I Think, I Love You

I Think, I Love You
Boleh aku menciummu?



"Tante Linda titip salam, dia sangat menyayangkan kau tak datang bersamaku" Ucap Shania tersenyum hambar pada lelaki di hadapannya ini,


"Aku akan pulang ketika libur" Jawabnya menyeruput Cocolate dinginnya, pandangannya tertuju pada ponsel yang bergetar di atas meja, ia meraih ponsel itu dan menyandarkan duduknya pada kursi.


"Tante juga menanyakan hubungan kita, bagaimana menurutmu?"


Shania menatap pria di hadapannya, sementara yang ditanya sibuk dengan ponsel yang ia mainkan, Entah apa yang dilakukan, hingga membuat dirinya senyum sendiri sampai membuat kedua bibirnya melengkung sempurna.


Lama hening menerpa keduanya, hingga salah satu dari mereka sadar akan situasi yang terjadi.


"Shan, kau bicara apa tadi?"


Tom menatap sang kekasih yang sedang menyesap matchalate pesanannya, Shania hanya tersenyum kemudian menggeleng kecil "Bukan apa-apa Tom".


"Maaf, aku tak mendengarmu" sesal Tom, Shania menggeleng kembali "Tidak apa, bukan hal penting. lupakan saja" Shania kembali menyesap minumannya kemudian beranjak.


"Aku harus pergi, jam makan siangku sebentar lagi habis"


Tom mengangguk paham, ia tersenyum kemudian melambaikan tangannya. Shania berlalu meninggalkan Tom yang kembali sibuk dengan ponselnya.


Shania menghela nafas berat, ia bukan lah wanita bodoh yang tidak menyadari perubahan yang terjadi pada pacarnya, bukan sekali dua kali Tom mengabaikan bahkan tak mendengar ucapannya seperti tadi,sering bahkan terlampau sering.


Dulu saja Tom sangat memprioritaskan Shania dari apapun, Pertemuan seperti tadi adalah hal yang sangat teramat berharga mengingat keduanya sibuk di profesi masing-masing, Shania dengan desainnya dan Tom manager di kantornya.


Shania tidak mau egois menuntut Tom ini dan itu, yang mungkin membuat Tom tak nyaman nantinya. Sejauh ini, Shania mencoba mengerti dan memakluminya, mungkin Tom memang ada urusan dengan pekerjaannya.


"Shan...."


Shania berhenti dan menoleh ke arah pemilik suara, terlalu sibuk dengan lamunannya membuatnya tak sadar sudah berada di lobby kantor.


"Iya, vi. kenapa?" tanyanya datar dengan tatapan redup.


Vivian teman satu divisinya tersenyum manis, lalu berjalan mendekatinya.


"Kau habis bertemu Tom?" tanyanya menggandeng tangan Shania, lalu melangkah masuk menuju ruangan mereka.


Shania mengangguk, dan Vivian tersenyum lagi.


"Sudah ku duga. Bukannya semangat kau malah terlihat lesu setelah bertemu kekasihmu itu" Ujar Vivian , Shania berkerut tanda bingung, sejurus kemudian ia mengerti.. memang kondisi hatinya kecewa akan sikap Tom belakangan ini, tapi biar lah.. Ia menghela nafas lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.


...***...


Sudah dua minggu Shania tak bertemu dengan Tom. ia pun malas untuk menghubungi lebih dulu. Ia memilih untuk berenang saja mengisi hari liburnya kali ini, tapi perasaannya tak bisa di bohongi, ia terus memikirkan sedang apa dan bagaimana keadaan Tom.


Jam 09 pagi


Setelah selesai berenang ia mengunjungi apartemen Tom, sudah sangat lama ia tak datang kemari.


Thing... Thing... thing..


Shania menekan bel berulang, sejurus kemudian terdengar langkah kaki mendekati pintu.


CLEK


Pintu terbuka kecil, menampilkan sosok Tom yang tak karuan menyembulkan kepala di balik celah pintu.


"Shania?" tanya Tom terkejut, biasanya ia takkan mampir jika bukan hal penting atau paling tidak Shania akan mengabarinya jika akan datang.


"Apa aku menganggu?" tanya Shania, Tom menggeleng pelan, kemudian membuka pintu lebih lebar, secara tak langsung mempersilahkan masuk, memperlihatkan dirinya yang kini tak mengenakan atasan hanya celana pendek menutupi bagian privasinya juga setengah paha.


Shania memalingkan wajah, pipinya merona melihat tampilan Tom yang terlihat sangat jantan, otot lengan dan perutnya terbentuk sempurna.


"Aku membawa sarapan untukmu" ucapnya sambil berjalan menuju pantry, dan meletakkan plastik yang ia genggam sedari tadi.


"Kalau begitu aku mandi dulu" Ujarnya, Shania mengangguk ia kemudian menata makanan yang ia bawa diatas meja juga menyiapkan minuman untuk mereka.


Setelah selesai Shania duduk disalah satu kursi yang tersedia disana, menunggu Tom selesai dari acara mandinya.


