I Think, I Love You

I Think, I Love You
Ayo Liburan



Pagi hari,


Jeremy membuka matanya, kepalanya masih terasa berat seperti memikul beban berton-ton. Ia bangun setengah nyawa, di lihatnya Shania duduk disampingnya, rapi sekali. Ah iya, Jeremy lupa hari ini Shania mengantar mobil, pasti wanita ini sekalian pergi ke tempat kerja.


"Kau minum semalam?" tanya Shania dengan wajah sinis, terlihat sekali bahwa ia tidak suka.


"Iya" Jeremy mengucek matanya, rambutnya jingkrak-jingkrak tak beraturan, Shania menghela nafas, ia kemudian menyodorkan segelas air madu hangat yang telah di buatnya.


"Minumlah, tante Eve akan menyusul kemari" Jeremy mengambil gelas tersebut dan langsung meminumnya, dia sangat haus.


"Tadi aku mengantar daging dan mobil ke rumahmu, tapi kata tante kau tak pulang semalam mengabari pun tidak. jadi aku disuruh kesini duluan" Jelas Shania seraya mengambil gelas kosong dari tangan Jeremy,


"Itu kunci mobilmu, terima kasih sudah meminjamkan padaku, aku harus pergi bekerja" Shania hendak beranjak, tapi tangannya di cekal oleh Jeremy.


"Masih jam 6, kau masuk jam 8. Temani aku hingga mama datang" Ucapnya dengan suara lemah, "Please..." ucapnya kemudian, membuat Eve kembali menarik nafas, ia mengurungkan niatnya untuk pergi, baiklah, aku bisa santai disini sebentar pikirnya.


"Lalu apa?" tanya Shania duduk kembali.


"Aku akan mandi, tunggu lah disini" Jeremy berusaha berdiri, sudah tidak separah tadi malam. ia sudah bisa berjalan dengan benar.


Shania mengangguk, ia kemudian mengambil kotak bekalnya. Jeremy menyuruhnya sangat pagi dan jangan telat mengantar mobil, tapi ternyata jam segini ia malah baru bangun, Jeremy mengerjainya hingga ia tak sempat sarapan di rumah.


"Kau makan apa?" tanya Jeremy tiba-tiba, sudah siap, tapi belum rapi.


"Kau mandi cepat sekali"


"10 Menit, memang kau berapa lama? satu jam? dua jam?" Jeremy balik bertanya dengan wajah acuhnya.


Shania tak menjawab, ia menatap sarapannya. Ada tumis jagung dan wortel, sepotong beef, dan bakso goreng yang disiram saos pedas di temani nasi merah. harusnya ini menjadi menu makan siangnya, tapi karena tak sempat sarapan jadilah menu paginya.


"Kau mau?" tanya Shania menawarkan makanannya, Jeremy mendekat, ia sedang memasang gesper di pinggangnya.


"Mau" Tanpa ragu Jeremy membuka mulutnya agar Shania menyuapinya, dan Shania pun tanpa ragu melakukan itu.


"Enak" ucapnya singkat seraya mengunyah, kemudian berlalu kembali ke kamarnya. oh rupanya ia mengambil jas dan jam tangan.


"Kau ada pemotretan hari ini?" tanya Shania lagi ingin tahu, penampilan Jeremy rapi sekali, kemeja putih, celana panjang, dan memakai gesper, tidak biasanya dia berpenampilan begini.


"Aku akan menemani papa ke perusahaan, jangan bilang jika semalam aku mabuk" ucapnya lagi mendekat dan lagi, Shania menyuapinya.


"Woah, aku juga malas melihatmu mabuk. aku akan berterus terang jika aku ditanya" Secara halus Shania mengancam, tapi Jeremy hanya terkekeh pelan.


"Kalau begitu, semoga papa tidak bertanya" ucapnya memasang jam tangan mahal miliknya, dan menerima suapan dari Shania.


Begitu lah obrolan mereka menghabiskan sarapan, hingga Eve tiba membawa beberapa bungkus roti,


"Pagi Jer, Shan," Sapanya membuka pintu lalu menutupnya kembali


"Pagi ma.." Jawab Jeremy sopan.


"Jer, Kau kemana semalam?" tanya Eve meletakkan kantong yang ia bawa di meja, Sementara Jere masih mengunyah suapan terakhirnya.


"Aku menemani Yura ma, pulang malam. jadi aku langsung kesini. maaf tidak mengabari"


"Okay, tapi mama suka. kamu tidak lupa janjimu dengan papa," Eve tersenyum, karena Jeremy sudah berpakaian rapi.


