I Think, I Love You

I Think, I Love You
Eat



Selesai berkenalan dan mengobrol ringan, Lora membantu Jere menyiapkan makan malam, mengolah bahan-bahan yang tadi dibeli Jere untuk keperluan Shania. Bukan, untuk mereka juga.


Meskipun baru beberapa jam mereka berkenalan, Lora dan Jere tampak sudah akrab. Sikap Lora yang humble dan senang bertanya membuat mereka terus saja mengobrol, membicarakan film, makanan, pekerjaan hingga kenangan masa sekolah masing-masing.


"Pasti Shania pendiam di sekolahmu kan?" tanya Jere tanpa menoleh, tangannya fokus mengaduk air jeruk yang baru saja ia campur es batu.


"Sangat pendiam. Tapi dia rajin dan pintar. Dia juga punya pacar yang selalu baik dan sayang padanya. Aku iri" Tukas Lora, wanita itu sedang menata beberapa makanan di meja makan minimalis milik Shania, menyusun piring serta sendok bersama hidangan lain yang selesai mereka olah.


"Hmm.. Bagaimana denganmu?" Tanya Lora menerima teko kaca dari tangan Jere, sementara pria itu melepas apron miliknya karena acara masak memasak sudah berakhir.


"Aku bersamanya sejak sekolah dasar, tapi terpisah ketika SMA dan bersama lagi ketika dia kembali ke sini" Jelas Jere.


"Berarti kalau Shania tak ikut orangtuanya ke Surabaya pasti aku takkan pernah mengenalnya" ucap Lora lalu duduk menarik kursi dan duduk tepat dihadapan Jere.


Jere hanya mengangguk. Pandangannya tertuju dan memperhatikan pintu kamar Shania yang masih tertutup rapat. Sejak tadi, gadis itu tak keluar dari kamarnya dengan alasan ingin mandi dan membersihkan diri.


"Kalian sepertinya sangat akrab bahkan aku dan Shania tak seakrab itu" lanjut wanita berambut pendek itu. Kembali lagi Jere hanya mengangguk.


"Kau makan lah lebih dulu, aku akan memanggil Shania" Jere bangkit. Berjalan pelan menuju bilik kamar Shania, Jere masuk setelah beberapa kali mengetuk dan memanggil Shania.


"Ayo makan!"


"Aku tidak lapar!"


Shania duduk di kepala kasur seraya memperhatikan tablet miliknya serta sebuah pen electronik bertengger di jarinya, dia sedang mendesain sebuah gaun yang indah dengan macam mode dan aksen terbaru yang ia pelajari melalui buku yang sedang ia baca.


"Ayo!" Jere mengambil tablet dan pen tersebut, menarik tangan Shania hingga wanita itu sedikit mengaduh karena tersentak kaget.


"Apaan sih?" Protesnya dengan wajah kesal "Kau saja. Aku sudah makan, kau bisa dengarkan?" Shania mengibaskan tangan Jere.


"Kalo gitu temani saja aku makan!" Jere melepaskan tangan Shania, lalu memegang bahu Shania dengan posisi sedikit membungkuk. Sementara gadis itu menatap malas pria di hadapannya, telunjuk lentiknya mendorong jidat Jere agar segera menjauh dari wajahnya


"Ada Lora. Kenapa harus aku?"


"Kau tak berterimakasih?" Alih-alih menjawab, Jere malah membelokkan pertanyaan lain pada Shania.


"Tidak!"


"Berarti kau harus membalas kebaikanku hari ini" ucapnya enteng tangannya kembali menarik Shania agar segera keluar.


"Memang itu mau mu kan?" tanya Shania mengikuti langkah kaki Jere pada akhirnya, menuju meja makan dimana Lora sudah menunggu dengan banyak hidangan di hadapannya. "Kau ingin aku membalasmu dengan apa kali ini?" tanya Shania lagi.


"Makan lah lebih dulu"


Shania memandang takjub meja makan miliknya, di hadapannya banyak sekali makanan mewah yang tersaji memenuhi meja. Selain hidangan yang dimasak sendiri, Jere juga memesan makan siap saji untuk melengkapi selera makannya.


"Siapa yang akan makan semua ini?" tanya Shania tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kau tentu saja!"


"Untukku?" Shania kembali bertanya.


"Huss!" Jere menyentil jidat Shania "Kau tak lihat ada aku dan Lora?" tanya Jere menarik kursi dan menekan bahu Shania agar segera duduk.


Jere mengambil piring kosong, menyendokkan nasi dengan beberapa potong daging beserta sayuran serta telur ikan yang di sukai Shania, lalu meletakkannya di hadapan gadis itu.


