
Shania duduk di kursi pantai yang sudah di sediakan, wajahnya sangat tak bersahabat. Ia merasa Jere benar-benar mengerjainya, Mengajak ke pantai, lalu? membiarkan Shania seorang diri, sementara ia sibuk dengan kerjaannya, lebih baik dia tidur hingga sore hari tadi.
"Untuk apa repot-repot mengajakku kesini, bahkan memberi libur segala, Orang aneh" rungutnya menendang-nendang pasir dengan kakinya.
"Nih, minum" Jeremy tiba dengan sekaleng minuman segar di tangannya, bajunya sudah berganti, seperti awal mereka berangkat.
Shania mengambil minum itu, membuka, lalu meminumnya. lalu melemparkan kaleng kosong itu pada Jeremy mengenai dadanya, hingga yang punya mengaduh kesakitan.
"What Happened?" tanyanya heran.
"Kau gila, mengajakku kesini hanya jadi nyamuk di antara kesibukanmu, menunggu tak jelas. Sampe harus membuatku libur dari kantor, Liburan semacam apa ini?"
"Shan, kan kamu bisa nikmatin pemandangan yang indah ini sendiri. Apa harus dengan aku? berlarian? bergandengan tangan? romantisan?" Tanyanya menaik turun kan alis menggoda Shania.
"Gak gitu konsepnya. Aku dari awal udah bilang gak mau. Tapi kamu maksa, sampe ngasih libur segala. Ya aku ikut, sampe sini ternyata di kacangin"
Jeremy menggaruk kepalanya, Sebenarnya ia berniat memberi waktu pada Shania untuk bisa menikmati kesendiriannya, mungkin dia penat karena pekerjaan. Beberapa waktu lalu Jeremy melihat Shania sangat rapuh, jadi dia tersentuh untuk membantu Shania lebih jauh lagi. tapi sepertinya caranya tidak tepat. Shania bukannya senang, malah semakin bete seperti ini.
"Shan, Apa kau sudah tidak mengigau lagi?" tanya Jeremy kemudian, mengalihkan topik jika ia sudah tak bisa menjawab perkataan Shania.
"Tidak, aku baik"
"Sayangg-------"
Dan.... Yes, Yura datang bersama kedua temannya, entah dari darimana Shania dan Jeremy tidak tahu, ia menghampiri Jeremy, lalu seperti biasa, merangkul dan mencium pipi Jeremy, tapi kali ini ada perbedaan, Jere tak membalas ciuman itu.
"Jer, Aku tahu kamu disini. Hasilnya bagus, Dan brand itu sudah di akuisisi perusahaan papa"
"Lalu apa hubungannya denganmu?" tanya Jeremy datar, terkesan tak mengharapkan kehadiran Yura.
"Karena ini pantai dan kebetulan aku senggang, jadi kita triple date" Ucapnya sumringah seraya menunjuk dua orang pria yang sudah menunggu di bibir pantai, mungkin itu psangan kedua temannya ini.
Shania berdehem, wajahnya semakin kesal menatap Jeremy. Dipastikan ia takkan pernah lagi menemani Jeremy jika harus seperti ini, Ia mengambil tas dan beranjak pergi tanpa mengatakan apapun.
"Shannn......!!" Jeremy memanggil Shania, tapi tak di hiraukan wanita itu.
"Yura, Aku harus bicara pada Shania agar dia pulang lebih dulu" Ucap Jere pada Yura, lalu berlari mengejar Shania di sekujur bibir pantai, ia berjalan cepat, melewati kerumunan orang yang berlibur hari ini.
"Shannn.. tunggu.., Ku antar kau pulang" Jeremy berhasil mengejar Shania, menghadang dan membentangkan tangan.
Tapi Shania memandangnya malas, ia menepis tangan Jeremy dan melewatinya begitu saja dengan langkah lebar. sangat cepat.
"Shann... Pakai mobilku saja. jika kau tak mau diantar" Shania tak mempedulikan, "arghh anak itu" rutuk Jeremy.
Shania merungut dalam diam, Marah? jelas ia sangat marah. Tapi untuk apa marah? Yura juga pacarnya Jeremy, dan aishhh Jeremy lah yang membuatnya kesal. sangat kesal.
Hingga ia tertegun..
Netra matanya menangkap pemandangan tak biasa di sebuah kursi, tepat dibawah pepohonan rindang tepian pantai.
Duduk, Berpelukan dan lelaki itu memeluk wanitanya sangat erat, teramat dekat seperti saling mendekap seakan tak ingin terlepas.
Thomas Rahardja
Lelaki itu disana, memeluk wanita entah siapa, mencium keningnya dan... mendekap begitu erat seolah takut kehilangan.
Melupakan sosok lain yang berstatus kekasihnya, Shania...
Shania berjalan mendekat, memastikan sekali lagi apa yang dilihatnya tidak salah.
