
Karena ulahnya kemarin, Jere benar-benar dikeluarkan sementara dari project selama sebulan ini, bukan hanya dia tetapi Deano, rekannya baku hantam hingga membuat wajahnya memar-memar seperti sekarang.
Sudah jam 9 pagi, tapi tak ada tanda-tanda Jere akan bangun, ia masih nyaman meringkuk dibawah selimut tebalnya, deruan nafas teratur serta sapaan cahaya matahari menelisik masuk mengisi ruangan yang tak seberapa megah itu.
Tak ada yang membangunkan Jere, sepertinya kedua orang tuanya telah berangkat ke kantor, begitupun dengan Irene. Hanya ada bi Asih dan maid-maid lain yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Bukan tidur, Jere malas untuk bangun. Malas sekali memulai harinya yang kali ini menurutnya tak menarik, Ia ingin tidur saja, meskipun sebenarnya dia sudah terbangun.
Tok tok tok
Pintu di ketuk beberapa kali, Jere meregangkan otot-otot kakunya, lalu setengah terpaksa ia bangkit dan berjalan untuk membuka pintu.
"Jer, tuan Jimmy meminta saya untuk menjemput kamu. Bersiaplah acaranya bertepatan dengan jam makan siang!" Ucap pria paruh baya yang menjadi asisten Jimmy, pria itu adalah Dave lelaki yang digantikan oleh Irene.
Jere tak menjawab apapun, ia mengangguk dengan pasrah. Meski pun setengah hati, ia memutuskan untuk hadir di acara kantor pusat yang diadakan siang ini, Mungkin ada berita penting yang akan di sampaikan Jimmy menyangkut dirinya hingga harus mengundangnya juga bahkan Dave diperintah untuk menjemputnya. Tak biasanya.
Setengah perjalanan ketika menuju kantor sang papa, Jere menerima panggilan telepon dari nomor tak dikenal.
"Hallo"
"Kak, ini aku. Aku di terimaaaaaa!" Teriak suara dari panggilan telepon itu hingga Jere spontan menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.
"Ah, Jean?" Ucap Jere menyadari siapa pemilik suara "Suara mu keras sekali, apa kau sesenang itu?" tanyanya merasa terusik mendengar suara itu, Jean adik Jere memang masih menempuh pendidikan menengah semester akhir dan sekolahnya merekomendasikan Jean untuk mengambil beasiswa di salah satu Universitas terbaik di Inggris, dan itu berhasil. Jean mendapatkan hal itu sesuai keinginan dan kapasitas otaknya, yang memang mewarisi orangtuanya.
"Hmm, how about you?"
"Aku bahkan sedih, sedih karena kita akan berpisah!" Ucap Jere sambil tertawa, jawaban klise yang membuat Jean ikut tersenyum di kejauhan sana.
"Jangan lebay kak, biasanya juga kita pisah. I want to tell mom and dad but they can't be reached"
"Papa sedang ada acara penting siang ini, mama mungkin juga kesana"
"Pantes. Sampai nanti kak! Ponselku ketinggalan, so i use my friend phone"
Telepon terputus. Jere menyimpan ponsel di kantong jasnya, seutas senyum terukir diwajahnya, Dia merasa sangat bangga pada sang adik, Meskipun dia dan Jean jarang bersama, tetapi ia sangat menyayangi adik semata wayangnya itu.
Baru saja ia menyimpan ponsel, benda elektronik itu kembali berbunyi nyaring. Liam?
"Hmm?"
"Hamm hemm hamm hemm, batuk?" Suara dari ponsel itu menggoda Jere.
"Come on, Ada apa?" tanya Jere malas.
"Aku sedang di cafe dekat studio, kemari lah" Ajak Liam.
"Tak bisa! Aku ada acara sama papa, tumben kau kesana?" Tanya Jere penasaran pasalnya letak kantor Liam berjauhan dari studio tempat Jere melakukan pemotretan, tak mungkin hanya kebetulan jika ia hanya makan disana.
"Ha iya, kebetulan aku sedang ada urusan disini!" ucapnya
"Lain kali saja"
Liam pun mengakhiri panggilan dan Jere sudah tiba di kantor pusat Davies.
Sementara di tempat lain, Shania bersama seorang temannya baru saja tiba disebuah restoran mini nan aestetic. Lora teman semasa sekolah Shania baru tiba di Jakarta tadi pagi, ia menghubungi Shania agar membantunya karena wanita itu mendapat panggilan interview disalah satu perusahaan secara mendadak.
Dan sebagai imbalannya, Lora berjanji akan mentraktir Shania makan disebuah cafe yang mereka lewati ketika hendak pulang.
Itu juga yang menjadikan alasan Shania bergerak cepat ikut memasukkan lamaran ke perusahaan yang sama dengan Lora karena memang waktu lowongan belum di tutup.
