I Think, I Love You

I Think, I Love You
Dengarkan aku



"Hallo"


"Jer, Apa sudah tidur?" ternyata yang menelpon adalah Irene, Jere sempat bingung karena dia belum menyimpan nomor Irene di ponselnya.


"Kau tak di rumah sejak tadi siang, jadi besok aku berencana untuk datang ke apartemenmu, apa boleh?" tanya Irene.


"Lain kali saja. Aku sedang tidak disana!"


"Besok juga aku pulang, kau hanya ingin menanyakan itu menelpon tengah malam begini?" Tanya Jere membuat Irene sedikit bergidik ngeri, Ia menyadari terlalu antusias hingga menelpon tidak melihat jam, dan dari nada suara Jere sepertinya dia terganggu.


"Kalau tak ada hal lain, ku tutup!" Irene melongo. Sejenak kemudian ia mengangkat bahu tanda tak mau ambil pusing.


Jere meletakkan kembali ponselnya, lalu meneguk sebotol air mineral diatas meja, pukul 1 saat ia melirik jam dan di luar hujan sudah mulai reda, hanya tinggal gemericik gerimis yang jatuh perlahan membasahi kota.


Karena kantuknya sudah hilang, Jere beralih menonton TV setelah memastikan keadaan Shania baik-baik saja, Begini lah, jika terbangun tengah malam ia akan susah sekali untuk kembali tidur.


TV berukuran sedang itu menampilkan ragam acara yang selalu di ganti oleh Jere karena tak menemukan acara yang cocok untuknya, hingga ia menemukan penayangan petinju amerika yang berlaga diatas ring. Jere terlihat bersemangat, Ia kemudian membuat kopi dan mengambil beberapa kotak cemilan yang tersedia di dapur lalu menonton tanpa satu pun yang menganggu.


...***...


Pagi menjelang, Shania di kejutkan oleh suara dering ponselnya yang berbunyi lantang disamping kasurnya. Setengah sadar, Shania berusaha meraih ponsel itu lalu mengangkatnya tanpa memperhatikan siapa si pemanggil.


"Shania sayang, suaramu terdengar serak, apa kau sakit?" Suara itu membuat Shania berkerut lalu mengecek nama si pemanggil. Ah, Shania terperangah karena yang menelpon ibunya Tom.


"Iya tante, Aku baru saja terbangun" Shania berusaha duduk dan bersandar ke dashboar ranjang. "Ada apa tante menghubungiku pagi sekali?" tanya Shania sopan.


"Tante hanya khawatir padamu Shan, Tom sudah menceritakan semuanya"


Shania menghela nafas, sadar akan apa yang dibicarakan tante Linda, Ia memilih mengambil nafas lebih banyak, bukan apa-apa, hatinya belum sepenuhnya sembuh. Ia bisa saja menangis jika membahas mengenai dirinya dan Tom yang tak lebih hanya sebagai adik dan kakak dari sudut pandang Tom. Dan wanita yang menelponnya ini, Shania pernah membayangkan kalau dia benar-benar jadi menantunya.


"Hm, Masalah itu. Aku tidak apa tante. Tom sudah menjelaskan padaku. Aku menerima dan memaafkannya"


"Shan, tante tidak bisa bicara banyak, karena ini tentang kalian. Tante hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja dan ingin Tom menyikapi semua ini dengan benar! Tante senang mendengar kamu berhati lapang menerima keputusan Tom yang mungkin menyakitimu" Suara tante Linda terdengar khawatir, Shania tau itu. Ia bisa merasakannya. Bukan sebulan dua bulan ia mengenal keluarga Tom, cukup lama. Jadi, dia mengenal dengan baik masing-masing sikap mereka.


"Iya tante. Aku menerima semua keputusan Tom. Tak ada yang berubah, aku masih menyayangi tante!" Kata Shania dengan tulusnya.


Setelah cukup lama berbincang dan mengobrol membicarakan banyak hal tante Linda menyudahi teleponnya. Ada urusan lain yang harus ia kerjakan. Ibu Tom itu berpesan agar Shania selalu menjaga kesehatan dan semoga segera mendapatkan lelaki yang lebih baik dari anaknya.


