
Kini Jere duduk di bibir kasur milik Shania, memperhatikan wajah gadis yang baru saja membuka matanya. Meskipun tak mengatakan apapun Jere tahu anak itu habis menangis. Raut kekecewaan begitu jelas di wajahnya.
"Kenapa bangun?" Tanya Jere.
"Marry menghubungimu?" tanya Shania memastikan.
Pria muda itu mengangguk singkat, "Dia di dapur" ucapnya.
"Mengapa kau begitu repot memerintah Marry datang kemari, aku hanya tidur!" Ucap Shania.
"Biar ada pekerjaannya"
Shania tersenyum sumbang, Ia tahu itu hanya bualan Jere. Lebih dan kurangnya pria itu memang ingin melihat Shania baik-baik saja, tapi sebagai Shania, ia juga merasa Jere terlalu berlebihan memperhatikannya.
"Lalu, kenapa kau tak bekerja?" tanya Shania lagi.
"Aku dikeluarkan dari project" Ucap Jere pasrah.
"Kau melakukan apa?"
"Bukan urusanmu!" Jawab Jere ketus "Kau pingsan, apa yang terjadi padamu?" Tanya Jere balik bertanya.
"Wajahmu penuh luka, aku ada obat di lac-----"
"Tak perlu! Aku hanya datang untuk mengambil dompetku yang tertinggal semalam" Jere bangkit dan mengambil dompet di sudut sofa yang memang ia lupakan tadi pagi. Shania hanya menatap pria itu tanpa ekspresi apapun, tubuh tinggi itu terlihat terseok-seok ketika melangkah. Tidak tahu apa yang terjadi Shania pun tak tertarik untuk menanyakannya pada anak itu.
"Aku pulang, jaga dirimu baik-baik!" Pamit Jere "Makanlah makanan yang dibuat Marry!" Ucapnya. Kemudian berlalu meninggalkan kamar tersebut.
Shania menghela nafas mengingat apa yang terakhir kali ia lakukan, Ah dia menangis. Terlalu sesak dan sakit membuatnya tak sadarkan diri ketika Marry datang melihatnya, pasti lah Marry yang memberitahu Jere agar datang menjenguk kondisi dirinya.
Menjelang sore hari Shania hanya uring-uringan di kasurnya, tak banyak yang ia lakukan hanya menonton serial kartun kesukaannya, bermaksud menghibur diri atas kabar yang ia terima hari ini. Ponselnya pun terlihat dalam keadaan mati, untuk beberapa hari ke depan ia akan istirahat seperti yang dikatakan Jere.
Sementara Marry sudah ia suruh pergi beberapa jam yang lalu, gadis itu juga memperingatkan agar tidak mengikuti perintah Jere apabila menyangkut tentangnya. Risih, Shania merasa Jere berlebihan!
Di tempat lain, Jere sedang menaiki tangga memegang pembatas dengan erat karena kakinya cukup perih saat melangkah. Sebelum naik tadi, ia meminta bi Asih mengobati lukanya terlebih dahulu, ia akan tidur saja untuk menghabiskan sisa hari ini.
"Apa yang terjadi pada kakimu?" tanya Jimmy saat tak sengaja mereka berpapasan di lantai atas. Karena diluar dugaan, Jere menjawab gugup namun ia memilih berterus terang kepada sang papa "Aku berantem pa!" ucapnya takut-takut tak berani menatap Jimmy.
"Dengan siapa? sebab apa?"
"Deano. Rekan modelku. Karena dia merendahkanku!" Ucap Jere apa adanya.
"Jika itu untuk membela diri papa takkan menyalahkanmu" Ucap Jimmy menepuk pundak Jere dan anak itu tampak melongo karena biasanya sang papa akan marah jika mendapati dirinya seperti sekarang.
"Jangan mementingkan ego dalam berkelahi. Bela lah apa yang pantas kamu bela!" Jimmy tersenyum "Papa akan kembali ke kantor, papa hanya menjemput berkas ini" Jimmy menunjukkan sebuah map coklat yang di genggamnya.
"Oya, kamu kemana sejak kemarin, Irene bilang kau tidak di apartemenmu?" tanya Jimmy lagi sesaat setelah lelaki itu melewati Jere beberapa langkah.
"Aku bersama Shania pa, dia sakit!" ucap Jere jujur, jika menyangkut Shania Jere benar-benar berterus terang.
"Jangan terlalu sering menginap bersama Shania, kau tahu setan bekerja setiap saat" Ucap Jimmy datar. Lalu pergi meninggalkan Jere yang masih tampak kebingungan akan ucapan ayahnya.
...***...
"Seno, Apa kau mengenal Shania dengan baik?" tanya Irene ketika Seno menyerahkan tugasnya ke ruangan Irene, atasan barunya yang hari ini pertama bekerja.
"Ya, kami satu divisi" jawab Seno jelas.
"Baik lah, kembalilah ke ruanganmu!"
Seno mengangguk, ia berlalu keluar ruangan bosnya, meninggalkan Irene yang tampak di penuhi rasa penasaran. Siapa Shania? dan mengapa sepenting itu bagi Jere hingga ia menyuruh Irene memberhentikan Shania tanpa alasan yang valid. Bahkan ketika Irene bertanya, Jere hanya menanggapi sekilas dengan mengatakan Shania sedang menderita penyakit, seserius itu kah?
