I Think, I Love You

I Think, I Love You
Sakit



Sudah seminggu berlalu pasca kejadian itu, Shania selalu merasa ada ruang kosong di hidupnya. tidak mudah menerima kenyataan orang yang disayangi bertahun-tahun ternyata bermain di belakangnya, mengkhianatinya, menusuk sembilu ke hatinya menyisakan luka pedih yang ntah kapan akan sembuh.


Tapi dia Shania, dia selalu bisa membawa diri dalam pergaulan, menutupi lukanya dan menjalani hari-hari sebagaimana biasanya, jika Tom bisa tanpanya, maka dia juga harus bisa tanpa lelaki itu, pikirnya.


Sudah seminggu ini pula, Tom selalu datang ke apartemennya bahkan ke kantornya, tapi Shania tak pernah mau bertemu dengannya. Rasanya Shania tak ingin lagi berurusan apapun dengan Tom, biarlah dia dianggap tidak tahu terimakasih, atau wanita yang tak tau diri karena begitu saja menolak kehadiran Tom, tapi siapa peduli? bahkan lelaki itu yang membuat penyakit hati yang selama ini Shania belum pernah rasakan, dengan gampangnya ia ingin bertemu lagi? untuk apa?


"hmm untuk apa lagi dia menemuiku?" Gumam Shania mengelus dada merasa lega setelah duduk di kursi penumpang bus, ia menyelinap keluar apartemen saat melihat Tom berjalan memasuki area apartemennya menuju unit miliknya,


Ia ingin lupa, bahkan lupa semua perasaan yang pernah ia curahkan pada Tom, menguburnya dalam-dalam, membuangnya jauh-jauh. Tom sudah memiliki kekasih yang lebih ia cintai di banding Shania, dan Shania bisa menyaksikan hal itu dari sorot mata Tom, itu lah alasan kuat Shania tak ingin menganggu hubungan mereka lagi, meskipun dari hati kecilnya ia ingin menuntut balas sakit hati ini, tapi ketulusan tatapan Tom pada Stella membuatnya rubuh dan ambruk lalu mengalah untuk mereka.


Bus berjalan perlahan meninggalkan halte, Shania memandang ke tower menjulang apartemennya, mungkin saat ini Tom sedang mengetuk-ngetuk pintu dan meneriakkan namanya agar mau membuka pintu, mungkin juga menghubungi nomor Shania berkali-kali, tapi Shania sudah mengganti nomornya.


Ia menghembuskan nafas dalam-dalam, mengalihkan pandangan pada dedaunan hijau dan cekungan air di pinggir jalan, udara pagi ini sangat sejuk dan segar semalam ujan lebat di sertai petir,


30 menit berlalu, Shania tiba di kantornya, masih pagi. teman-temannya belum ada yang datang, dengan langkah teratur ia menuju mejanya, mengeluarkan botol minum dan kotak makannya lalu sarapan, Setelah selesai ia memulai aktivitasnya, hari ini ia akan mengerjakan sketsa pakaian yang akan di keluarkan sebagai produk jadi beberapa bulan lagi oleh perusahaan, tenang, fokus itulah yang dilakukan Shania, ia sangat mahir di bidang ini, sehingga ia bisa mencari uang dengan kemampuannya ini yang belum tentu dimiliki orang lain, dan itulah hal yang paling ia syukuri.


"Shan, kamu pagi banget" sapa salah seorang temannya ketika memasuki ruangan, Shania hanya tersenyum lalu melanjutkan kembali aktivitasnya.


Jarum jam terus berdetak, sekarang seisi ruangan sedang sibuk dengan tugas mereka masing-masing, begitupun dengan Shania, bahkan ia melewatkan jam makan siangnya karena gambarnya tak kunjung selesai, biasanya ia dengan mudah menyelesaikannya, tapi kali ini pikirannya terganggu oleh Tom yang mengirimkan surat melalui temannya, dalam surat itu ia ingin bertemu sekali lagi dengan Shania, nanti malam, di tempat biasa mereka bertemu... argghh


"Sebenarnya apa yang ingin dia katakan lagi? segitu merasa bersalahkah hingga seperti penagih hutang datang setiap hari ingin menemuiku?" Shania terus bergelut dengan pikirannya, tapi baiklah. Untuk menyudahi semuanya, Shania menyanggupi ajakan tersebut.


