I Think, I Love You

I Think, I Love You
Ada aku disini



"Shaniaa?"


"Kenapa ga bilang dulu mau kesini..?" Linda ibunya Tom terkejut saat membuka pintu, ia memeluk dan menciumi pipi Shania layaknya anak yang baru kembali.


Marshal, ayahnya Tom ikut berjalan ke arah pintu mendengar keterkejutan istrinya "Shania??" tanyanya tak kalah terkejut, lalu pandangannya beralih pada lelaki berwajah manis di belakang Shania, "Kemana Tom? kenapa tidak datang bersamamu?" pertanyaan yang sudah di tebak Shania sedari tadi.


"Hmm, masuk dulu, kita ngobrol di dalam" ajak Linda menarik tangan Shania dan Jeremy masuk.


"Tante, Om apa kabar?" tanya Shania seraya memasuki ruang tamu mewah, tak banyak yang berubah. semua sama seperti saat ia masih tinggal disini.


"Kami baik dan sehat, silahkan duduk" Marshal menjawab dengan wibawanya sebagai seorang ayah.


"Hmm, aku juga baik tante om, aku kemari bersama Jeremy" Shania menoleh pada Jeremy, pria itu duduk disampingnya dengan raut wajah canggung dan kikuk.


"Aku Jeremy Om, tante. temannya Shania" ucap Jeremy menunduk sopan memperkenalkan diri.


"Awalnya aku janjian sama Tom untuk berziarah ke makam papa, sekaligus akan kemari, tapi mendadak ia tak bisa karena urusan pekerjaan" jelas Shania seraya memberikan paperbag berisi oleh-oleh untuk kedua calon mertuanya itu.


"Kebiasaan anak itu" Gerutu Marshal dengan suara hampir tak terdengar.


"Aku bawa Pancake durian kesukaan tante dan om, dan Tom, maafkan dia, lain kali dia akan segera pulang menemui om dan tante" Suara Shania begitu lembut dan pemaaf, bahkan atas nama Tom dia yang minta maaf. sungguh menantu idaman.


"Terimakasih Shan, kau sudah repot kemari tanpa Tom. malah semakin repot membawakan tante dan om makanan"


"Tidak repot, tante"


"Lalu, bagaimana hubunganmu dan Tom? apa kalian sudah memikirkan ke jenjang lebih serius?" tanya Linda beralih tempat duduk disamping Shania, merengkuh dan menggenggam tangannya meminta keseriusan jawaban.


Jeremy seketika menoleh, wajahnya lekat memandang Shania menunggu jawaban apa yang akan di utarakan temannya ini.


Shania termenung sejenak, hubungannya dan Tom tidak sebaik pasangan pada umumnya, sekedar menemani makan siang pun Tom selalu menolak bertemu, bahkan jika pun bertemu ia selalu sibuk dengan ponselnya.


"Aku dan Tom baik tante, tapi kami belum membicarakan hal serius seperti yang tante maksud" jawab Shania polos apa adanya, tapi dengan sedikit kebohongan.


"Syukurlah, tante harap kalian baik-baik saja. maafkan dia ya kalau pernah menyakitimu" pinta Linda menangkup tangan Shania, binar matanya tulus meminta calon menantunya agar mencintai anaknya setulus hati.


Jeremy mengalihkan pandangan, ingin rasanya ia tertawa mendengar obrolan mereka. baik kata Shania? sementara Jeremy tahu hubungan Shania dan Tom tak lebih sekedar bertemu tanpa ada kepastian apapun.


"Jeremy..!" suara Marshal membuat Jeremy buyar dari pikirannya, ia menengadah ke arah sumber suara lelaki di hadapannya.


"Iya om, ada apa?" tanyanya sedikit kaku,


"Namamu Jeremy Davies kan?" tanya Marshal lagi memastikan,


"Iya, bagaimana om tahu?"


"Om tahu papamu, tapi tidak terlalu mengenal" jawab Marshal singkat,


"Ohhh.." Jeremy mengangguk, ia pun tak ingin membahas keluarganya lebih jauh disini, terus terang ia sedikit tidak nyaman bertamu ke rumah orang tua Tom. ntah kenapa, ia tidak suka.