Tadi pagi, Irene pun datang ke Apartemen Jere membawakan bekal makanan pagi yang di olahnya sendiri, tapi benar kata Jere semalam, dia sedang tidak di apartemen. Lalu dimana? Irene terlalu penasaran dengan Jere. Apakah Shania pacar Jere? Batin Irene menerka-nerka.
Setelah pekerjaan hari ini, Irene akan menanyakan langsung saja kepada Jere, Ia berharap Jere ada dirumah, atau ia bisa menemui kakak angkatnya itu secepatnya.
Kembali di kediaman Shania, Ia masih berbaring dikasur kebesarannya, menatap TV dengan malas, ia sudah mulai bosan tapi ia tidak tahu lagi harus melakukan apa. Menangis? tidak, sekarang ia sudah cukup kuat. Meskipun mungkin hanya di bibir saja.
"Ishh, anak itu!" Shania menggeruru kesal ketika mengingat Jere, Anak itu yang memberhentikannya bekerja lalu terdampar seperti sekarang tanpa ada kejelasan, menyuruhnya istirahat tanpa alasan jelas! Bukan kah jika panas atau demam hanya sakit ringan? tak perlu menyuruh Shania resign kerja seperti ini. Sekali lagi, Jere berlebihan. Itu lah yang membuat Shania sangat kesal dan marah pada Jere, lelaki itu terlalu ikut campur urusan Shania.
Meski pun penasaran kenapa Jere berjalan pincang tadi, Shania tak mau menanyakan hal itu. Ia ingin menunjukkan bahwa dia benar-benar kecewa atas keputusan sepihak Jere atas pekerjaannya, Dia tahu siapa Jere, dia tahu bagaimana sifat Jere, tapi untuk kali ini Shania benar-benar malas berurusan dengan Jere. Biarkan saja lelaki itu pada kemauannya.
Untuk beberapa hari ini Shania akan bermalas-malasan saja, menikmati kehidupan yang menyenangkan di tengah kegalauannya!
Bell berbunyi. Shania melirik pintu dengan acuh saat ia tengah bersantai dengan cemilannya.
1 kali
2 kali
3 kali
Shania mulai menyadari bahwa yang menekan bel bukanlah Jere, lelaki itu tau kode apartemennya, tak mungkin sesopan itu iya menekan bel. Atas pertimbangan itu, Shania bangkit berdiri dan mencari tahu melalui lubang pintu, benar dugaannya! bukan Jere yang disana, tetapi Seno bersama wanita yang baru beberapa hari dikenalnya, Irene.
"Ada apa?" Tanya Shania bingung pada dirinya sendiri, namun beberapa detik kemudian ia membuka pintu dan menyapa mereka dengan ramah.
"Hallo Shan, apa kami mengganggu?" tanya Seno ramah, dan Shania menggeleng lalu membuka pintu lebih lebar, mempersilahkan dua orang itu masuk ke apartemennya.
"Apa kalian datang karena aku tak bekerja hari ini?" tanya Shania memastikan.
"Ya, tapi kata Irene kau di minta berhenti oleh Jeremy!" jawab Seno dengan nada bicara yang sudah akrab dengan Irene.
"Tidak apa-apa Shania, aku sebagai orang baru diperusahaan merasa ingin tahu karena hari pertama aku bekerja kau malah berhenti" Ucap Irene mulai pembicaraan "Jika ada sesuatu yang menyulitkanmu, kami siap membantumu, ceritakan saja" lanjutnya.
"Aku sudah mendengar tentangmu dari teman-teman satu divisimu, kau pintar dan berbakat, sangat disayangkan jika kau diberhentikan diluar keinginanmu oleh Jeremy" Irene terus melanjutkan ucapannya, sementara Shania hanya mendengarkan tanpa ingin menyela.
"Aku akan membantumu jika kau masih bersedia bekerja!" Lanjut Irene memberi penawaran.
Shani menghela nafas, Jujur ia tertarik pada tawaran Irene. Tapi mengingat suasana hatinya yang sedang mendung dan tak secerah biasanya, ia ragu akan keinginannya. Lagi pula, meskipun Irene membantu, Jere tetaplah Jere, Lelaki itu pasti akan semakin menekan Shania karena dianggap tak mendengarkan keputusan besarnya.
"Tidak. Terimakasih, aku akan mencoba mencari pekerjaan lain!" Jawab Shania pada akhirnya,
"Alasan Jere memintamu berhenti karena kau sakit, apa betul?" tanya Irene lagi.
Shania mengangguk, bukan setuju dengan alasan Jere tapi ia tak mau terlibat pembicaraan lebih serius lagi dengan Irene, bagaimana pun ramahnya Irene, Shania tetap tidak nyaman berbicara hal pribadi dengan orang baru.
"Shannn-- Kau sudah bang----?" Jeremy tiba seperti kebiasaannya membuka pintu tanpa mengetuk atau menekan bel lebih dulu.Tiga pasang mata tertuju padanya, Irene dan Seno menatap heran dan bingung.
"Eh, kalian disini?" Jere tersenyum canggung.
"Kau kenapa?" tanya Irene melihat penampilan Jere dengan bibir dan jidat diplester, serta berjalan sedikit pincang.
...------...