Shania memijat pelipisnya yang terasa berdenyut, lalu meletakkan kepalanya di meja berbantalkan kedua tangannya, ntah lah. Tom masih saja menyita pikirannya.


"Shan? are you okay?" tanya Seno dari meja dibelakangnya,


"Hmm, im fine, hanya sedikit mengantuk" jawabnya, Seno pun mengangguk, ia pun merasa begitu pada jam-jam siang seperti sekarang.


"Ehemmm..." Suara sedikit parau berdehem dekat kuping Shania, membuatnya reflek mengangkat wajah,takut saja jika itu bosnya Pak Dave.


"Ngapain kamu disini?" Shania menghela nafas malas melihat sosok lelaki di hadapannya, bukan apa-apa, ini akan menjadi gosip baru jika ia di datangi dan ternyata dekat dengan anak pemilik perusahaan ini, apalagi beberapa pasang mata saat ini tak lepas dari mereka.


"Aku ada pemotretan, jadi mampir kesini" ucapnya santai seraya duduk santai dimeja kerja Shania, sontak saja Shania memukul bokong pria itu agar segera berdiri kembali.


"Jer, ini kantorku. ini tempatku kerja. pergi lah sebelum jadi bahan gosip orang-orang" Ucap Shania mendekatkan wajah dan sedikit berbisik memberi penekanan.


"Mereka semua kenal aku kok" jawabnya tetap santai "Hey, kalian fokuslah bekerja nanti ku traktir makan di resto seberang" ucapnya pada semua orang, dan semua orang yang ada diruangan itu bersorak.


"Kau tak bisa dihubungi, padahal mama menyuruhmu datang kemarin" Ucapnya kemudian, beralih pada wajah kesal Shania.


Shania mengernyit, "Tante Eve kenapa?"


"Ulang tahun. Ada Yura datang dan kau tahu apa parahnya? Yura menolak putus dan meminta melanjutkan hubungan hingga menikah" Jeremy berpangku tangan dan bercerita tanpa memperhatikan sekitar. mulutnya loss begitu saja.


Shania gelisah, ia tak menyimak dengan baik apa yang dikatakan Jeremy, ia benar-benar merasa tidak enak pada teman-teman kantornya, apalagi tatapan tajam Rara dipojok ruangan yang seakan memperhatikan mereka dan tidak terima.


"Jer, keluarlah. aku tak enak pada mereka" Pinta Shania mendorong tubuh Jeremy agar segera menjauh.


"Ya udah, Ayo..!" Jere mengambil tangan Shania "Guys aku bawa Shania sebentar ya," Jeremy menarik tangan Shania dan meninggalkan ruangan,


"Dimana kenalnya tu anak?" teman-teman Shania yang lain mulai bisik-bisik.


"Hoki, ternyata kenalannya orang dalam"


"Kau panas Shan?" tanya Jeremy ketika tiba di ruangan bos Shania ia melepas genggaman tangannya, kemudian mengecek suhu kening Shania, ya panas


Shania menggeleng, lalu mengabsen ruangan, tak ada bosnya. "Kemana pak Dave?"


"Dia ada urusan sama papa" Jawab pria itu seraya membuka tirai besar yang menjuntai di ruangan itu agar cahaya masuk. "Kau belum jawab, kenapa kau bisa tak sadar kau sakit? suhu badanmu bahkan sangat panas"


Mendengar jawaban Jere, Shania membuang nafas kasar. lalu berjalan gontai mendekati sofa.