Setelah satu jam berlalu,


Shania dan Jeremy pamit undur diri karena akan segera kembali ke Jakarta,


Seperti yang di ucapkan Shania saat di hotel, ia menggantikan Jeremy menyetir, dan Jeremy duduk dengan tenang disamping kemudi, tak ada percakapan apapun diantara mereka, hingga akhirnya Jeremy membuka mulut lebih dulu,


"Kalau capek bilang ya, jangan di paksain. aku belum mau mati karena supir mengantuk menabrak palang jalan" ucap Jeremy tanpa menoleh dari ponselnya.


"Aku tak mau"


Dan tak ada lagi percakapan di antara mereka. hingga tiba di rest area, mereka berhenti untuk makan dan beristirahat, setelah di rasa cukup mereka melanjutkan perjalanan kembali dan kali ini Jeremy yang menyetir, tersisa waktu 5 jam lagi untuk sampai ke ibu kota.


"Pasanglah seatbeltmu, tidur lah jika ingin tidur" pinta Jeremy seraya memutar stir mobil keluar dari area parkiran, menuju pintu tol antar provinsi yang akan mereka lalui.


"Baik lah"


Kali ini Shania tak banyak protes, ia langsung memejam kan mata dengan kedua tangan berpeluk tubuh, sepertinya ia agak kedinginan.


1 jam


2 jam


Jeremy menoleh pada wanita disampingnya, sandaran kursi yang belum diturunkan membuat kepala Shania terogel-ogel lemah kesana kemari, Ia menepikan mobilnya dan segera menurunkan sandaran kursi, memberikan jaketnya yang tergantung di jok belakang mobil pada Shania agar tidak kedinginan.


"Lain kali kita pakai pesawat saja jika ingin kesini lagi" ucapnya melajukan mobilnya kembali.


Jam 02 dini hari,


Mereka tiba di apartemen Shania. Dengan susah payah, Jeremy membangunkan Shania tapi syukurlah wanita itu terbangun dengan mudah kali ini. setengah sadar ia menatap wajah Jeremy yang sedikit kesal memandangnya.


"Kita sampai Shan, ayo ku antar kau sampai ke atas" ajak Jeremy keluar dari mobil berjalan memutar dan membuka pintu sebelah Shania,


Shania tampak lemas, ia belum sepenuhnya sadar dari kantuknya. Ia keluar dari mobil dan berjalan gontai, Jeremy dengan setia memapahnya pelan, seperti sedang mabuk begitulah gambaran Shania.


"Pak, tolong mobil saya parkir disini sebentar, saya hanya mengantar Shania" Ucap Jeremy meminta tolong pada security yang berjaga di lobi bawah,


Setelah tiba di unit apartemen Shania, Jeremy membukanya, ia tahu smart code karena sudah diberitahu Shania sejak dulu.


"Papa..." racaunya sesaat setelah terbaring di ranjang tempat tidurnya, Shania terpejam, ntah apa yang terjadi padanya.


"Shan, aku pulang. hubungi aku jika butuh sesuatu" pamit Jeremy setelah selesai melepas sepatu dan jaket di badan Shania, menyelimutinya dan mengambilkan air putih dan diletakkan di nakas agar wanita itu dengan mudah minum apabila kehausan nantinya,


"Papa.. " Suara Shania menghentikan langkah kaki Jeremy ketika hendak keluar kamar, ia menoleh memperhatikan wajah sayu Shania di balik selimut.


"Papa...." begitu terus, Shania mengigau. Jeremy mengurungkan niatnya, ia kembali mendekati Shania. mengecek suhu keningnya barang kali ia demam, tapi tidak. dia tidak demam, suhunya normal.


Jeremy duduk di tepian kasur, memegang tangan Shania agar wanita itu tenang, berkali-kali ia coba bangunkan tapi Shania tetap tak terjaga.


"Papa..." igau nya lagi,


"Shan, apa aku harus menginap disini?" Jeremy khawatir, ia membawa Shania ke pelukannya. mengelus punggung Shania seperti yang sering ia lakukan saat Shania sedang menangis.


"Shan, kamu ga sendiri. Ada aku disini" bisiknya di telinga Shania. ia sendiri tahu beban berat yang dihadapi Shania, tidak mudah.


Setelah beberapa saat Shania berhenti memanggil papanya, Jeremy merenggangkan pelukan dan membaringkan Shania di posisi yang nyaman.


Jam 04 dini hari,


Jeremy pulang ke apartemennya. Bagaimana pun juga ia harus pulang, hari ini ada pemotretan dengan majalah terdepan, tentu ia tak mau merusak rencana awal yang sudah di rencanakan manajemennya.


"Tom..."


...***...