
Kami berempat duduk di meja kantin saat ini. Aku, Sagi, Akira dan Noa sedang makan sembari sedikit berbincang-bincang.
"Oalah, ternyata teman sekelas mu toh."
"Ya, Elsa menghilang dari semalam. Itu yang kudengar dari Bu Ellie sih . . ." sepengetahuan ku.
Kami sedang membahas bagaimana Elsa bisa menghilang saat ini. Sangat janggal sekali tiba-tiba ia menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Aku memberikan tanggapanku kepada yang lain mengenai Elsa yang kemungkinan besar bukan hilang, melainkan diculik.
"Memang masuk akal sih jika diculik" Noa berpikiran yang sama.
"Kan? masa baru kemarin sore aku melihatnya tiba-tiba ia menghilang."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya Nico?" tanya Akira.
Aku berpikir sebentar untuk menentukan pilihan ku. "Mungkin aku akan mengikuti arah kemana ia pulang jalan biasanya."
...[KRINGGGGGG]...
Berjam-jam telah berlalu. Bel pulang telah berdering. Setelah aku merapihkan peralatan dan alat tulis ku yang lain, aku menghampiri Hana untuk berbicara sesuatu.
"Hana, ayo pulang!" ajak ku.
"Tumben kamu cepat sekali? sedang terburu-buru?" bingung Hana.
"Nanti akan kukatakan di mobil" aku mengulurkan tanganku.
Lalu ia berdiri setelah aku ulurkan tanganku padanya. Setelah itu aku langsung menemui V, Zico, dan Touré untuk meminta sesuatu. Kebetulan sekali mereka bertiga sedang berjalan di koridor mengarah ke pintu keluar.
"Yo! teman-teman!" aku memanggil mereka.
Touré menoleh ke belakang, "Oh, Nico."
Disusul dengan V dan Zico yang menghadap ke belakang untuk melihatku.
"Jadi begini . . . . " aku menjulurkan ponselku kepada mereka sebagai meminta kontak mereka.
"Oalah, meminta kontak toh. Kukira apa" Zico mengambil ponselnya.
Begitu juga dengan yang lain mengambil ponselnya dari saku mereka masing-masing.
"Ada yang ingin kukatakan, tetapi nanti setelah aku pulang ke rumah."
"Eum . . . . oke baiklah, apakah tidak bisa disini?" heran Zico sembari menukar kontaknya denganku.
"Sebenarnya sih aku mau begitu, tapi . . . ." aku menoleh ke wajah Hana.
"Ehh?" Hana terkejut sembari menunjuk dirinya sendiri.
V mengerti maksudku. "Ouh oke-oke, aku paham."
"Kalau begitu silahkan kalian pulang saja duluan, nanti tinggal chat kami saja ok?" kata Zico.
"Kalian memang yang terbaik!"
Setelah itu aku menggenggam tangan Hana dan menariknya menuju ke parkiran. "Ayo, Hana!"
"O . . . okeee" Hana ikut saja apa yang kuinginkan.
...[Sementara itu di kelas 3]...
Noa dan Akira sedang piket di kelasnya. Mereka awalnya sedikit canggung sebentar, entah alasannya.
"Kamu pulang lewat mana Akira?" Noa mencairkan suasana.
"Seperti biasa!" jawab Akira.
"Oalah, kembali ke rumah ibumu lagi?"
"Yaps . . . . ." Akira menghapus papan tulis dan membereskan alat tulis di meja guru.
Noa yang sedikit-sedikit meliriknya, tanpa ia sadari wajahnya memerah. "Perasaan apa ini?"
...[Di apartemen]...
Setelah aku memarkirkan mobilku di garasi apartemen, kami berdua langsung naik lift menuju kamar kami masing-masing.
"Baiklah, aku duluan Hana!" aku melambaikan tangan padanya.
"Sampai nanti, Nico!" Hana melambai balik.
Lalu aku langsung masuk dan menutup pintu. Dari luar Hana masih kebingungan dengan sikapku saat ini. "Ada apa dengannya hari ini?" heran Hana. "Lupakan" Hana langsung masuk ke kamarnya setelah ia membuka pintu dengan kuncinya.
Sementara di dalam, aku langsung mengganti baju dan mengambil ponselku untuk menghubungi teman-temanku di kelas C.
"Hmm, ini nomornya Zico ya?" tanpa pikir panjang, aku langsung menelponnya.
