I Think, I Love You

I Think, I Love You
Peduli



Shania, Lora dan Jeremy tiba di kediaman keluarga Davies. Sudah larut, sekitar jam 10 malam. Tapi suasana masih terdengar ramai di ruang tengah.


"Hey, Jean congrats ya cantik" Shania memeluk Jean dan memberi ucapan selamat kepada adik sahabatnya.


"Thanks kak Shan" balas gadis belia itu dengan sumringah.


"Aku tak dipeluk?" Tanya Jere setelah Jean menyudahi pelukan dirinya dan Shania.


"Tak perlu, pasti kau belum mandi kan kak?" Ejek Jean ketus dan Jere hanya melengos mendengar jawaban sang adik.


Shania memperhatikan sekeliling, suara TV begitu lantang hingga membuat ruangan ini begitu berisik. "Tante Eve dan Om Jimmy belum pulang?" tanya gadis itu saat tak mendapati orang tua Jere disana.


"Mama sama papa sudah istirahat" Jean sadar suara benda elektronik itu begitu mengganggu, lantas ia mengecilkan volumenya "Who is she?"


"Oh, Jean kenalkan ini kak Lora, teman aku dari Surabaya" Shania mengenalkan Lora pada Shania yang sedari tadi berdiam diri.


Lora dan Jean pun saling berkenalan, lalu mereka mengobrol hal-hal ringan yang membuat kedua anak perempuan itu mulai tampak akrab.


"Kalian menginap saja disini, tidur di kamar Jean" Ucap Jere seraya bangkit berdiri setelah duduk sebentar memeriksa kertas pemberitahuan dari sekolah Jean. "Iya kak Shan, sudah malam besok saja pulangnya" Timpal Jean.


"Hmmm" Shania mengangguk "Okay, kamu tak keberatan kan Ra?" tanya Shania pada Lora dan wanita itu menggelengkan kepala, sama sekali tak ada masalah dengan ajakan itu.


"Okay, sebagai ucapan selamat dari aku. Besok kita akan ke suatu tempat, sekarang kalian harus istirahat" Jere berkata membuat ketiga gadis itu menoleh kepadanya.


"Kemana?" tanya Jean ingin tahu.


"Kau butuh liburan kan? Come on, lets go on vacation" Goda Jere pada adiknya.


"Ajak teman aku ya kak" ucapnya sumringah dan Jere sontak menggeleng "No, just you and me! and .... " Jere melirik Shania "..with her friend"


"Sorry, aku tak bisa ikut. Besok aku sudah mulai bekerja" Tolak lora sopan.


"Kak Shania bisa kan?" tanya Jean penuh harap.


Jere mengangguk pada Shania. "Tak perlu di tanya Jean, Shania selalu ikut aku, sekarang istirahat lah" Jere menutup percakapan dan mendorong pundak Jean agar segera masuk ke kamarnya di susul Lora setelah mendengar ajakan Jean. Namun tidak dengan Shania, ia masih duduk di tempatnya semula.


"Kenapa?" tanya pria muda itu


"Apa tadi di Cafe itu kau?" tanya Shania, ia menatap layar televisi yang menyiarkan siaran kartun kesukaan Jean.


"Aku?" Jere bingung, lantas ia kembali duduk disebelah Shania "Kenapa di Cafe?" tanyanya penasaran.


"Aku bahkan tidak tahu Cafe mana yang kau maksud" Bingungnya.


"Cafe dekat studio mu, saat kami ingin membayar seseorang telah lebih dulu melakukannya bahkan kami dapat akses gratis makan dan minum di cafe itu, siapa lagi kalau bukan kau?" Jawab Shania yakin dengan dugaannya.


"Mungkin penggemarmu!" Jere menjawab singkat tanpa mau memperpanjang percakapan, kemudian ia mengambil remote dan mematikan TV, sejurus setelah itu ia menarik tangan Shania menuju kamar Jean. "Jangan tidur larut malam biar tak cepat tua" Ucapnya setelah membuka kamar Jean dan mendorong Shania masuk. lalu menutupnya dan pergi ke kamarnya sendiri.


Jean dan Lora tampak sudah terlelap, sementara Shania ia bahkan tak bisa tidur setelah berbaring ke kiri dan ke kanan, Beberapa hari lagi ia akan menghadiri hari bahagia mantan kekasihnya, kemarin saja saat mengajak Jere ia benar-benar yakin bahwa dia akan baik-baik saja, tapi sekarang ia merasa ciut, ah Shania memang lemah!


Lama bergelud dengan pikirannya, ia pun membulatkan tekad dan akan mempersiapkan diri semaksimal mungkin untuk acara tersebut. Ia berjanji akan takkan terlihat menyedihkan di depan Tom, dia seorang pria yang hanya menganggapnya adik selepas kebersamaan mereka bertahun-tahun belakangan ini.


Shania pun meraih ponselnya dan mengirimkan pesan pada Jere "Besok, setelah selesai temani aku mencari gaun untuk acara Tom, tenang saja kau ku traktir"


Sementara Jere menerima pesan itu hanya mengendikkan bahunya, lalu memandangi sebuah kotak kubus yang telah disiapkannya untuk Shania.


"Agak merepotkan sih, tapi baik lah, ajak aku ke tempat terbaik versimu" balas pria muda itu.


Shania hanya memutar bola matanya saat membaca balasan Jere, "Anak ini.." ucapnya tersenyum sumbang.


Keesokan harinya Lora pulang lebih dulu karena tuntutan pekerjaan, Sementara Shania ia ikut sarapan bersama keluarga Jeremy.


"Shan, kami tahu kau pasti kesal pada Jere, sama kami juga kesal padanya!" Ucap Jimmy di sela-sela sarapan mereka.


Jere yang hendak menyuap pun menaruh kembali sendaknya, ia menatap sang papa dengan wajah heran.


"Dia peduli padamu, tapi caranya aneh" Ucap Jimmy kemudian bahkan Jere terbatuk saat mendengar ucapan sang papa "Katakan pada kami jika ia melakukan sesuatu yang membuatmu keberatan" lanjut Jimmy.


Irene dengan sigap memberikan air pada Jere, sementara Shania hanya memandang Jere dengan tatapan datar "Ah Jere memang menyebalkan om" Shania membuka mulutnya mengadukan semua tindakan menyebalkan Jere pada orangtua pria itu.


Semua unek-unek dan kekesalan Shania ia lontarkan di depan semua orang membuat Jere hanya tertunduk merasa malu akan pengakuan Shania, karena memang benar. Tindakan yang ia anggap baik malah ternyata Shania tak menyukai itu.


"Tapi dia selalu baik padaku, dia bahkan menjagaku lebih dari apapun"


Satu kalimat itu sebagai penutup ucapan Shania menyedot perhatiannya, sederhana namun kalimat itu sanggup membuat kepala Jere terasa membesar, wajahnya bahkan terasa panas dan memerah bahkan ia tak sanggup menatap Shania sejenak.


"Dia temanku yang terbaik" Sambung Shania kemudian.


Jere terhempas, senyumnya memudar, kepalanya yang terasa membesar normal seketika. Ia berdehem singkat lalu berkata "memang begitukan seharusnya teman? ayo Jean habiskan makananmu, kita berangkat!" ucapnya sedikit ngaco


...-----...