sunyi. Dan akhirnya aku baru tahu jikalau Sagi dan Kiera itu bertetangga. "EHHHHHHHH?????"