I Think, I Love You

I Think, I Love You
Kejujuran



Kini Shania terbaring lemah di bawah selimut bermotif kotak, dikeningnya tertempel alat medis penurun panas, sudah 3 jam dia tak sadarkan diri.


"Ma, Apa Shania sudah sadar?" Jere menyembulkan kepalanya dibalik pintu, Eve menoleh ke sumber suara dan menggeleng.


"Dia terus mengigau dari tadi, mengapa kau seperti itu? Masuklah..!!" tanya Eve mengernyit heran melihat tingkah Jere seperti enggan untuk masuk.


"Papa melarangku masuk ke kamar ini" jawabnya terus terang, dan Eve hanya menghela nafas mendengar jawaban itu.


"Mengapa kau tak teliti dulu obat apa yang kau beri pada Shania, mengapa kau selalu ceroboh?" tanya Eve memprotes sifat Jere yang selalu teledor.


"Aku mengira itu paracetamol, Lagipula kenapa Si Dave itu menyimpan obat itu dikantor. Aneh" gerutunya kesal pada Dave, jika lelaki itu tak menyimpannya disana pasti semua takkan seperti ini.


"Sudah. Lupakan!, sekarang panasnya sudah turun mungkin sebentar lagi sadar. Kau kembali lah ke kamar mu" Titah Eve mengusir Jere halus, mendorong tubuh anaknya ke arah pintu lalu mempersilahkan Jere keluar.


Dan betul saja, beberapa menit setelah Jere keluar Shania terbangun.


"Tante? aku di rumah tante ya?" Shania ingin memastikan jika sekarang ia dirumah Eve, Ia tak ingat apapun, terakhir ia hanya ingat minum obat dan beristrahat di sofa kantor.


"Iya Shan, bagaimana keadaanmu?" Eve membantu Shania duduk lalu memberikan segelas air putih.


"Jere yang membawaku kemari?" Tanya Shania setelah meneguk air tersebut untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering, ah segar.


"Kamu sakit, jadi Jere dan tante bawa kemari" Eve mengambil gelas kosong itu lalu menyimpannya kembali ke nakas.


"Maaf merepotkan tante, tapi jam berapa sekarang?"


"Jam 7, kenapa?"


"Aku harus pergi. aku ada janji tante" Shania lalu menyibakkan selimut dan turun dari ranjang, tapi tangannya sempat di tahan oleh Eve.


"Apa kau sudah baik? tidak merasa panas lagi?" tanya Eve memastikan keadaan Shania.


"Aku baik tante, lihat lah aku bisa berdiri dan berjalan. Aku pergi tante"


"Jeremy akan mengantarmu" Ucap Eve mengikuti Shania keluar ruangan, di ruang tengah, Jere langsung meraih kunci mobil mendengar ucapan ibunya.


...***...


"Aku tunggu di mobil" Jere memarkirkan mobil di depan resto tempat Tom menunggu. Ia mempersilahkan Shania turun.


"Ingat, jangan mau kalau di ajak balikan" Ucapnya lagi, Shania hanya diam, ia keluar tanpa mengucap apapun.


Kini, Tom sudah memesan dua gelas jus jeruk untuknya dan Shania, ya minuman sehat kesukaan Shania.


"Bicara lah Tom, apa yang ingin kau sampaikan!" Rasanya canggung jika berlama-lama bersama Tom, secepat mungkin Shania ingin tahu apa yang ingin dikatakan Tom padanya.


"Pertama-tama, maaf atas semua kesalahan yang ku lakukan padamu" ucapnya serius seraya menarik nafas dalam, Shania hanya diam berusaha mendengarkan dengan baik.


"Sebelum meninggal, mbak Mirna selalu bercerita tentangmu. kesukaanmu, kegemaranmu, kesedihanmu, dan hal-hal yang kau benci. Semuanya tak luput ia ceritakan padaku. Bahkan aku satu-satunya orang yang tahu bahwa dia menderita kanker, Aku selalu membantunya untuk berobat tapi Tuhan berkata lain" Tom menunduk, ia terlihat sedih


Tom menjeda ucapannya, ia menatap Shania yang sedang menahan tangis, matanya berembun. Tom mengulurkan tangan hendak memegang tangan Shania, tapi wanita itu cepat menarik tangannya.


