I Think, I Love You

I Think, I Love You
Tidak Gentle



Derap kaki terdengar nyaring menapaki perselen di lobby hotel setelah menuruni mobil, lelaki berperawakan tinggi itu berjalan penuh karisma menuju ballroom hotel dimana acara wedding di gelar. Tidak, Ia tidak datang sendirian ada Yura yang setia sedari tadi mengaitkan tangan di lengan Jeremy. Serasi, sangat serasi puluhan pasang mata tertuju pada kedatangan mereka. Bagaimana tidak, seorang anak pengusaha dan pebisnis seperti Yura digandeng oleh siapa? Jeremy? Tidak banyak yang tahu Jeremy, tapi karena ia menyandang nama belakang Davies semua orang mengetahui dia anak siapa.


Jere tersenyum ramah pada semua orang yang datang menyapanya, siapapun itu Jere tak peduli. Ia merasa sangat di hargai kali ini, meskipun hubungannya dan Yura palsu. Tapi ia tak keberatan jika seperti ini, walaupun ada saat-saat tertentu ia merasa malas pada Yura semua itu tersamarkan jika setiap hari seperti ini ia yakin ia akan bahagia mendampingi Yura.


“Hello, tampan” Seorang wanita muda menghampiri Jere membawa segelas wine. Hmmm, penampilannya sangat mahal terlihat sekali dari gaun bermerk yang ia kenakan “Oh, Haii” Jere balas menyapa dengan sikap dinginnya dan mencoba untuk terlihat hangat.


“Kau kekasihnya Yura?” tanyanya menatap Jere sambil tersenyum mencari jawaban.


"Eung---"..


“Sayang, ayo temanku ingin berkenalan” Suara Yura tiba-tiba mengacaukan Jere yang hendak menjawab pertanyaan wanita tadi, Jere berjalan agak terseret karena Yura menarik lengannya meninggalkan wanita itu.


“Hati-hati dengannya” bisik Yura di telinga Jere. Bodo Amat, Jere tak peduli, memangnya apa? Tak ada yang ditakutkan bukan? mungkin Yura cemburu.


Acara berlangsung lama, musik mengalun lembut. Beberapa orang mulai berdansa tak terkecuali Jeremy dan Yura, bahkan mereka berciuman di lantai dansa, seperti dunia hanya milik mereka berdua saja. mengalir, menikmati alunan musik.


pukul 00.00


Pesta telah selesai, Yura dan Jere sudah pulang dua jam lalu, dan tahukan apa yang terjadi?


Jere yang notabenenya tak kuat minum sudah lunglai, dan tak sadarkan diri. Hingga Yura terpaksa membopong tubuh tegapnya, kemana lagi? Ke apartemen Yura.


Meskipun Yura sempat kesal menghadapi Jere yang tak segentle pria lain yang ia kenal. tapi ia tak menyia-nyiakan kesempatan ini, bukankah waktu berpihak padanya? Menghabiskan malam panjang bersama Jere tentu menyenangkan, hmm Seringai kecil tertarik di sudut bibirnya.


“Tak ku sangka Jeremy sepolos itu” ucapnya seraya mengganti baju gaunnya dengan kaos oversize agar lebih nyaman.


“Apakah dia belum tersentuh?” tanyanya lagi dengan mata menyipit memperhatikan Jere dibalik selimut dengan mata terpejamnya.


Yura berjalan mendekati ranjang, penasaran. Ia sangat penasaran, bagaimana bisa seorang Jeremy dengan badan atletis tegap dan berahang tegas mudah mabuk, bahkan ia hanya minum setengah gelas red wine tadi? Hahaha Yura ingin tertawa, tapi pikirannya mulai nakal, ia mengelus wajah lembut Jere dengan punggung tangannya, bibir tipisnya ah mempesona, siapapun takkan bisa melewatkan ini.


Tak tahu lagi apa yang dipikirkan Yura, ia mendekatkan wajahnya pada Jere, ia berinisiatif mencium lelaki yang terbaring tak sadarkan diri ini, seperti biasa yang mereka lakukan, tapi kali ini bukan akting, sungguh ini naluri wanita Yura.


“Hoekkk”


Yura terperanjat, ia sontak menarik tubuhnya menjauh mendapati Jere muntah. Wanita itu bergidik ngeri dan jijik seketika, ia menjauh dari tubuh Jere dengan pandangan ngeri. Ia mengalihkan pandangan ketika melihat muntah Jere mengenai selimutnya, hii


Bersamaan dengan itu bell apartemennya berbunyi,


“Ah siapa tengah malam begini?” gumamnya seraya melirik jam, ia kemudian berjalan menuju pintu lalu mengintip siapa yang disana. takut? ia tak biasanya orang bertamu jam segini.


“Dave?”