"Mama bawakan roti untukmu, tapi kamu sudah sarapan sepertinya"


"Tante Eve udah datang, aku langsung berangkat ya" Shania melirik jam, sudah jam 7 dia menggunakan bus, jadi harus lebih awal menuju kantor.


"Tidak Usah, aku bisa sendiri, lagi pula Jeremy akan ke kantor"


"Shania..." Jeremy mengucapkan nama Shania dengan penuh penekanan, nada tak ingin di bantah. harus nurut.


"Melihatmu baik-baik saja, mama lega. Mama akan berangkat duluan. Jer, Shania hati-hati dijalan ya" ucap Eve sambil berlalu keluar ruangan.


"Hati-hati ma, aku akan menyusul"


"Kamu ya Jer, aku kan bisa naik bus. Aku tidak enak pada mama mu" Shania menampilkan wajah bete, ia merungut tak jelas pada Jeremy.


"Tidak enak?" tanya Jeremy mengulang ucapan Shania, ia kemudian berpikir.


"Apa ya yang enak? Liburan kayaknya enak? ke pantai? ke gunung? gimana?"


Jeremy mengalihkan ucapan Shania dengan guyonan garingnya, bukannya terhibur Shania malah tambah kesal. Mendengar pantai ia malah teringat Tom dan janjinya yang tak pernah sampai liburan kesana. dan Jeremy seenak jidat membahas itu, mengajaknya pula. Menyebalkan.


"Ahhh.. diam. cepatannnn" Kesal Shania tak sabar, kakinya sudah bersiap untuk segera beranjak.


Mereka memasuki mobil, seperti biasa diam. Tak ada pembicaraan. Hingga ponsel Jeremy berdering, Yura menelponnya. ntah ada apa menelpon sepagi ini.


"Hmm?" Kebiasaan Jeremy jika merasa malas mengangkat telepon.


"Jer, Apa kau baik-baik saja? Sorry semalam aku ada urusan mendesak. Tak sempat bicara padamu" Jeremy tak menjawab, ia mematikan telepon.


"Kenapa?" tanya Shania penasaran dan bingung. Ia masih sempat melihat layar ponsel menyala menampilkan nama Yura.


"Ayo liburan" Ajak Jeremy lagi mengalihkan pertanyaan Shania, Wanita itu lagi-lagi merasa malas, Shania selalu merasa lelaki disampingnya ini sedang mengejeknya walaupun Jeremy tidak sedang melakukan itu.


"Ah, Tidak..."


"Ayo, Besok kita ke pantai" Ucapnya lagi tanpa menoleh,


"Aku sibuk, aku kerja" tolak Shania tetap tidak mau.


"Kantormu akan memberi izin kau libur" Ucapnya santai, Shania hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan tak jelas Jeremy.


Ketika tiba di kantor, Vivian menghampirinya. menanyakan kenapa wajahnya begitu lesu, bahkan selalu lesu. Shania seperti tidak ada semangat hidup.


"Shan, Apa ada masalah lagi sama kekasihmu itu?" Tanya Vivian mengiba, ia menatap wajah sayu Shania dari dekat, khawatir karena ia tahu Shania seorang diri di kota ini, jika ada masalah dengan kekasihnya, pasti lah ia akan seperti ini. tak ada orang lain yang lebih dekat padanya selain pacarnya.


"Aku baik Vi, hanya saja aku sedikit mengantuk. tadi malam aku menyelesaikan design untuk acara minggu depan" ucapnya dengan kepala tergeletak di meja.


"Pantesan bos kita memberimu libur besok" Ucap Seno teman satu divisinya ketika melewati meja Shania dan Vivian.


"Ha? kenapa gitu?" Tanya Shania mengangkat kepala.


"Katanya karena kau sudah berjasa besar, sudah menyelesaikan desain lebih dulu dari yang lain. jadi besok kau bisa libur"


Shania menghela nafas pelan, Jeremy. ia teringat kata-kata Jeremy. pastilah Jeremy yang mengatur semua ini. tapi mengapa bisa? Bahkan ia sendiri belum menyerahkan hasil desainnya semalam pada bosnya.


Baik lah, Shania tidak boleh bersedih. jika tak bisa libur bersama pacar, bersama teman tak apa kan? yang penting berlibur. Shania sibuk membela keputusan yang akan diambilnya.


"Tom?"...


...***...