I Think, I Love You

I Think, I Love You
Crying Again



"Aku sudah memberitahu Irene agar mencabut SK dan kontrakmu!" Jere muncul tiba-tiba. rupanya ia menelpon Irene. "Kau tak diizinkan bekerja hingga kontrak itu disetujui kembali" lanjutnya.


"Kau ingin aku bagaimana?" Shania bertanya seolah pasrah akan apa yang di lakukan pria itu.


"Istirahat lah, nikmati waktumu"


Shania hanya memalingkan wajah tak suka akan keputusan sepihak Jere, Ia tahu meskipun Irene adalah bosnya tapi tetap saja keputusan tertinggi di pegang Jeremy, lelaki itu bisa memerintah apa saja orang-orang diperusahaannya. Maka ia tak bisa membujuk Irene atau melawan keputusan Jere.


Sadar tak ada respon lebih dari Shania, Jere menganggap wanita itu menyetujuinya, Ah meskipun tidak setuju Jere akan tetap melakukannya.


"Kau harus sehat, gara-gara kau sakit acara makan malamku batal tadi malam" Ucapnya seolah menyalahkan Shania perihal acara makan malam yang seharusnya di datanginya.


"Kau bisa pergi jika kau mau!" Shania menjawab acuh "Tak perlu menjadikan ku alasan kau tinggal" lanjutnya.


"Tidak. Kau butuh aku!" Jawab pria itu tanpa mempertimbangkan ucapannya, Sementara Shania menatapnya datar, menyadari perlakuan manis yang anak itu lakukan tadi malam, menemani dan merawatnya. Betul, Shania yang butuh Jere, tapi apa? Ia takkan mau mengakui itu. Anggap saja semua yang dilakukan atas keinginan Jere sendiri, bukan keinginan Shania meskipun kebenaran itu diakuinya dalam hati.


"Aku ada pekerjaan hari ini, kau bisa hubungi Marry, asisten ku jika kau butuh sesuatu" Tanpa meminta jawaban dari Shania, Jere berlalu pergi meninggalkan unit apartemen Shania. Meninggalkan gadis muda itu yang tampak termenung, Bukan karena perkataan Jere barusan, tapi Tom.


Lelaki itu kembali lagi menyita pikirannya, jujur jika kemarin ia sudah terlihat baik-baik saja, itu tidak benar. Karena di dalam lubuk hatinya ia masih berharap ada keajaiban Tom kembali padanya meskipun ia tak pernah meminta itu.


Dan kabar bahagia datang dari Tom yang akan meminang Stella. Rupanya, Pria itu ke Singapore bukan hanya untuk perjalanan bisnis, tapi juga untuk melamar Stella yang berkediaman di negara singa itu. Sakit tapi tak berdarah, kabar itu diberitahukan langsung oleh tante Linda, Wanita yang pernah Shania anggap akan menjadi pengganti ibunya sebagai mertua. Wanita paruh baya itu mengucapkan maaf lalu menyampaikan kabar yang menurut Shania lebih baik ia tidak tahu.


Mungkin itu juga alasan Tom kemarin mengirim pesan dan mengajaknya bertemu, sungguh Shania tak menduga mereka akan melangkah ke jenjang seserius ini. Dulu saja, Tom selalu bersikap acuh pada Shania, bahkan bertemu dihari libur saja sangat sulit, apalagi kepastian hubungan seperti yang ia deklarasikan sekarang tanpa keraguan, sungguh Stella wanita beruntung membuat Tom begitu cepat memutuskan hal seserius ini.


Shania menyuap makanannya dengan berurai airmata, mungkin juga berjatuhan ke piring nasinya, ia tak peduli lagi. Ia hanya ingin menangis sekencang-kencangnya, tak ada yang tau bukan? Jika biasanya ia selalu menahan, tidak dengan kali ini. Ia menangis, meratap mengeluarkan kepedihan hatinya berharap setelah ini hatinya ringan dan dia bisa melupakan semua hal yang melukai hatinya.


Bukan tidak sadar, Shania tau ialah yang menyebabkan sakit itu sendiri. Jika dipikir kembali, Harusnya Shania mampu menghadapi semuanya dengan lapang hati, lagipula Tom sudah jauh-jauh hari berterus terang padanya, lalu kenapa Shania kembali tersakiti lagi atas sesuatu yang bukan haknya lagi? Cinta, menjadi jawabannya.