"Aku akan menemui Tom nanti malam" Shania duduk lemas mengabaikan pertanyaan dan kekhawatiran Jeremy akan dirinya,


"Lalu?" Jeremy ikut duduk disampingnya,


"Aku ingin mendengar saja apa yang akan ia sampaikan supaya aku tidak terus di ganggu" Shania bersandar disofa lalu memejamkan matanya, kepalanya terasa semakin berat.


"O.. Okee" Jeremy mengangguk mengerti "Kau belum merelakannya kan? lelaki seperti dia masih aja kau pikirkan, buang-buang waktu"


"Kau takkan mengerti, karena kau tak tahu rasanya mencintai. percuma bicara denganmu" ketus Shania dengan wajah malas,


"Ok, aku memang tidak tahu rasanya. Aku diam" Jeremy mengiyakan ucapan Shania, bagaimanapun juga perasaan Shania sangat dalam pada Tom, dan Jeremy tau hal itu.


"Kepalaku pusing sekali," Shania menengadah ke sandaran sofa dan memijit jidatnya pelan. Ia masih membayangkan penjelasan apa yang akan ia dengar nanti malam, apapun itu ia berharap hatinya lebih tenang.


"Kau belum minum obatkan?, sebentar aku mencari obat Dave disini" Jeremy mencari obat di laci kerja Dave, lelaki yang menjadi tangan kanan ayahnya dan selaku bos Shania itu biasanya selalu menyimpan obat di lacinya,


lalu pria berprofesi sebagai model itu mengambil segelas air putih dan memberikan pada Shania.


"Jika tak kunjung membaik kita ke dokter ya" ujarnya setelah mengambil gelas air putih dari tangan Shania.


"Tadinya aku mau cerita banyak hal. eh tapi kamu teler gini" Dengus Jere menopang tangannya memandangi Shania, dan wanita itu tak menjawab meskipun ia mendengarnya.


Lama waktu berselang, Shania diam, matanya masih terpejam, Jeremy memainkan ponselnya untuk mengusir rasa bosan. Dia hanya berharap Shania bisa istirahat agar cepat pulih, tadinya ia datang ingin becerita tentang kisahnya dan Yura, tapi malah Shania sakit.


Tiba-tiba Shania membuka suara, mengigau tepatnya, seperti yang biasa dilihat Jeremy, tapi kali ini bukan tentang orang tuanya, tentang lelaki brengsek yang menyelingkuhi Shania.


"Aku sekarang sendiri tanpa Tom, menurutmu akan bagaimana hidupku?"


"Shhhht, aku malas kau membahas ini, Tom terus Tom lagi, sudah jelas-jelas dia menyakitimu. lupakan saja apa susahnya!" gerutu Jeremy kesal melihat kondisi Shania sakit tapi masih berpikiran tentang Tom.


"Bukankah masih ada aku? mama dan papa yang siap nerima kamu kalau ada apa-apa?"


Tak menjawab lagi, Shania membuka mata perlahan menatap Jeremy dengan pandangan buas, terlihat linglung tapi sorot matanya terlihat aneh..


"Kenapa panas sekali" ucapnya tak melepas pandangan dari Jeremy.


"Kenapa?" raut wajah Jeremy yang tadi kesal berubah bingung dan panik,


Shania terus menatap Jere, sulit diartikan, bahkan bulu kuduk Jere terasa merinding mendapat tatapan itu, Jere segera mengambil sikap membawa ke rumah sakit, takut saja Shania kena gangguan mental, psikis hingga dia berubah aneh seperti sekarang.


"Kita ke dokter sekarang, sepertinya sakitmu semakin parah" Ajaknya seraya memegang tangan Shania agar segera bangkit, tentu saja sudah terjadi apa-apa pada Shania, karena ini aneh bahkan sangat aneh.


Shania tak mengucapkan apapun, ia mendorong Jeremy hingga terpental ke sofa seberang, kemudian ia menarik kancing kemejanya secara paksa karena merasa sangat panas, hingga bajunya tak karuan dan....


"Shan, kau kenapa hey?"


...****...