Tak lama kemudian Tom datang dengan pakaian santainya, kaos hitam dan celana pendek selutut sedikit lebih panjang dari yang tadi ia kenakan. pria itu duduk di salah satu kursi tepat dihadapan Shania.


"Hari ini hari minggu, tanggal merah. kantor libur."


"oohhh..." Hanya itu yang keluar dari mulut Tom, sepertinya ia tak mengenal hari dengan baik.


Tak ada lagi percakapan setelah itu, Shania membantu Tom mengambil nasi dan lauk yang ia bawa mengisi piring pria nya itu, memberi sendok dan garpu lalu menyodorkan minuman jeruk hangat yang ia buat.


Bukankah hal kecil seperti itu mengingatkan kita perlakuan seorang istri tengah menyiapkan makanan untuk suaminya, ahh hati kecil Shania sangat berharap itu terjadi.


keduanya makan dengan tenang, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar. masing-masing fokus pada sarapan mereka. Shania tak mempermasalahkan ini, karena begitulah etika makan sebenarnya tanpa bersuara.


"Tom, apa kau besok sibuk?" tanya Shania disela kegiatannya mencuci piring.


"Hmm, besok? Ku rasa tidak. kenapa?"


Shania tak langsung menjawab, ia ragu untuk mengutarakan niatnya. Hal ini membuat Tom penasaran dan mendekat ke arahnya.


"Ada apa, hm?" tanyanya tepat disamping Shania, Shania menatap Tom sejenak, lalu mengalihkan pandangan dengan segera.


"Aku ingin mengajakmu ke pantai, jika kau mau" jawabnya sedikit ragu,


Tom mengernyit heran kemudian membulatkan matanya, itu adalah janjinya sebulan lalu. sebelum mereka berencana ke Surabaya.


"Oh, maaf aku lupa hal itu" Tom menghela nafas, menyadari kesalahannya melupakan janjinya sendiri.


"Jadi bagaimana? apa kau bisa?" tanya Shania memastikan dengan harapan besar Tom mau pergi bersamanya.


"Bagaimana apanya? kita akan kesana. aku akan menggenapi ucapanku, ya meskipun sedikit terlambat" Ucap Tom yakin, Shania mendongak dan menatap Tom dengan mata berbinar bahagia.


"Apa tak merepotkanmu?" tanyanya lagi,


"Hey, kamu itu kekasihku, lagi pula aku yang berjanji akan mengajakmu kesana duluan" Ucap Tom seraya mengacak rambut hitam Shania hingga sedikit berantakan.


Shania tersenyum malu, pipinya merona saat Tom menyentuhnya seperti itu.


Ah.. ucapan Tom benar


Mereka sepasang kekasih, sudah seharusnya seperti itu..


"Shan..." panggil Tom, Shania hanya menjawab dengan deheman. pria itu menunduk dan mendekatkan wajahnya pada Shania bermaksud iseng menatap wajah lucu kekasihnya, Shania menoleh dan sontak terkejut mendepati wajah Tom dihadapannya dengan gerakan refleks ia mengibaskan air hingga mengenai matanya sendiri. perih..


ia mengusap matanya, ah ia lupa tangannya masih bersabun. semakin perih, ia panik..


Tom tertawa pelan, melihat sikap salah tingkah Shania yang menggemaskan karena ia tatap barusan.


Tom dengan sigap membasahi tangannya dengan keran air lalu membersihkan wajah Shania dan meniup matanya agar tidak perih lagi.


Shania mengedip-ngedipkan mata, sudah tidak terlalu perih lagi tapi... deg.. jantungnya berpacu cepat saat menyadari posisinya dan Tom begitu dekat, sangat dekat. tak ada yang berani mengubah posisi, mereka saling menatap.


"Kau cantik Shan, Apa aku baru sadar?"


Shania tak menjawab, bola matanya sibuk bergulir kemana saja asal tak memandang pria bermata elang dihadapannya ini. Tom mengelus pipi lembut Shania, "Menawan" ucapnya singkat.


"Tom-..." Shania hendak protes, tapi lagi-lagi suaranya tertahan saat jemari Tom meraba bibir pinknya, "Lihatlah bibirmu, kenyal dan warnanya sangat menarik, begitu merona"


Shania mengepalkan tangannya, ia ingin mendorong tubuh Tom agar menjauh darinya, ia tak ingin lelaki itu mendengar detak jantungnya yang begemuruh tak karuan, namun lagi-lagi tangan Tom seakan menahan Shania melakukan itu.


"Apa boleh aku menciummu?"


Pertanyaan itu berhasil membuat Shania Shock tak percaya, apakah lelaki ini benar-benar Tom?


Belum sempat Shania menjawab, bibir Tom sudah lebih dulu terbenam di bibir pink milik Shania. tak ada ******* yang berarti, semua Tom lakukan dengan lembut dan berhati-hati.


Tom berhenti, melepaskan tautan perlahan. kemudian menatap mata bulat Shania yang perlahan terbuka.


"Rasanya manis, boleh aku menciumnya lagi?" tanyanya bernada lembut, Shania mengangguk pelan sejalan dengan mendekatnya wajah Tom.


...***...