Shania adalah type wanita setia, ia akan tetap mencintai orang yang ia izinkan masuk ke hatinya hingga orang itu benar-benar meluluh lantakkan hatinya.


Sambil terisak gadis muda itu berjalan gontai menuju kamarnya, membuka dompet persegi yang mana di salah satu sisinya terpajang fotonya dan Tom, Tersenyum dan saling merangkul dalam ikatan cinta yang ternyata hanya dipunyai Shania, betapa waktu begitu kejam, sekian tahun bersama Tom ternyata perasaannya bisa salah, lelaki itu hanya menyayangi Shania layaknya adik, saudaranya sendiri.


Shania mengambil foto itu dan merobeknya, menghapus satu-satunya kenangan yang sengaja ia sisakan setelah beberapa waktu lalu menyingkirkan semua pemberian Tom. Lalu terbaring menghempaskan tubuhnya di ranjang yang menjadi saksi bisu kesedihannya setiap malam, memejamkan mata berusaha menghirup udara sebanyak mungkin untuk melapangkan dadanya yang terasa sesak. Beberapa menit kemudian, Entah pingsan atau tertidur, Shania diam dan tak bergerak lagi.


Sementara di tempat lain, Jeremy sedang mengobrol bersama teman sekerjanya, tidak tahu membahas apa tapi tampaknya cukup menarik hingga mereka tertawa dengan nyaring.


Jere mengangkat bahu, menandakan ia tak tahu dan menganggap acuh pertanyaan yang menurutnya tak berbobot "Ah, kau pasti selalu bermain dengan Yura!" Jawab yang lain.


"Bagaimana mungkin kau setenar sekarang tanpa campur tangan Yura"


"Kau bayar Yura berapa?


"Kenapa kalian putus?"


"Jangan-jangan Yura sudah tahu kau tak pandai bermain"


Perbincangan yang tadi seru dan menyenangkan berubah menjadi menegangkan, dimana Jere dengan amarahnya membogem mulut yang mengatainya lelaki murahan. Tersinggung, jelas! Dia masih merasa lelaki baik yang selalu menjaga wanitanya, dan hubungannya dengan Yura, memang betul sekilas memang hubungan mereka sangat romantis dan sangat intim, tapi Jere berani bersumpah tak pernah meniduri gadis mana pun walaupun itu pacarnya Yura, yang selalu terkenal akan keanggunan dan keseksiannya.


"Ah, sudah lama aku tak melatih tanganku" Ucap Jere dengan sikap angkuhnya. Lalu mengibaskan tangan yang berdarah akibat pukulannya. Nafasnya terengah, jika tidak di lerai mungkin mereka akan saling mencabut nyawa ditempat itu, terbukti Jere berjalan pincang begitu pun dengan rekan yang mengatainya, bernama Deano tampak mengusap sudut bibirnya akibat darah yang mengalir.


Manager mereka tampak frustasi menahan amarah, bagaimana tidak? belum saja acara pemotretan di mulai kedua model utama mereka sudah terkena musibah hingga tak memungkinkan untuk tampil di depan kamera.


"Benar-benar bocah kalian!" teriaknya.


Jere terduduk dengan tatapan tajam memandang Deano, pakaiannya tampak berantakan akibat ulah mereka, bahkan baju Jere terlihat sobek dibagian kancingnya, Stylis disana tak membenahi mereka karena dua orang ini di keluarkan dari project untuk sementara.


Kalau saja Deano tak menyinggung hal-hal sensitif, Jere takkan semarah ini, tapi Deano lelaki itu terus memancing kemarahan Jere dengan membawa-bawa nama Shania sebagai korban selanjutnya, mengatakan Shania sama rendahnya seperti Yura. Sialan!


Jari jemari Jere kembali mengepal sebelum akhirnya ponselnya berdering. Shania menghubunginya.


"Hallo"


"Kenapa?"


Tak peduli dengan kakinya yang kebas dan pincang, Jere menyambar jaketnya yang tergantung di ruang ganti. Setengah berlari ia meninggalkan studio tempat pemotretan itu tanpa mempedulikan teriakan managernya.


"Shannn---"


...***...