"Semoga kamu juga Shan!"
Lalu mereka mengobrol ria dan tertawa melepas kerinduan setelah beberapa tahun tak bertemu, lama waktu berselang beberapa makanan yang mereka pesan sudah habis. Mereka pun sudah kehilangan topik pembicaraan untuk mengobrol.
"Akan hujan lebat, apa sebaiknya kita pulang?" Shania memandang lekat pada langit yang gelapnya seperti malam.
"Santai saja, lagi pula ini cafe tutupnya malam" Lora menjawab santai, bahkan dia sedang memesan beberapa makanan lagi.
"Ayo kita senang-senang dulu"
Shania mengangguk, ia mengiyakan ucapan Lora. Berada dirumah juga untuk apa? Lagipula ia tidak mau bertemu Jere, lelaki itu pasti akan menganggu Shania meskipun ia telah mengatakan tak ingin diganggu.
Menjelang malam mereka bersantai disana dan diluar hujan sudah mulai berangsur reda, hanya gerimis kecil yang jatuh perlahan menghasilkan ombak-ombak kecil menimpa genangan-genangan air, Shania dan Lora bersiap untuk membayar namun pesanan mereka ternyata sudah dibayar oleh seseorang yang tak diketahui.
Shania dan Lora saling pandang, lalu menoleh ke meja mereka yang dipenuhi piring, gelas dan botol minuman begitu banyak. Sejurus kemudian mereka bersorak dan saling berpelukan, akhirnya mereka makan secara gratis.
Sejurus kemudian mereka berhenti tertawa "Siapa yang membayarnya?" Shania masih bingung seakan tak percaya.
Lora menggeleng, namun ia kembali tertawa "Rezeki, do you know rezeki?" tanyanya masih tertawa mengacak rambut Shania, girang sekaligus bingung.
Sesuai keterangan kasir, seseorang telah membayar lunas apapun yang sudah dan akan mereka pesan, tak tanggung-tanggung seseorang itu juga membayar makanan dan minuman untuk Shania dan Lora jika mereka berkunjung kembali ke caffe itu. Dalam arti lain, Kedua gadis ini Gratis jika ingin makan disini dikemudian hari.
"Woahhhh!!" Lora terperangah "Shan, siapa yang melakukan ini pada kita?" Tanyanya.
Shania menggeleng, ia tak bisa menebak. Namun rasanya cukup aneh, siapa yang diam-diam memperhatikan mereka? Apapun itu, Shania menganggap ini semua hanya kebaikan seseorang yang tak akan ia sia-siakan. Jika bertemu, ia akan berterimakasih, bila perlu mengembalikan uangnya. terus terang, Shania merasa tidak nyaman menerima kebaikan secara samar seperti ini.
Acara perusahaan Davies telah usai, Tak ada yang penting bagi Jere disana, Ia hanya menghadiri acara karena formalitas sebagai pemilik saham perusahaan itu. Setelah acara berakhir, ia di datangi Yura. Wanita itu sengaja menemui Jere seraya menyerahkan undangan pernikahannya dengan laki-laki berinisial J, inisial yang sangat menganggu Jere.
"Kau akan menikah?" tanya Jere berbasa basi.
"Iya, Aku ingin kau datang"
"Selamat!" Ucap Jere dingin "Aku akan datang bersama pacarku" lanjutnya.
"Benarkah?" Yura bertanya seakan tak percaya akan kalimat yang ia dengar sementara Jere tampak acuh "Ku tunggu!" Yura begitu santai mengucapkan kata-kata itu, wanita itu tersenyum lalu pergi meninggalkan Jere.
Anak itu membuka kartu undangan itu, desainnya cantik dan mewah dengan beberapa tulisan hangeul korea disana, warna maroon dan gold begitu menawan, tapi bukan itu yang menjadi perhatian Jere, ia penasaran siapa inisial J yang di rumorkan.
The Wedding "Kim Yura & Jack Hartanto"
Hmm, Jeremy tersenyum sumbang. Ia sadar dirinya begitu naif, mana mungkin Yura menikah dengannya, wanita itu terlalu senior untuknya yang masih lugu, setidaknya itulah yang selalu di ucapkan Yura dulu.
Inisial J? bisa-bisanya Jere menganggap Yura mengada-ngada dengan menggiring opini publik bahwa J itu Jere, ah Jere kembali menggelengkan kepala. Benar, dia dan Yura hanya pacar pura-pura, bahkan status mantan tak pantas dilekatkan padanya.
Hmmm...
Beberapa saat kemudian ia menerima pesan dari Tom, bahwa acara pernikahan Tom dan Stella minggu depan.
"Kenapa semua orang akan menikah?" gumam Jere menggelengkan kepala.
Jere mengernyitkan dahinya, Shania. Ia butuh Shania.
...----...