Yura pasrah membuka pintu, Dave pasti disuruh Jimmy. Pria itu memang ditugaskan untuk mengawasi Jeremy, dan sialnya Yura lupa bahwa Dave pengawal rahasia Jeremy.


“Nona Yura, Saya ditugaskan menjemput Jeremy” ucapnya tegas ketika Yura membuka pintu. lalu berlalu masuk tanpa menunggu Yura mempersilahkan masuk.


Dave bersama dua rekannya memapah tubuh lemas Jeremy, meninggalkan Yura masih terdiam melongo. Bagaimana? Rencana kali ini gagal. Ishh


...***


...


“Jerrrrrrrr... !!"


"Sudah siang waktunya bangun. Isi perut masih mau hidupkan?"


"Harusnya kau bisa cari makan atau buat makan sendiri. Sudah umuran manja banget” gerutu Shania meletakkan beberapa kotak makan di sofa kamar Jere.


Suara itu membuat Jere menyibakkan selimutnya, tadinya ia sudah terbangun tapi karena berat dikepalanya ia malas sekali bergerak.


“Ada angin apa kau kemari membawa makanan?” tanyanya dengan wajah setengah sadar, matanya menyipit saat Shania membuka tirai kamarnya.


“Di suruh pak Dave” jawabnya singkat, dan Jere hanya mengangguk tak ingin memperpanjang percakapan lagi.


“Hmm, Kau serius dengan Yura?” tanya Shania lagi berpangku tangan disamping ranjang Jeremy.


“Hubunganmu”


“Kenapa?” Jere menangkap sinyal tak biasa atas pertanyaan Shania, “Hei, Kenapa kau bertanya seperti itu?”


“Sebenarnya yang menikah tadi malam adalah kakak kelasku ketika di Surabaya, jadi aku juga ikut serta tadi malam”


“Lalu?”


“Tak sengaja aku mendengar perkataan Yura pada salah seorang rekannya bahwa dia hamil. Apa itu anakmu?”


“What?? Omong kosong semacam apa itu?” Jere tersenyum miring, menganggap Shania mengada-ngada. Ia bangkit berdiri menuju kamar mandi.


“Aku perlu tahu, karena Om Jimmy dan Tante Eve pasti akan bertanya padaku”


Jere tertegun, tangannya terulur untuk membuka pintu kamar mandi ia tarik kembali. lalu kembali berjalan ke arah Shania.


“Aku tak melakukan apa-apa” seraya menggidik bahu membela diri. Sementara Shania memutar bola matanya malas.


“Jika Yura mengatakan itu anakmu?”


“Tidak mungkin, itu pencemaran nama baik”


“Heh, Gila! Pencemaran nama baik gimana, semua orang tahu bahwa kalian sepasang kekasih”


“Itu hanya pura-pura Shan, demi bisnis. You know? lagipula kalau dia hamil pasti ulah pacar aslinya”


“Jer, sebenarnya aku malas sekali berurusan denganmu apalagi tentang Yura, sungguh aku tak mau ikut campur. Tapi aku temanmu, sedikit banyak aku harus mengingatkan mu”


“Shania sayang, kau tak perlu khawatir, aku tak melakukan apapun pada Yura. Dan Jika memang seperti itu, tadi malam adalah akhirnya. Karena kontraknya berakhir setelah acara tadi malam.


“Mandi lah” Ucap Shania mendorong tubuh Jere masuk ke kamar mandi. Anak itu di nasihati hanya membuat kesal.


Ponsel Yura berdering, tak lain tak bukan Evelyn.


“Iya tante?”


“Apa kau bersama Jeremy?’


“Iya, tadi pak Dave menyuruhku kemari, karena dia ada urusan penting bersama om Jimmy. Aku hanya mengantarkan sarapan. Setelah ini aku akan ke kantor. Ada apa tante?”


“Dasar Anak itu. Apa Jeremy baik? Dia tak mengangkat telepon”


“Sedang mand---”


“Ada apa ma?” Jere tiba-tiba merampas ponsel Shania, entah kapan datangnya shania tak menyadari itu.


“Jangan sampai papamu tahu kau mabuk tadi malam”


“Tidak akan, jika mama tutup mulut” Ucapnya sambil terkekeh pelan.


“Jer, bukan apa-apa. Mama tahu kamu sudah siap deng---”


Telepon dimatikan Jeremy secara sepihak, lalu mematikan ponsel Shania juga. Menyimpannya dalam saku celananya dengan raut wajah tak mau tahu.


“Jangan kasih tahu papa, ok?”


“Ponselku..! aku harus kembali ke kantor”


“Tidak akan, kau harus menemaniku makan”Jeremy tersenyum tak ingin di tolak pada Shania, jika bukan anak tante Evelyn ia ingin menjitak kepala Jere. Merepotkan saja.


...***


...