...[Berdering . . . .]...
"Ayo angkat Zico."
...[00.01]...
Kemudian telepon terhubung. Dengan cepat aku langsung memanggilnya. "Zico? Halo?"
"Itu jelas. sekarang mana temanmu yang lain?"
"Kebetulan sekali. Mereka berdua sedang disini, kami sedang berada di kafe saat ini."
"Bagus! kafe mana?"
"Sebentar, akan ku share lokasi."
Lalu telepon ditutup sembari menunggu Zico mengirimkan lokasi ia sekarang. Setelah pesan masuk, aku langsung membuka dan mengecek lokasi dimana Zico berada.
"Baiklah, aku akan berangkat" lalu aku mengambil kunci mobil dan pergi ke garasi melalui lift.
Tidak lupa kunci apartemen ku titipkan pada Hana agar ada sesuatu yang ia butuhkan nanti.
...[TINUNGGG TINUNGGG]...
Aku menekan bel nya sembari menunggu dia keluar.
...[KREETTTTT]...
Pintu terbuka. Hana berpakaian sangat imut sekali. Aku sempat mengalami amnesia dadakan ketika melihatnya.
"Ada apa Nico?" seketika Hana menyadarkan ku.
"Aku ingin menitipkan kunci ini padamu, boleh?" aku memberikan kunci itu.
"B . . . . baiklah, kamu mau kemana?" Hana baru bertanya.
"Diajak bersama teman-teman di kafe," lalu ku taruh kunci apartemen ku di tangannya, "nanti aku akan kembali."
Setelah itu aku pergi meninggalkan Kenko secepat mungkin menuju lift.
"O . . . oke?" Hana masih penasaran dengan sikapku saat ini.
...[Sementara di gedung lain]...
Levine sedang melihat pemandangan di jendela gedung miliknya. Suasana kota sama seperti biasa. Tetapi Levine tidak sedang melihat pemandangan kota. Melainkan kembali mengingat momen dimana ia bertengkar dengan istrinya dulu berbulan-bulan yang lalu.
...[TOK TOK TOK]...
Seseorang mengetuk pintu ruangannya. Levine menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa orang itu.
...[KREETTTTT]...
Pintu dibuka. "Maaf Mr, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu" kata penjaga.
"Biarkan ia masuk" Levine mempersilahkannya.
Lalu datanglah perempuan yang berusia kisaran 70 an. "Sudah lama tidak bertemu bukan? Mikhail Levine."
"Astaga, Madame Lóis!" Levine menghampirinya dan bersalaman dengannya. "Ayo Madame silahkan masuk, jangan sungkan-sungkan" Levine mempersilahkannya.
Lóis duduk di sofa, sembari disajikan teh oleh Levine. Levine terlihat girang sekali setelah melihat wanita itu.
"Suasananya masih sama ya?" puji Lóis.
"As always, Madame" Levine lalu ikut duduk.
"Kudengar kalau kau sedang ada masalah dengan istrimu?"
"Yah . . . . begitulah mam" Levine menundukkan kepalanya.
"Hmm hmm hmm" Lóis menggelengkan kepalanya, "ternyata kamu bisa ada masalah dengan istrimu juga ya?"
"Ya . . . lagian masalah ini masih membuatku bingung sih. Aku han--"
"Sudahlah lupakan sejenak Levine. Aku hanya kangen melihatmu."
"Bagaimana keadaan Yakisaki, mam?" Levine mengangkat kepalanya.
"Masih utuh dan aman kok. Aku kan tinggal di sana bersama Hilo. Ternyata kamu masih mengkhawatirkannya juga ya?"
"Hilo? cucu Madame bukan sih?"
"Ya, dia sekolah juga di SMA infamous."
"SUNGGUH?!" Levine terkejut kegirangan.
"Ya, makanya aku kemari untuk memberitahu mu juga kalau cucu ku masuk di sekolah yang kamu sponsori itu."
"Berarti ia harus bertemu dengan anak bungsuku kalau begitu!"
"Cucuku masuk di kelas B. Apakah anakmu juga sama?" tanya Lóis.
"Waduh sayang sekali. Anakku masuk di kelas A, mam."
"Ternyata anakmu seterkenal itu kah? hebat hebat!" Lóis bangga.
"Terimakasih," Levine memandang wajah Lóis, "guru!"