Shania bangkit dari kasurnya, berjalan ke arah ruang tengah yang dipenuhi suara berisik TV, Ada Jere disana, Anak itu terlihat berantakan dengan tidur posisi telungkup dan kaki yang sudah terjatuh ke lantai. Shania mematikan TV lalu membangunkan Jere.


Setelah beberapa kali membangunkan Jere, Shania menyerah. Sepertinya Jere benar-benar tak ingin bangun. Gadis muda itu memilih merapikan kamarnya dan membersihkan diri, lalu kemudian membuat sarapan. Ia berencana tetap masuk bekerja hari ini, walaupun kepalanya masih terasa berat. Tak apa, Shania suka di kantor dari pada di rumah seorang diri.


"Kau sudah sehat?" Jere tiba menghampiri Shania, memeriksa jidat Shania memastikan tidak panas seperti semalam lagi


"Aku baik. Jangan khawatir" Gadis muda itu sedang mengoles selai pada rotinya.


"Kau demam, kau mengigau, kau bahkan tak sadar ketika ku bangunkan! lalu kau menyuruhku jangan khawatir?" Jere memprotes ucapan Shania, wajahnya terlihat sangat berantakan karena baru bangun tidur. Belum sempat mencuci muka, tadi ia langsung menuju dapur dimana ia mendengar suara dentingan piring dan sendok pertanda Shania sedang sibuk dengan aktivitasnya. Ia ingin mencegah wanita ini agar tak berkegiatan banyak dulu.


"Kau terlihat buruk jika mengomel" Sindir Shania.


"Ambil lah cuti. Kau harus memperhatikan kesehatanmu" Pinta Jere kemudian.


"Lebih baik kau mandi, ada beberapa baju ku bisa kau pakai" Ucap Shania tak menghiraukan perkataan Jere.


"Shan, mengapa kau tak pernah mendengarkan aku?" Tanya Jere lagi, kali ini suaranya merendah dan berubah serius. Shania menatapnya tapi tak menjawab, Ia sibuk mengunyah potongan roti yang masuk ke mulutnya.


"Jangan pura-pura tuli Shan" Ucap Jere.


"Lalu apa Jer? aku diam di rumah menuruti perintahmu? Betapa menyedihkannya aku jika seperti itu"


"Bukan masalah menyedihkan atau tidak. Kau sakit Shan, jangan terus memaksa diri, apa salahnya kau istirahat dulu beberapa hari" Pinta Jere, lelaki itu hampir saja menangis melihat Shania di hadapannya sudah menahan air mata mati-matian, Ia tahu Shania begitu rapuh, bukan hanya fisik, tapi mentalnya, semua kejadian dalam hidup Shania membuatnya batinnya terpukul berkali-kali lipat. Jika ia terlihat kuat, itu topeng. Shania bahkan lebih rapuh dari serapuh-rapuhnya orang yang pernah Jere kenal.


"Aku bisa menjaga diriku. Tak perlu mencampuri urusanku!" Jawab Shania ketus. Ia mengingkari rasa peduli yang ditunjukkan Jere, pria muda ini memang selalu peduli padanya, tapi Shania tak mau bergantung, selagi ia bisa, ia akan melakukan apapun sendiri.


"Kau selau menjadi urusanku!" Pria itu berlalu tanpa meminta jawaban Shania.


Sambil merenung, Shania meneguk minumannya. Jika di pikirkan kembali, Hubungannya dan Jere lebih dari seorang kekasih, sejak dulu, Jere lah yang selalu ada untuknya, menemaninya melalui berbagai persoalan hidup ini. Tapi rasanya menjadi aneh akhir-akhir ini, dimana Shania merasa Jere terlalu mengaturnya, Apa Shania menyadari sesuatu? ah dia takut menyimpulkan.


Jika boleh jujur, sebenarnya Shania akan lebih sakit jika pria bernama Jeremy itu hilang dari hidupnya, tetapi mulutnya tak pernah bisa dengan mudah mengakui itu. Ia lebih memilih berdebat dan adu mulut daripada memuji Jere yang membuat lelaki itu bertanduk nantinya, sulit dijelaskan bagaimana artinya seorang Jere bagi Shania.


"Aku sudah memberitahu Irene agar mencabut SK dan kontrakmu!" Jere muncul tiba-tiba. rupanya ia menelpon Irene. "Kau tak diizinkan bekerja hingga kontrak itu disetujui kembali"


"Kau ingin aku bagaimana?"


...***...