"Sh--shaniaa..." Tom terkesiap, refleks ia melepaskan pelukannya saat melihat Shania tengah berdiri di hadapannya. Dan dibelakang wanita itu telah berdiri Jeremy dengan nafas terengah-engah mengejar Shania.
"Kenapa kau disini?" tanya Tom gugup, dan Shania mengernyit.
"Berlibur. Lalu, sedang apa kau disini?" Shania balik bertanya,
Tom merutuk, tak seharusnya ia datang kemari, sementara ia tahu pantai adalah tempat yang sangat diinginkan Shania untuk mereka datangi, Bahkan ia sudah dua kali membatalkan janji akan berlibur kemari.
"Jadi, Ada yang ingin kau jelaskan?" tanya Shania tenang dengan pandangan meredup, Ia sudah sangat kecewa melihat penampakan tadi, tapi hati kecilnya masih bisa toleransi untuk mendengar penjelasan Tom. segitu cintanya dia...
Mata bulat Shania menelisik sosok wanita di belakang Tom, rambut panjang dan hitam, bulu mata lentik, Dirinya hanya menunduk. Tom mengikuti arah pandang Shania, Ia menarik nafas dalam lalu meraih tangan wanita itu agar berdiri disampingnya.
Tom menggenggam tangan wanita itu, mengelusnya seakan memastikan semua akan baik-baik saja.
Mereka maju beberapa langkah, mendekati Shania berdiri.
"Dia Stella, Dia....... " Tom kembali menarik nafasnya, mengumpulkan energi untuk mengungkapkan kalimat yang akan di ucapkan
"Dia... kekasihku"
Dan Shania ia merasa dunianya hancur saat itu juga. runtuh dan luluh lantak di hantam kalimat yang baru saja di dengarnya.
Tapi...
Sekali lagi, ia melawan logika pikirannya, dia masih mencari kebohongan dari sorotan mata Tom, namun yang bisa ia lihat hanya kilatan cahaya cinta dari matanya. Cinta.. Stella.. Pancaran mata yang tak pernah Shania lihat saat Tom memandangnya.
Shania mengangguk kaku, ia menelan salivanya kasar lalu menggerakkan kedua bibirnya
"Sejak kapan?"
"Satu tahun" ucap Thomas menatap Shania serius, ia sudah siap dengan segala macam kemungkinan yang akan terjadi nantinya.
Bahu Shania bergetar dan ia ingin menangis saat itu juga, hatinya menjerit. keraguan yang selalu ada di benaknya terbukti saat ini. Thomas Rahardja, lelaki yang selama ini sangat di percayainya dengan segenap hati, sekarang mengecewakannya hingga ke palung hati terdalam, memporak porandakan cinta yang selama ini dijaganya.
Tapi Shania bukan lah wanita lemah, Ia tak menampar atau mengutuk dan menyumpah serapahi Tom maupun Stella. Ia juga tak menangis meraung meminta Tom meninggalkan Stella dan kembali padanya, Shania hanya diam, mengucek matanya yang terasa perih kemudian menghela nafas dalam.
"Baik lah..." Tom termangu mendengar respon tenang Shania, ia sudah memasang dada dan siap menerima pukulan dan serangan fisik yang mungkin akan Shania lakukan.
Shania mendekati Stella, melepas liontin silver yang tergantung di lehernya, Benda yang ia terima dari Tom ketika merayakan ulang tahun Shania dua tahun lalu,
Memberikan benda itu ke dalam genggaman tangan wanita yang diakui Tom sebagai kekasihnya.
"Untukmu, kurasa kau lebih berhak memakainya"
Dan Stella hanya terdiam, kata-kata yang ingin ia ucapkan seolah tersangkut di tenggorokan kala melihat Shania tersenyum tulus padanya dengan mata sedikit berembun. Dadanya bergemuruh, ntah lah tidak tahu, ia tidak bisa mengatakan apapun.
Shania mundur beberapa langkah, kali ini ia menatap Tom yang juga menatapnya dengan tatapan penuh rasa sesal.
"Shann... Aku punya penjelasan, dengarkan -----"
"Tidak sekarang Tom, kau bisa jelaskan lain waktu, dia sedang tidak baik-baik saja, kau bisa tenangkan dia lebih dulu"
Setelah itu Shania berlalu, berjalan tanpa berniat menoleh. Ia tak mau melihat apapun lagi, dadanya sesak dan Ia tidak mau memperlihatkan dirinya yang begitu menyedihkan pada Tom, tidak, ia tidak mau di kasihani lagi nantinya.
Tom hendak mengejar, tapi Jeremy menahan bahunya dengan pandangan tajam. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Jeremy melayangkan kepalan jarinya mengenai wajah Tom, Ia kemudian berlari mengejar Shania meninggalkan Tom yang tersungkur di atas pasir.
"Shann....---"
...***...
...Menyayat hati sekali, huaaðŸ˜ðŸ˜ persis seperti kisah author, sedikit curhat wkwk...