"Habiskan!" Ucap Jere dengan kalimat lebih seperti memerintah. Shania menghela nafas pasrah, ia mengambil sendok dan sumpit dan mulai melahap makanannya. Sesekali memandang Jere yang tengah makan dengan tenang.


Sementara Lora sibuk dengan ponselnya, ntah apa yang terjadi dia tampak sumringah mengetik pesan yang seakan tak berhenti berdatangan di ponsel pintarnya.


"Ra, kau tampak senang sekali, ada apa?" tanya Shania pada akhirnya.


"Besok, aku sudah mulai bekerja dan kau tahu? seseorang sedang mengajakku berkencan!" ucapnya tak berhenti tersenyum


Tak berapa lama kemudian, Ponsel Lora berdering, kali ini sebuah panggilan telepon.


"Sebentar ya, aku angkat telepon dulu" Lora segera menjauh dari meja makan untuk mengangkat panggilan tersebut meninggalkan Jere dan Shania yang sedang tenggelam menikmati hidangan mereka.


Shania melirik Jere sebentar ada rasa canggung ketika Jere tak banyak bicara seperti saat ini, bagaimana pun menyebalkannya anak ini, dia tetaplah lelaki baik yang selalu peduli dan memperhatikan Shania.


"Kau tak seharusnya repot seperti ini!" Shania berucap.


Jere mengangkat wajahnya, menatap Shania yang sudah sedari tadi menatapnya "Aku tidak repot!"


"Lalu ini semua apa?"


"Ku bilang, aku tak repot. Asal kau mau menemaniku!"


"Sudah ku duga!" Shania tersenyum miring meletakkan sendok sedikit kasar hingga terdengar berdenting.


"Kau tak mau? tanya Jere sebelum meneguk air putihnya hingga setengah dengan santai.


"Kapan aku tak menemanimu? aku selalu bersamamu bahkan menguntit pacarmu, mengawasi teman-teman berengsekmu, bahkan aku orang yang menunggumu syuting hingga kelar walaupun berjam-jam lamanya?" kata Shania.


"Aku bosan denganmu" ucapnya kemudian dengan wajah cemberut "Tapi karena kau teman yang baik dan tampan, aku akan menemanimu kemana pun kau mau!" ucapnya kemudian tersenyum menepuk bahu Jeremy.


Jere terkekeh. Senyum terukir diwajahnya saat tangan Shania menepuk bahunya dengan sedikit keras, terasa perih tapi bukan apa-apa di banding ungkapan yang baru saja dia dengar. Semuanya terdengar menyenangkan.


"Lalu apa?"


"Setelah Lora datang aku sadar jika aku terus tenggelam pada pikiranku, aku takkan pernah maju jika seperti itu. Jadi aku memutuskan, untuk menghadiri acara Tom. Bukankah itu keputusan dalam bentuk kedewasaanku?"


Jere mengangguk singkat.


"Jadi, mau kah kau menemani aku juga datang ke sana?" Tanya Shania dengan nada bicara di lebih-lebihkan penuh harap.


Wow. Bravo.


"Yap, dengan senang hati, tapi setelah itu kau tak boleh menangisi suami orang lagi"


Jere lagi-lagi bertepuk tangan kemenangan, dia tak perlu mengajak dan membujuk Shania pergi ke acara Tom lagi karena dengan sendirinya wanita itu yang berinisiatif untuk datang.


"Tapi kau juga harus menemani aku menghadiri acara Yura" Pinta Jere.


"Okey. Deal"


"Setelah ini, jangan marah padaku lagi. Aku akan mengizin mu bekerja kembali tapi kau tak boleh ku temukan menangis lagi" Jere memegang tangan Shania. "Aku ingin kau selalu baik-baik saja" lanjutnya.


Shania terdiam, senyumnya perlahan memudar. Tapi seperdetik kemudian dia tersenyum kembali lalu mengangguk.


"Selagi kau tak mengaturku, kau bukanlah pria yang menyebalkan" ucapnya "Nih, makan enak!" Shania menyuapi Jeremy sepotong daging ke mulut Jere.


"Setelah ini kau pulang ya, aku akan ikut ke rumahmu! Tadi Jean memberitahu agar membawamu pulang" Ucap Shania "Aku jadi malu, seolah-olah aku yang memintamu kemari"


"Memang iya"


"Mana ada!!" Shania kembali memukul Jere.


"Kalau kau tak mengatakan ingin sendiri aku takkan datang. Jadi, jika tak ingin terus ku ganggu katakan bahwa kau ingin bersama ku terus-menerus" Jere berucap seraya tersenyum licik, sementara Shania hanya mendengarnya dengan raut wajah malas.


"Akal bulusmu"


...---...