"Tapi, ternyata perasaanku tak lebih hanya sekedar rasa sayang seorang kakak pada adiknya. hal itu ku sadari ketika aku bertemu Stella. Aku merasakan cinta yang sesungguh, berbeda saat aku bersamamu"


"Cukup Tom, aku sudah paham"


Tom terdiam, ia ingin melanjutkan ucapan Tapi Shania memotong penjelasannya.


"Aku yang terlalu polos, aku yang terlalu bodoh terlambat menyadarinya" Shania menahan sesak, pembicaraan kali ini berhasil menyentuh palung hati terdalamnya, bagaimana mungkin hubungan yang ia harapkan selama ini hanya Tom anggap sebatas perasaan seorang kakak pada adik.


Dada Shania kembang kempis, ia merasa malu pada dirinya dan dunia, jika bisa ia ingin menghilang saja dari dunia detik ini juga. betapa menyedihkan nasibnya, masalah cinta pun dia di kasihani.


"Shan, tak ada yang berubah antara kita. aku masih menyayangimu, kau adikku" Tom kembali menatap shania, berusaha memberi pengertian atas apa yang ia yakini.


"Baiklah, sudah cukup. terimakasih atas kebaikanmu selama ini" Tanpa berkata apapun lagi, Shania bangkit berdiri dan meninggalkan Tom tanpa pamit.


Ia berlari keluar restoran tanpa memperhatikan orang berlalu lalang yang memandanginya heran, ia ingin berteriak. ia ingin protes pada dunia, ia ingin tempat tenang.


"Antar aku pulang" Shania masuk ke mobil tergesa-gesa mengagetkan Jere yang sedang memainkan ponselnya.


"Sudah?" Jere bertanya sambil membenarkan posisi duduknya lalu menyalakan mesin mobil, Shania mengangguk. Ia menangis.


Jere sempat melihat Shania menangis, tapi ia tak ingin menanyakan dan membahasnya, biarkan Shania dengan dirinya dulu, ia butuh waktu.


"Ini kemana? ini bukan jalan ke Apartemenku?" tanya Shania setelah menyadari jalanan sepi yang mereka lewati, hanya satu dua lampu jalanan yang terlihat.


"Ke suatu tempat"


Shania tak bertanya lagi, ia melemparkan pandangan pada langit malam dan disini di tempat ini terlihat banyak bintang, sangat berbeda jika di banding langit di apartemennya. Ia tak peduli Jere akan membawanya kemana, pikirannya masih dipenuhi penyesalan akan perasaannya yang terlalu mendambakan Tom.


"Kita sampai" Jere melepas seatbeltnya. Shania terdiam, Ia menatap pemandangan di depan sana, sebuah waduk di belakang kota. airnya tenang, dan di tepi sana terlihat gedung-gedung pencakar langit lengkap dengan kelap kelip lampu penghiasnya, indah perpaduan karya Tuhan dan manusia dipadukan seperti ini.


"Ayo, dil luar lebih seru" Shania terperanjat ketika Jere sudah membuka pintu mobil di sebelahnya. Ia menurut, turun dari mobil dan berjalan ke tepi waduk, ada beberapa kursi disana.


"Aku selalu datang kemari, rasanya disini menenangkan" Jere berdiri disamping Shania, mengedarkan pandangan menikmati suasana ini.


"Apa yang membawamu kemari?" tanya Shania menatap Jere, Rambutnya tertiup angin malam, dia tampan. Shania mengalihkan pandangan, menyadarkan diri atas apa yang ia pikirkan barusan.


"Aku bukan lah orang yang punya banyak teman. Aku tak pernah percaya pada siapapun, Jika penat, aku kemari" Shania mengangguk mendengar ucapan Jere.


"Apapun yang dikatakan Tom tadi padamu, terimalah dengan lapang hati. Semua akan terasa mudah jika kau menyediakan wadah untuk semua hal yang menyakitimu, nantinya, kau akan tenang seperti air waduk ini" Shania tertunduk, benar apa yang di katakan Jeremy. Ia butuh ketenangan untuk merenungkan dan menerima semua, ia juga harus melapangkan hati agar semua bisa ia lalui.


"Aku berharap kau selalu tersenyum" Jere memasangkan jaket pada Shania, jaket denim yang tadi ia kenakan.


"Jer, Apa aku sangat menyedihkan?"


...****...