
Shania melangkahkan kaki menuju jembatan pantai yang memanjang ke tengah laut, tempat yang lumayan jauh dari kejadian yang mematahkan hatinya tadi.
Tak banyak orang disini, sepi. Ia duduk di ujung jembatan, menatap sayup ke deburan ombak yang perlahan mendekat. Dan diatasnya, sang surya bersinar redup, seakan ingin menemani kepiluan hatinya. Shania sakit, sangat sakit tapi ia tak menangis, Entah mengapa ia susah sekali menangis, padahal saat ini dadanya sangat sesak. mungkin karena terlalu banyak kejadian pahit yang dialami membuatnya terbiasa untuk tidak selalu menangis, meski pun sebenarnya dia ingin.
Shania termenung, mengingat semua hal yang pernah dilalui bersama Tom. lelaki itu begitu lembut dan penyayang, tak pernah sedikit pun hal buruk diperbuatnya untuk merusak rasa cinta Shania padanya, tapi hari ini semesta seakan membongkar aib yang disembunyikan Tom di balik sikap anehnya belakangan ini.
Shania berusaha tersenyum, sedikit sadar. Bahwa ia lah yang terlalu bodoh, harusnya Shania menyadari ini semua lebih cepat, ia tak perlu berharap banyak lagi. Biarkan Tom bahagia dengan pilihannya..
"Tak perlu di tahan" suara nyaring itu membuat Shania menoleh, pemilik suara mendekat dan duduk di samping dirinya.
"Apa aku terlihat sangat menyedihkan?" Shania kembali menatap lautan, dengan senyuman yang selalu menawan, tapi tidak bagi Jeremy. wanita ini tersenyum bagai menusukkan pisau di jantungnya, ia tersenyum tapi tatapan matanya tak bisa berbohong, ia sedang menahan sakit hatinya.
"Menangislah bila kau ingin" Jeremy membawa Shania dalam pelukannya, memberikan bahunya sebagai sandaran bagi kerapuhan Shania.
Shania diam, senyumannya buyar. betul ucapan Jeremy, ia ingin menangis.
"Aku akan menemanimu menangis" Hati Shania semakin sesak mendengar ucapan Jere, ia terbuai. dan ia pun menangis sejadi-jadinya menumpahkan segenap sakit di dadanya yang ia tahan dari tadi. Ia berusaha kuat, tapi tak sekuat yang ia harapkan, Dia hanya wanita biasa. Dia rapuh.
Jeremy mengeratkan pelukan, mengusap lembut punggung Shania dengan penuh kasih sayang, ini menenangkan.
Jere tak bicara apapun, ia bukan lah orang yang mengerti urusan cinta. Ia tak mau menggurui atau menasehati Shania tentang hati dan perasaan yang ia sendiri tidak punya. Ia tidak begitu tahu rasanya di khianati kekasih seperti Shania, Ia hanya ingin Shania tenang, dan bisa kembali tersenyum seperti semula.
Hingga beberapa menit kemudian, Shania diam. ia tak menangis lagi, hanya terdengar suara sesegukan akibat ia menangis terlalu keras.
Jeremy merenggangkan dekapannya, menatap manik mata Shania yang basah oleh airmata, ia kemudian mengusap pipi Shania. tersenyum, lalu memeluknya kembali.
"Jer.." Shania berucap berat, Jere menjawab dengan deheman.
"Bagaimana menurutmu Tom? Dia sepertinya sangat tulus kepada Stella" Ucap Shania menengadah, ia ingin mendengar jawaban Jeremy,
"Entah lah. Aku sendiri tidak tahu bagaimana mencintai seseorang" Jawab Jeremy dengan jujur, Ia tidak tahu bagaimana perasaan cinta itu sesungguhnya.
"Aku yang terlalu banyak berharap" Shania melepaskan pelukan, menghapus airmatanya sendiri lalu berusaha tersenyum "Mungkin aku yang terlalu polos. Aku mencintainya dengan sepenuh hati, tapi Tom hanya setengah hati, bahkan mungkin seperempat" Ucapnya menghibur diri.
"Dia sangat keterlaluan, sudah membohongiku selama setahun. Dan bodohnya aku tak pernah mencari tahu dan curiga padanya"
"Kau tidak bodoh, hanya saja kau salah orang" Ucap Jeremy merapikan rambut Shania, mengambil kunciran di tangan Shania, lalu mengikatnya longgar.
"Aku tahu selama kita berteman kau sangat mencintai Tom. Kau tulus padanya. Sementara Tom mungkin mencintaimu dan Stella secara bersamaan, Ia memang menyakitimu. Jadi, kau berhak marah padanya. Marah lah sepuasmu, luapkan apa yang ada dalam hatimu"
Shania kembali memeluk Jeremy, untuk kedua kali nya ia menangis, menjatuhkan airmata hingga baju Jeremy basah, menunjukkan betapa rapuhnya seorang Shania. Sementara lelaki itu tersenyum tenang, ia mengusap rambut Shania lembut,
Hingga saat Shania sudah mulai tenang kembali,
Jeremy melepaskan pelukan lebih dulu, menangkup kedua pipi Shania lalu tersenyum, senyuman manis yang terukir dari wajah tampannya.
Ia menatap Shania, begitu cantik dengan kilatan mata yang berair, memancarkan sinar orange karena pantulan sang jingga menerpa kulitnya, anak rambutnya yang beterbangan di terpa angin dan ya Shania tersenyum tipis kepadanya menambah pemandangan indah bagi Jere.
"Setelah ini, lupakan semua Shan. lupakan semua yang menyakitimu" Shania mengangguk, ia kembali memeluk Jeremy, tidak lama. hanya sebentar.
Jere kemudian mengalihkan pandangan pada laut, memandang riak kecil yang bergerak tenang.
"Maaf, aku selalu membuatmu kesal. bahkan hari ini, mungkin jika aku tak mengajakmu kemari. Kau takkan menangis seperti tadi" ucapnya merasa bersalah. sedikit banyak Jeremy menyadari ini semua juga karena ulahnya.
"Dan jika aku tak memenuhi ajakanmu kemari aku takkan pernah tahu apa yang dilakukan Tom di belakangku" Shania berucap dengan tenang, "Aku malah ingin berterimakasih padamu" Ucapnya lagi memegang tangan Jeremy.
"Aku akan mentraktirmu sehabis ini"Sambung Shania, Jeremy tersenyum manis padanya dengan rambut diterpa angin sore. tampan. Shania baru menyadarinya.
Drrrrt ddrrrttt
Ponsel Jere bergetar, Dengan segera ia mengangkatnya.
"Jer, Kau kemana. kenapa lama?" Suara di seberang terdengar kesal. Yura, menunggunya.
"Aku tidak jadi bergabung, kalian saja. Have fun ya" Jeremy memutuskan panggilan lalu menonaktifkan hp nya langsung,
"Setelah ini kamu ingin apa? aku akan memenuhinya?" Tanya Jeremy pada Shania, dan wanita itu tersenyum lagi kemudian menjawab.
"Aku ingin disini saja sampai nanti"
"Baiklah. Aku akan menemanimu. Tapi tunggu disini sebentar. aku akan membeli sesuatu untuk kita"
"Mau yang coklat apa vanila?"
...***...